Tuesday, January 27, 2026

Panggung Para Pesolek

Rekomendasi
- Advertisement -

Adu molek aneka satwa klangenan di Indo Pet Expo 2016.

Syafiq’s Dancing Doll cavy juara di kelas rambut pendek.
Syafiq’s Dancing Doll cavy juara di kelas rambut pendek.

Iin Sofjan memutuskan untuk mengadopsi Notte, kucing buangan itu melalui komunitas Grup Peduli Kucing Kampung Liar (GPKKL). Pehobi di Kalibata, Jakarta Selatan itu tekun merawat Notte. Sepekan sekali ia rutin memberi vitamin. Adapun untuk membersihkan kuku dan telinga minimal tiap 2 pekan. Ia mengoleskan minyak ikan dan grooming sebulan sekali, karena Notte adalah kucing rumahan.

Trisno Syafiq (kedua dari kiri) asal Bandung, pemilik cavy juara best in show kontes Indo Pet Expo 2016.
Trisno Syafiq (kedua dari kiri) asal Bandung, pemilik cavy juara best in show kontes Indo Pet Expo 2016.

Di panggung Indo Pet Expo 2016 yang berlangsung di Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kucing 8 bulan itu menjadi yang terbaik di kelas ekor pendek alias bobtail. Di kelas itu Notte menyingkirkan 19 ekor pesaing-pesaingnya. “Saya sangat senang sekali, meskipun Notte adalah kucing domestik tetapi bisa berprestasi,” kata Iin. Kelas ekor pendek pada 23—25 September 2016 itu baru pertama kali di tanahair.

Kelincahan anjing

Menurut juri asal Hongkong, Maggie Kwan, menuturkan, “Untuk kategori bobtail, kucing yang memiliki ekor lebih pendek lebih memenuhi kriteria kucing jawara.” Juri asal Singapura, Zulkifli Daud, mengatakan, kontes di Indonesia itu merupakan ajang internasional pertama. “Salah satu yang kerap dilombakan adalah ras japanese bobtail. Kontes fun kualitas kucing dan grooming di Indonesia sudah sangat bagus,” katanya.

Christian Effendy Putra asal Surabaya, Jawa Timur, pemilik tupai gula atau sugar glider peraih grand champion pada kontes Indo Pet Expo 2016.
Christian Effendy Putra asal Surabaya, Jawa Timur, pemilik tupai gula atau sugar glider peraih grand champion pada kontes Indo Pet Expo 2016.

Indo Pet Expo merupakan agenda tahunan yang menggelar kontes beragam satwa klangenan seperti kucing, anjing, kelinci, dan reptil. Penyelenggara hajatan itu Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Tahun 2016 kali kedua setelah Indo Pet Expo 2015. Selain kontes beragam satwa, panitia juga menggelar pentas bincang atau talk show. Kontes lain yang berlangsung pada hari yang sama adalah kelincahan anjing.

Kontes menari bersama anjing memeriahkan Indo Pet Expo 2016.
Kontes menari bersama anjing memeriahkan Indo Pet Expo 2016.

Menurut Robert Irawan, ketua panitia kontes dari Komunitas Agiliti Indonesia kontes untuk memeriahkan Indo Pet Expo. Setidaknya 11 anjing dari seluruh tanahair ikut berpartisipasi. “Kontes kelincahan masih baru di tanahair, tetapi lazim di luar negeri,” kata Irawan. Pada kontes itu, Brutus anjing ras kintamani berhasil unggul nyaris di tiap kelas bergengsi, yakni agility 2, jumping 2, dan jumping 3.

Supriyono menjadi handler anjing sejak 2006.
Supriyono menjadi handler anjing sejak 2006.

Juri kontes, Endah Dwi Palupi, mengatakan bahwa Brutus tampil luar biasa. Anjing 10 tahun itu dan handler Supriyono sangat menyatu dan serasi sehingga berbagai rintangan dilalui dengan mulus. “Keunggulan dari ras kintamani lebih lincah dibandingkan dengan anjing lainnya, lompatannya ringan juga manuvernya baik,” kata Endah. Supriyono harus memperhatikan pola makan.

Brutus, mendapat best in show pada kontes kelincahan anjing pada gelaran Indopet.
Brutus, mendapat best in show pada kontes kelincahan anjing pada gelaran Indopet.

