Trubus.id — Mangga (Mangifera indica L.) menjadi salah satu komoditas buah tropika unggulan dari Indonesia yang rentan terserang oleh penyakit pascapanen. Di Indonesia sedikitnya terdapat delapan varietas mangga yakni arumanis, manalagi, golek, gedong, durih, wedus, madu anggur, dan sofia.
Kerusakan karena penyakit pascapanen pada mangga dapat menimbulkan kehilangan hasil cukup tinggi antara 30–50%. Kehilangan hasil akan lebih tinggi lagi jika tidak segera dilakukan pengelolaan karena kondisi di daerah tropika sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan patogen penyebab penyakit pascapanen pada mangga.
Kondisi iklim yang mendukung perkembangan patogen di antaranya suhu dan kelembapan yang tinggi, serta keberadaan patogen tanaman di daerah tropika yang selalu ada di sepanjang musim dengan jumlah populasi yang melimpah.
Penyakit yang sering menyerang mangga terutama di daerah beriklim basah adalah penyakit blendok (Diplodia sp.), mati pucuk (Gloeosporium sp.), dan penyakit pascapanen (Botryodiplodia sp) yang menyebabkan buah mangga cepat membusuk pada bagian pangkalnya.
Mengutip dari laman Direktorat Jenderal Hortikultura, penyakit busuk Botryodiplodia merupakan salah satu penyakit pascapanen terpenting yang selalu menjadi masalah di penyimpanan dan pemasaran buah mangga. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Botryodiplodia theobromae Pat. dengan sinonim Lasiodiplodia theobromae (Pat.) Griffon & Maubl.
Jamur merupakan parasit lemah dan menginfeksi melalui luka sehingga disebut juga parasit luka. Koloni jamur semula berwarna putih, kemudian menjadi berwarna kelam dengan bintik hitam di tengahnya yang merupakan piknidium jamur.
Konidium berbentuk elips atau bulat panjang, tanpa warna sampai berwarna coklat tua dan bersekat. Konidium awalnya tanpa warna, unisel, agak oval ke lonjong, dengan kandungan butiran.
Konidium matang terdiri atas dua sel, berwarna cokelat kayu manis hingga cokelat tua, berdinding tebal, berbentuk lonjong, seringkali dengan bentuk memanjang berukuran (18–30) × (10–15).
Jamur juga dapat menyerang tanaman lain selain mangga, seperti leci, nangka dan kelapa serta tanaman lain. Jamur patogen mempunyai kisaran tanaman inang yang sangat luas.
Jamur menyerang jaringan di dalam buah mangga melalui luka pada buah mangga. Daging buah mangga yang terserang patogen akan menjadi lunak, kemudian berubah menjadi agak cair dan menimbulkan bau khas manis mangga.
Bagian kulit buah yang terserang menjadi lunak, kemudian berkeriput dan tampak bintik hitam di permukaan kulit buah yang sakit, yang merupakan piknidium dari jamur patogen. Gejala penyakit menimbulkan bercak berwarna cokelat, dengan tepi bercak yang tidak teratur.
Apabila kondisi lingkungan sesuai untuk perkembangan penyakit, yakni pada kondisi dengan kelembapan tinggi, pada bagian buah yang sakit akan tumbuh miselium jamur yang berwarna putih mirip seperti kapas.
Tingkat pemasakan buah merupakan indikator yang sangat memengaruhi tingkat keparahan penyakit busuk Botryodiplodia. Buah yang masak akan lebih cepat terserang jamur penyebab penyakit sehingga perkembangan penyakit menjadi lebih cepat jika dibandingkan dengan buah yang masih mentah.
Selain itu, penyakit akan cepat berkembang pada kisaran suhu antara 29–30°C dengan kelembapan yang tinggi.
