Trubus.id-Solusi pemasaran pertanian menjadi kunci percepatan pengembangan agribisnis dan peningkatan kesejahteraan petani. Pendekatan rantai pasok pendek memberikan kesempatan bagi petani menjual langsung ke konsumen tanpa banyak perantara.
Model rantai pendek mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 60–80 persen dari harga konsumen. Pendekatan ini juga menekan food loss serta mempercepat penyaluran produk segar ke pasar.
“Rantai pendek bukan hanya efisien secara ekonomi, tapi juga berdampak sosial dan lingkungan yang positif,” jelas Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P. Pernyataan tersebut disampaikan saat pengukuhan sebagai Guru Besar Pemasaran Pertanian di Balai Senat UGM, Selasa (15/4).
Fakta di lapangan menunjukkan banyak petani gagal menikmati hasil kerja keras akibat rendahnya harga jual dan distribusi yang berbelit. Akses pasar yang tidak berpihak juga memperburuk keadaan petani.
Jamhari menjelaskan pemasaran pertanian mencakup proses bernilai strategis seperti penciptaan nilai tambah, distribusi, branding, dan segmentasi pasar. Proses tersebut turut memperkuat posisi tawar petani dalam persaingan domestik dan global.
Sistem pemasaran tradisional yang panjang dan penuh perantara menjadi penyebab utama rendahnya pendapatan petani. Sebagian besar nilai tambah hasil panen terserap tengkulak dan pedagang.
“Farmer’s share dalam sistem lama hanya sekitar 20–40 persen, sangat merugikan,” tegas Jamhari melansir pada laman UGM. Oleh karena itu, rantai pendek lebih menguntungkan dan adil bagi petani.
Pasar lelang cabai di Kabupaten Sleman menjadi salah satu contoh pendekatan rantai pendek yang berhasil. Mekanisme ini mampu menetapkan harga cabai secara transparan dan menjadi acuan pasar lokal DI Yogyakarta.
“Farmer’s share di pasar lelang bisa mencapai lebih dari 70 persen,” ujar Jamhari. Model tersebut memperkuat posisi tawar dan pendapatan petani secara signifikan.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital menjadi jawaban terhadap tantangan pemasaran hasil pertanian modern. Platform e-commerce, blockchain, dan analisis big data menjadi sarana penting dalam era agrikultur 4.0.
Pemasaran pertanian masa depan tak bisa dilepaskan dari traceability, pembayaran digital, pengemasan pintar, dan storytelling lewat media sosial. Upaya ini bertujuan membangun merek dan memperluas pasar produk pertanian lokal.
Namun, transformasi digital akan berdampak besar hanya bila disertai peningkatan literasi digital petani. Pelatihan dan pendampingan perlu dihadirkan secara berkelanjutan.
Jamhari menekankan pentingnya penguatan kelembagaan seperti koperasi, Gapoktan, dan KUD korporasi. Lembaga-lembaga ini berperan memperbesar skala usaha dan meningkatkan efisiensi petani.
“Kita perlu membangun ekosistem pemasaran yang inklusif dan memberdayakan,” pungkasnya. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media menjadi kunci utama menuju kesejahteraan petani.
