Trubus.id—Kehadiran kina telah menorehkan sejarah panjang bagi peta perdagangan dunia dan perkembangan perdagangan perkebunan Indonesia mulai dari kolonialisme hingga kapitalisme.
Kina mengubah cara pandang pemanfaatan bahan alami untuk kesehatan dan keberlangsungan hidup. Menjadi dasar perkembangan perubahan peta ekosistem bisnis farmasi dan kesehatan dunia.
Kina bukan tanaman asli Indonesia tapi berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes. Tumbuh baik di ekosistem hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1.000—1.500 m dpl. Kina Indonesia unggul karena kandungan SQ7 12—13% dari klon kina ledger.
Ketua Komite Tetap Perkebunan Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Harry Hanawi, memaparkan bahwa Indonesia pernah menjadi penghasil kina terbesar di dunia pada masa sebelum kemerdekaan. Memasok sekitar 90% kebutuhan kina dunia.
Luas areal kebun kina di Indonesia saat itu mencapai 17.000 hektare (ha) dengan produksi 11.000 ton kulit kering per tahun. Sejak 2010 Indonesia tercatat sebagai pengekspor garam kina terbesar di dunia ke 2 setelah India. Sayang, volume ekspor mengalami penurunan 10% sejak dua dekade terakhir.
Namun, secara nilai mengalami pertumbuhan signifikan dari 330.000 USD pada 2020 menjadi 12,8 juta USD pada 2021. Harry menuturkan pada 2020 tercatat ekspor garam kina 117 ton. Indonesia importir kina dengan pertumbuhan -23% sejak 1992.
“Prospek permintaan pasar kina sejak ditemukan kina sebagai obat malaria selalu stabil dan cenderung akan tumbuh seiring diversifikasi produk kina untuk industri selain farmasi dan kesehatan,” tutur Harry.
Meskipun masih dalam bayang-bayang krisis ekonomi dan dinamika geopolitik Indonesia yang dapat berdampak pada distrupsi supply chain tata niaga kina. Pasar kina global diproyeksikan akan terus tumbuh 6% setiap tahun. Hingga 2030 dengan nilai perdagangan Rp2,6 triliun.
Total permintaan dunia relatif stabil pada angka 350—400 ton. Serapan kina global pun terus tumbuh dari 200 ton pada 1992 menjadi 700 ton pada 2022. Peruntukannya digunakan kebutuhan farmasi, kesehatan, kosmetik dan beverage.
“Share pasar kina untuk beverage tumbuh lebih pesat, didorong dengan semakin tingginya konsumsi tonik water mengandung alkaloid,” tutur Harry.
Proyeksi pasar farmasi akan akan tumbuh sekitar 4% setiap tahunnya. Tren pasar tonik water diproyeksikan meningkatkan 7% per tahun. Sementara tren produk kecantikan untuk antipenuaan atau antiaging akan terus tumbuh 6% setiap tahunnya hingga 2030 dan 16% setiap tahunnya pada 2050.
Pasar furniture juga diproyeksikan terus meningkat. Terutama pada konsumen milenial dan gen z tidak mustahil pada masa depan kina akan turut berkontribusi sebagai tanaman penyerap karbon.
Selain itu Harry menuturkan tren pasar batik khas Indonesia mulai diminati oleh masyarakat khas di mancanegara. Batik Indonesia berhasil menjadi market leader. Green batik kina dapat menjadi diversifikasi produk kina sebagai upaya efisiensi penggunaan bahan baku.
“Untuk mempertahankan industri kina di Indonesia memerlukan upaya lebih keras serta sinergi dan kolaborasi yang lebih kuat antar seluruh pelaku rantai industri kina di Indonesia. Termasuk Kadin,” kata Harry.
Implikasi kebijakan dan regulasi ini bermuara pada program akselerasi subtitusi impor, mencegah kehilangan plasma nutfah dari perkebunan kina Indonesia, serta edukasi perkebunan kina dapat menjadi pintu awal penyelematan industri kina Indonesia. Kebutuhan regulasi penguatan di bidang produksi perdagangan perlu menjadi perhatian bersama.