“Jangan terlalu gemuk. Bobot dijaga di kisaran 20 kg. Kelebihan bobot sangat mempengaruhi kelincahan,” kata pehobi sejak 2003 itu. Supriyono mengatur pola makan anjing dengan memberi pakan kering 2 kali sehari tiap pagi dan sore hari. “Sesekali ditambah telur dan madu,” katanya. Handler anjing sejak 2006 itu juga rutin berlatih melewati rintangan sehingga tercipta saling memahami dan ikatan emosional antara anjing dan pelatih.

Iin Sofjan (berkerudung) dan klangenan menjadi jawara pada kontes kucing tanggal 24 September di ICE.
Iin Sofjan (berkerudung) dan klangenan menjadi jawara pada kontes kucing tanggal 24 September di ICE.

Kelinci
Pada hari yang sama Indo Pet bekerja sama dengan Indonesian Rabbit Society juga menggelar kontes kelinci. Sebanyak 244 kelinci mengikuti kontes yang terdiri atas dua bagian. Juri asal Amerika Serikat, Piper Elizabeth menilai kelinci di pertunjukan A, sedangkan Arie Wardhani, juri dari Bekasi, Jawa Barat, di pertunjukan B. Kedua juri itu membutuhkan waktu selama 5—10 menit untuk menilai performa seekor kelinci.

Siwa Satyan (kanan) pemilik Twingkle’s Gak Tahu Namanya menjadi juara Reserved in show (RIS).
Siwa Satyan (kanan) pemilik Twingkle’s Gak Tahu Namanya menjadi juara Reserved in show (RIS).

Dari porsi general type yang terdiri atas tubuh, kepala, mata, dan telinga menyumbang nilai paling besar, yaitu mencapai 50%. Selebihnya bulu, warna, dan kondisi. Penilaian peserta kontes mengacu pada standar American Rabbit Breeder Association (ARBA). Setelah pemeriksaan setiap kelinci usai, Arie dan Elizabeth menunjuk juara masing-masing kelas dari masing-masing kelas. Panitian kontes itu menyediakan 13 kelas.

Arie Wardhani juri kontes kelinci hias.
Arie Wardhani juri kontes kelinci hias.

Menurut Bagian Humas Jersey Wooly Indonesia, Al Furqan Wiren setiap kelas dari masing-masing show itu dipilih dua juara yaitu best of Breed (BOB), dan best opposite sex of breed (BOSB). Kemudian BOB setiap kelas atau ras diadu kembali untuk mendapatkan best in show (BIS) dan Reserved in show (RIS). Elizabeth menunjuk CC’s Johnie milik Sita Devi untuk BIS dan Twingkle’s Gak Tau Namanya milik Siwa Satyan untuk RIS di show A.

Sugita Yohanes Hermanto (paling kanan) pemilik HGF’s Pamanahan yang menjadi best in show (BIS) di show B.
Sugita Yohanes Hermanto (paling kanan) pemilik HGF’s Pamanahan yang menjadi best in show (BIS) di show B.

Siwa belum sempat memberi nama kelinci berwarna broken itu, sehingga saat juri mengatakan kelincinya menjadi juara ia spontan memberikan nama itu. Twingkel’s nama peternakan kelinci miliknya di Sukabumi, Jawa Barat. Kelinci berumur 6 bulan itu baru pertama kali mengikuti kontes. Siwa tidak memberikan vitamin apa pun kepada Twingkel’s sebelum mengikuti kontes.

“Tidak ada perawatan khusus yang dilakukan sebelum mengikuti kontes,” ujarnya. Ia hanya memberikan 60—80 gram pakan pelet pada malam hari, sedangkan pakan lainnya berupa rumput kering tersedia setiap saat. Menurut Siwa pakan utama kelinci bukan sayuran melainkan rumput. Itulah sebabnya ia tidak segan mengimpor rumput kering timothy untuk pakan satwa mamalia itu.

564_-139Di pertunjukan B, Arie menunjuk HGF’s Pamanahan milik Sugita Yohanes Hermanto menjadi BIS dan Luna milik Tjatur untuk kelas RIS. Kelinci dan para pesolek lain—sebutan untuk satwa yang tampil karena keindahan—memukau di panggung Indopet Expo 2016. (Muhamad Fajar Ramadhan & Ian Purnama Sari)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img