Tuesday, November 29, 2022

Pembersih dari Pantai

Rekomendasi

Buah mangrove berkhasiat mempercantik kulit, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah.

Buah pidada Sonneratia sp bahan baku sabunUsai beraktivitas seharian di bawah terik matahari, Lulut Sri Wahyuni membersihkan diri dengan sabun khusus. Tidak seperti produk sejenis yang beredar di pasaran, sabun cair yang ia usapkan ke seluruh tubuh itu bebas kandungan detergen. “Kulit terasa lebih lembut ketimbang menggunakan sabun cair biasa,” kata perempuan 48 tahun itu. Lulut membuat sabun itu dari berbagai buah yang tumbuh di hutan mangrove, seperti pidada merah Sonneratia caseolaris, pidada putih Sonneratia ovata, bakau Rhizopora sp, dan buah kayu tengar Ceriop sp.

Buah-buah itu ia peroleh dari hutan bakau di Kelurahan Wonorejo dan Gununganyar, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Semula, buah-buah itu jatuh dan terbuang sia-sia. Padahal, dari konsumen dan pengalaman pribadi, ia mengetahui khasiat beragam buah dari hutan bakau.

Melihat potensi itu, sejak 2005, Lulut rajin mencoba pemanfaatan buah mangrove untuk pembersih. Selama 2 tahun, ia jatuh bangun dan kerap gagal. Akhirnya, pada  2007, laboratorium sederhana di kediaman Lulut menghasilkan produk sabun untuk batik. Berikutnya ia mengembangkan formulasi berbagai bahan toiletris seperti sabun cair, sampo, dan pembersih muka.

 

Linawati Hardjito PhDKosmetik

Untuk membuat sabun cair, ia mencampurkan 0,5 kg buah pidada merah, 0,5 kg buah kayu tengar, dan 0,5 kg buah bakau. Lulut lantas mengukus buah tua pada suhu 700C selama 30 menit atau sampai kondisinya mengkal—tidak terlalu keras atau lunak. Setelah itu, ia melumat buah dengan spatula kayu sehingga bentuknya menjadi adonan berwarna keruh. Ia tempatkan bahan itu dalam wadah tertutup rapat, dan mendiamkan agar terfermentasi. Selang 3 hari, hancuran buah bakau itu berubah menjadi pasta berwarna krem dengan aroma lembut.

Berikutnya Lulut menambahkan  250 gram bunga nyamplung Calophyllum inophyllum ke dalam 0,5 kg garam, 10 liter air matang dan 1 kg pasta. Ia lantas mengaduk searah secara perlahan sampai campuran merata. “Pengadukan campuran tidak boleh terlalu cepat dan terlalu lambat,” kata Lulut. Terlalu cepat dan lambat, bahan akan rusak, tidak bisa dibuat menjadi sabun, bahkan susut hingga kurang dari 50%.

Untuk membuat sampo, Lulut melumat-kan bunga bintaro Cerbera manghas menjadi pasta. Pembuatan 2 kg pasta memerlukan 2,5 kg bunga yang telah jatuh. Setiap 2 kg pasta ia campur dengan 50 ml air perasan jeruk nipis dan 10 l air bersih. “Air jeruk nipis berguna untuk menghilangkan ketombe dan menambah aroma. Jika menginginkan aroma berbeda, bisa menambahkan bahan lain yang sesuai,” kata Lulut. Sebut saja berbagai jenis minyak asiri seperti minyak melati, minyak mawar, minyak cengkih, atau minyak sereh wangi.

Untuk membuat pembersih muka, Lulut mencampurkan 0,75 kg buah pidada merah—jika tidak ada bisa menggunakan buah pidada putih—dan 0,25 kg buah bidara sampai jumlahnya tepat 1 kg. Ia mendestilasi ketiga bahan itu selama 60—120 menit dalam 10 liter air, dengan api kecil. Suhu larutan 110—1200C. Selang 1—2 jam, 10 liter larutan itu menghasilkan 0,5 l distilat atau hasil sulingan. Distilat itulah yang menjadi pembersih muka.

Dra Lulut Sri Wahyuni, MM olah buah mangrove untuk sabun Selain berbentuk cair, pembersih muka juga bisa berbentuk krim. Prosesnya jauh lebih sederhana: kupas, cuci bersih, blender halus, dan saring. Hasil saringan itulah yang menjadi krim. Bedanya, untuk membuat krim, Lulut hanya menggunakan 0,75 kg buah nyirih Xylocarpus granatum dan 0,25 kg buah pidada merah. Gunanya untuk membersihkan sekaligus mempertahankan kelembapan kulit. Sekilogram krim berasal dari sekilogram bahan baku.

Nun di Koja, Jakarta Utara, Ning Harmanto juga membuat kosmetik dari biji buah pidada. Sekilogram menghasilkan 250 gram biji. Biji itu ia cuci bersih lalu ia jemur selama 3 hari. Biji kering itu lantas ia sangrai hingga kecokelatan. Terakhir, biji hasil penyangraian ia tumbuk halus sampai menyerupai bedak. Biji dari sekilogram buah menghasilkan 237,5 gram serbuk biji pidada.

Untuk membuat bedak dingin Ning mencampurkan 50% tepung biji pidada dan 50% tepung beras. “Inspirasinya datang dari nelayan di Sulawesi Selatan yang menggunakan bedak dingin dari buah pidada,” kata ibu 3 anak itu. Bedak dingin itu mempunyai angka sun protection factor (SPF) 22, jauh melebihi standar nasional Indonesia yang hanya mensyaratkan SPF 15.

 

Pembersih

Sebelum membuat kosmetik, Lulut mengolah buah mangrove sebagai sabun khusus batik dan pembersih lantai. Sabun batik terbuat dari 1 kg pasta buah bidara, 0,5 kg garam kasar dan 10 l air bersih. Untuk mengikat warna, ia menambahkan air rebusan pidada merah dan perasan jeruk nipis masing-masing sebanyak 50 ml. “Kandungan zat aktif dalam buah pidada merah mampu mengikat dan mempertahankan warna batik agar tidak pudar,” ujar ibu satu anak itu. Untuk membuat cairan pembersih lantai Lulut mencampurkan 0,5 kg bunga bintaro dan 0,5 kg buah kayu tengar lalu mengolah menjadi 1 kg pasta. Ia lantas menambahkan 50 ml perasan air jeruk nipis dan 20 liter air matang.

Bedak cair ciptaan  Ning Harmanto (kiri) , produk kosmetik ciptaan Linawati Hardjito (kanan)Menurut Linawati Hardjito PhD, dosen jurusan Teknologi Hasil Perairan, Institut Pertanian Bogor, kandungan utama buah mangrove adalah alkaloid dan saponin. Keduanya mampu membersihkan lantaran bersifat antimikrob dan pembersih yang jika terlarut dalam air dapat menimbulkan busa yang stabil seperti detergen. “Pembersih dari bahan mangrove aman bagi tubuh dan mudah terurai di alam. Sudah begitu, kemampuan pembersihnya tidak kalah dengan produk berbahan kimia,” ujar ibu 2 anak itu.

Menurut Lulut, pembersih berbahan mangrove bebas detergen sehingga tidak menghasilkan banyak busa seperti produk sejenis dari bahan sintetis. “Kebanyakan pembersih di pasaran mengandung bahan berbahaya seperti detergen atau sabun,” kata Lulut. Padahal, limbah pembersih itu mengalir bersama limbah domestik lain ke saluran pembuangan dan berujung di sungai. Menggunakan pembersih berbahan mangrove berarti turut berperan melestarikan lingkungan. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img