Trubus.id — Bukan hanya buah durian si raja buah yang memiliki potensi bisnis tinggi, melainkan buah manggis yang dikenal sebagai ratu buah juga punya peluang bisnis besar. Sayangnya, pasokan ekspor manggis masih terbatas. Salah satu penyebabnya adalah produksi manggis masih banyak yang belum memenuhi standar buah ekspor.
Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec., dosen Sekolah Bisnis dan Dekan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor, mengatakan, manggis adalah komoditas ekspor yang memiliki prospek sangat baik.
Menurutnya, ratu buah itu menempati urutan pertama ekspor buah segar ke luar negeri. Selanjutnya, diikuti nanas, mangga, pisang, dan pepaya. Namun, mesti memenuhi standar mutu yang disyaratkan agar bisa mengisi pasar internasional.
“Sayangnya, baru 15% dari produksi keseluruhan yang memenuhi syarat itu. Sisanya, 85% mengisi ceruk pasar lokal,” kata Arief.
Adapun permasalahan manggis secara umum antara lain budidaya masih tradisional karena belum memakai teknologi memadai. Di samping itu, skala kebun masih kecil, rata-rata kurang dari 0,5 hektare per orang. Ditambah, pasokan belum memadai secara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.
Permasalahan lainnya yakni secara kelembagaan sebagian besar masih belum bersinergi antarpelaku usaha sehingga manajemen rantai pasok manggis belum dapat diterapkan dengan baik.
Menurutnya, berkebun manggis secara intensif salah satu solusi mengatasi permasalahan tersebut. Dengan mengusahakan kebun manggis intensif, harapannya para eksportir dapat lebih mudah memenuhi persyaratan ekspor yang sudah disepakati.
Dengan berkebun intensif, para petani didorong untuk berproduksi dengan standar ekspor dan mendapatkan nilai lebih. Perbaikan pengelolaan rantai pasok (supply chain) merupakan keniscayaan.
Rantai pasok manggis secara umum melibatkan 5 aktor utama yakni petani, pedagang pengumpul, pemasok, perusahaan pengolahan, dan pemerintah. Semua aktor harus bekerja keras dan cerdas untuk peningkatan produktivitas, keberlanjutan produksi, daya saing, dan modernisasi usaha budidaya manggis.
