Wednesday, January 28, 2026

Pelet: Energi Gres

Rekomendasi
- Advertisement -

Mendidihkan 2 liter air cukup dengan 2 genggam pelet.

Pelet bahan bakar mengandung 4.200—4.800 kkal per kgMatahari belum tinggi ketika sebuah truk memasuki pelataran CV Agro Jawa Dwipa di Kecamatan Blabak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Pekerja pabrik segera menurunkan karung-karung berisi serbuk gergaji dari bak truk. Total jenderal serbuk gergaji itu berbobot  3 ton. Pekerja pabrik lantas mengayak serbuk untuk memisahkan kotoran seperti batu, ijuk, atau lidi. Berikutnya pekerja memasukkan serbuk dalam pengering dengan suhu 500C yang berputar dengan kecepatan

7—10 putaran per menit.

Tujuan pengeringan putar adalah menurunkan kadar air serbuk gergaji dari 50% menjadi 15—20%. Berikutnya serbuk itu masuk mesin pelletizer atau pemeletan dan menerima tekanan 500—600 kg per m3 dalam suhu 75—850C. Pemeletan itulah yang mengeluarkan hasil akhir: kayu berbentuk menyerupai pelet pakan ternak. Di lahan seluas 150 m2 itu Ayus mengolah serbuk gergaji menjadi pelet sebagai bahan bakar. Dalam sebulan, ia memasarkan 8 ton pelet ke berbagai industri, mulai dari pabrik teh, industri sandang, perajin tahu, sampai perajin batu bata di Magelang.

 

Pohon petai cina cepat tumbuh dan tinggi kandungan energi sehingga cocok sebagai bahan baku peletBiomassa

Selain CV Agro Jawa Dwipa, produsen pelet bahan bakar lain adalah PT Solar Park Indonesia (SPI) di Wonosobo, Jawa Tengah. Dibandingkan perusahaan milik Ayus, skala SPI terbilang “raksasa”. Produksi mencapai 5.000 ton per bulan. Mereka memasarkan pelet ke berbagai kota di tanahair, seperti Bandung, Semarang, dan Wonosobo. SPI pun mengandalkan limbah serbuk gergaji dari penggergajian di Jawa Tengah.

Sejatinya, selain serbuk gergaji, pelet bahan bakar bisa memanfaatkan kayu, sekam, daun, rumput, dan berbagai biomassa lain seperti limbah padat tapioka, bagas alias ampas tebu, maupun jerami padi. Tujuan pembuatan pelet adalah meningkatkan nilai kalori, meminimalkan kadar air, dan mengurangi abu sisa pembakaran. Menurut Dr Ir Supriyanto, pakar energi terbarukan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, nilai kalori sekilogram pelet bahan bakar berkisar 4.200—4.800 kilokalori (kkal), setara 4,8—5,6 Wh. Adapun kandungan air maksimal 10% sementara kadar abu berkisar 0,5—3%. Kandungan energi bukan satu-satunya ukuran. Harga dan kadar emisi turut menjadi pertimbangan (lihat tabel).

Penggergajian kayu menjadi pemasok bahan baku pelet bahan bakarHarga batubara atau cangkang kelapa sawit lebih murah, tetapi pembakarannya menghasilkan jelaga dan abu. Itu sebabnya pelet bahan bakar menjadi andalan banyak orang. Menurut Supriyanto, peminat pelet bahan bakar di dunia membentuk deretan panjang. “Negara Asia yang mengalami musim dingin seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina antre menanti pasokan,” kata Supriyanto. Itu belum menyebut Amerika Serikat, Kanada, atau negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan Italia. Masih ada negara-negara eks blok timur yang terbilang maju seperti Rusia dan Polandia, yang juga mengharapkan pasokan.

Sebagian negara itu sejatinya memproduksi pelet bahan bakar untuk kebutuhan mereka sendiri. Menurut Supriyanto, pelet kayu bukan barang baru di negara maju. Di Amerika Serikat saja ada puluhan produsen pelet kayu, dengan kapasitas produksi bervariasi dari 1.000—1-juta ton per tahun. “Mereka tidak hanya mengandalkan kayu, tapi juga memanfaatkan berbagai biomassa tanaman seperti daun dan rumput untuk membuat pelet,” kata Supriyanto.

 

Ayus Dodi Kirana: Pelet bahan bakar digunakan oleh pabrik teh, industri sandang, dan perajin tahuBerlimpah

Biomassa menjadi andalan bahan bakar alternatif lantaran cadangan bahan bakar fosil kian menipis. Selain biomassa, alternatif energi terbarukan lain adalah angin, gelombang laut, tenaga surya, sampai nuklir. Salah satu negara yang intensif mengembangkan energi nuklir adalah Korea Selatan. Namun, “Kebocoran reaktor Fukushima di Jepang akibat tsunami pada 2011 membuat pemerintah Korea mencari alternatif energi yang lebih aman,” kata Ardhian Prinanda, anggota staf GS Global Indonesia, perusahaan energi multinasional yang tengah menjajaki prospek pelet kayu di tanahair.

Korea Selatan tertarik menerjuni produksi pelet bahan bakar di tanahair lantaran bahan baku berlimpah sehingga harga bersaing. Harga menjadi salah satu keunggulan pelet bahan bakar tanahair. Ayus membanderol pelet buatannya US$145 per ton atau sekitar Rp1.600 per kg dengan kurs Rp11.000 untuk pembeli di Asia. Sementara PT SPI memasang harga Rp1.200 per kg di pabrik.

Bandingkan dengan harga pelet bahan bakar asal Inggris, yang mencapai US$324 per ton atau sekitar Rp3.500 per kg. “Wajar saja pasar Korea Selatan menanti pasokan 4.000 ton per bulan, sedangkan permintaan pasar lokal Wonosobo, Semarang, dan Bandung mencapai 15 ton per bulan,” kata Park See Woo, direktur utama SPI.

Sayang, ketersediaan bahan baku menjadi kendala. SPI sejatinya berusaha mengantisipasi kepincangan pasokan dengan berburu serbuk gergaji hingga ke Surakarta, Salatiga, sampai Batang dan Jepara. Meski demikian, mesin SPI tetap megap-megap kekurangan bahan baku. Itu sebabnya, Park menjalin kemitraan dengan PT Perhutani sejak 2011 untuk menanam tanaman kayu cepat panen dan tinggi kandungan energi seperti petai cina Leucaena leucocephala, kaliandra Calliandra calothyrsus, dan gamal Gliricidia sepium. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Riefza Vebriansyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img