Tuesday, February 3, 2026

Pasokan Buah Merah Kosong?

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Pemilik PT Prima Baliem Subur, produsen minyak buah merah di Jl. Th amrin No. 19, Wamena itu langsung melakukan terobosan sejak pasokan buah merah berkurang karena lewat musim. Panen buah merah di Kelila dan Bogondini berlangsung dari November sampai Maret. Memasuki April buah sudah sulit didapat. Kalau pun ada hanya dalam jumlah sedikit, diperoleh dari sepanjang aliran sungai di tengah hutan.

“Mau tidak mau untuk memenuhi permintaan minyak buah merah yang kian meningkat saya harus cari ke tempat lain,” tutur Hendro. Kelahiran 17 April 1941 itu akhirnya tertambat di Tolikara dan Puncakjaya yang mempunyai ketinggian tempat 1.600—2.000 m dpl. Kedua kabupaten di Papua ini memang sentra buah merah. “Pertanaman buah merah di sana jauh lebih banyak dibanding Kelila dan Bogondini. Namun, karena lokasinya yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat, buah tidak sampai ke Pasar Jibama (pusat penjualan buah merah di Wamena, red),” tambahnya.

Cukup tersedia

Tak sia-sia ayah 3 putera itu mengusung alat-alat pengolahan hingga masuk ke daerah yang jauh dari keramaian. Di tengah masa paceklik bagi pengolah lain, Hendro masih bisa memproduksi paling tidak 200—400 liter minyak buah merah setiap pekan. Dari mana lagi bahan baku didapat kalau bukan dari Tolikara dan Puncakjaya. Di kedua sentra itu buah merah melimpah. “Tak akan habis hingga musim panen ke-2 di Kelila dan Bogondini pada Juni—September tiba kembali,” tuturnya.

Menurut Hendro musim berbuah di Tolikara dan Puncakjaya sebenarnya bersamaan dengan di daerah lain. Hanya s a j a karena tidak segera dipanen, buah dapat bertahan di pohon hingga umur 9 bulan. Pada kondisi itu buah sudah betul-betul matang, sehingga kadar minyaknya pun lebih tinggi. Lain halnya di Kelila, salah satu kecamatan di Wamena, dan Bogondini, umur 6 bulan, pas matang, langsung dipanen. Bahkan pekebun kadang memanen pada tingkat kematangan 80%, sehingga masa panen lebih singkat.

“Jadi, sebetulnya buah merah tersedia sepanjang tahun dalam jumlah cukup. Toh soal transportasi bisa diatasi,” ujar Hendro. Suami dari Margaret itu tidak membawa bahan baku dari Tolikara atau Puncakjaya ke tempat pengolahannya di Wamena. Ia mengolah langsung di kantong-kantong produksi supaya lebih efi sien. Baru setelah jadi minyak diangkut menggunakan pesawat. “Biaya transportasi jatuhnya murah karena pesawat yang disewa untuk pulang-pergi senilai Rp6-juta itu dapat mengangkut 300 liter,” lanjutnya.

Untuk menjaga kualitas minyak, perusahaan yang berdiri sejak 1987 itu tetap melakukan prosesing akhir di Wamena. Minyak dipanaskan ulang dengan api sedang selama 1,5—2 jam. Maksudnya untuk mengurangi kadar air hingga mendekati nol dan proses pengendapan pasta lebih cepat. Sebelum dimasukkan ke dalam botol kemasan, minyak diendapkan selama 4 hari agar benarbenar terbebas dari pasta. Pasta inilah yang membuat minyak cepat tengik. “Produk kami, MBM, mampu bertahan hingga 1 tahun. Anda boleh lihat di dasar botol kemasan, tak ada endapan meski sudah lama dibeli,” ujar Hendro.

Jemput bola

Dengan bahan baku yang tersedia dalam jumlah cukup itu, tak ada alasan bagi konsumen menyangsikan keaslian minyak buah merah. “Saya tak mau menggunakan buah merah dari dataran rendah yang diklaim kadar betakaroten dan tokoferolnya rendah. Bahkan dari dataran tinggi sekalipun kalau kualitasnya jelak,” Hendro meyakinkan. Dulu ketika belum ditemukan sumber potensial, ia mengolah buah merah dari dataran tinggi Elelim. Ternyata minyaknya gampang beku sehingga tak dipakai lagi.

Alasan kualitas buah cukup bagus dan tersedia dalam jumlah banyak, Hendro membuat basecamp di Tolikara. Di kabupaten pemekaran Jayawijaya itu pertanaman buah merah hampir tersebar di semua kecamatan. Tercatat 10 kecamatan di antaranya sangat dominan, yakni Karubaga, Wunin, Goyage, Panaga, Kembu, Kanggime, Umagi, Wina, Wonoki, dan Bogondini. Kecamatan disebut terakhir, selama ini menjadi sasaran para pengumpul buah merah untuk dipasok ke pengolah di Wamena. Maklum Bogondini jaraknya tak jauh dari Wamena, cukup ditempuh 3—4 jam dengan kendaraan roda empat.

“Angka pasti luas pertanaman buah merah di Kabupaten Tolikara belum diketahui. Tapi paling tidak di setiap distrik (kecamatan, red) terdapat 300—500 ha,” ungkap Ir Yusmin Timang, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tolikara. Menurut kelahiran Manokwari 42 tahun silam itu, lahan potensial di Tolikara untuk ditanami buah merah 10.000 ha. Artinya ada sekitar 200-juta tanaman yang setiap 6 bulan masing-masing menghasilkan 5—10 buah. Apabila para pengolah mau menjemput bola, tak mungkin kekurangan pasokan buah merah. Itulah sebabnya PT Niaga Swadaya, pemasar produk minyak buah merah MBM, masih tetap eksis melayani para konsumen meski harus antre. ***

Artikel Terbaru

Rahasia Panen Durian Berulang Berkat Nutrisi Organik

Durian identik dengan musim tertentu. Namun, pengalaman berbeda datang dari Kebun Durian Tamora di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img