Trubus.id — Indonesia mempunyai sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Kekayaan yang dimiliki ini menempatkan Indonesia di urutan ketiga negara dengan biodiversitas ikan terbesar di dunia. Bahkan, ikan endemik asli Indonesia tercatat berjumlah 128 jenis. Lalu bagaimana prospek bisnis ikan hias endemik Indonesia ini?
Menurut Dr. Irzal Effendi, dosen IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), nilai produksi ikan hias meningkat dari semula USD27,6 juta pada 2017 menjadi USD34,5 juta di 2021.
Ikan hias air tawar mendominasi angka peningkatan produksi itu hingga 80,63 persen, sisanya ikan hias air laut. Pada triwulan I 2022 nilai ekspor ikan hias USD8,97 juta, terjadi pertumbuhan rata-rata sekitar 6,11 persen.
Menariknya, sebagian besar ikan hias yang diekspor adalah endemik Indonesia. Contohnya, ikan arwana super red, ikan cupang, dan ikan botia. Tampak bahwa ikan asli Indonesia ini menjadi primadona ekspor ikan hias nasional.
Ikan arwana super red merupakan jenis ikan arwana termahal yang berasal dari Sungai Kapuas di bagian hulu Sentarum, Kalimantan Barat. Ikan ini berbeda dengan arwana merah ataupun emas.
Irzal menuturkan, budidaya ikan hias termasuk arwana super red terus berkembang di tengah kondisi pandemi. Selain itu, ikan arwana super red sudah bisa dibudidayakan di luar Kalimantan Barat. Nilai pertumbuhan rata-rata ekspornya juga semakin meningkat, kini sebesar 1,8 persen.
“Ini adalah suatu prospek yang baik,” kata Irzal dalam Talkshow Strategi Pemasaran Ikan Hias Asli Indonesia dalam gelaran Aquafest 2022, seperti dikutip dari laman IPB University.
Menurutnya, harga jual ikan arwana super red dipengaruhi oleh kualitas profil ikan. Ikan yang memenangkan kontes dicirikan dengan bentuk tubuh yang lurus, padat, tebal dan tidak cacat, serta mata tidak juling.
Selain arwana super red, lanjutnya, ikan botia juga memiliki corak tubuh yang unik dan tingkah laku yang menyenangkan. Penggiat ikan ini akan merasakan kesegaran batin. Ikan asli perairan Sumatera dan Kalimantan ini sudah bisa dipijahkan dengan rangsangan hormon dan lebih baik dibudidayakan dengan sistem resirkulasi.
“Kinerja reproduksinya dinilai lebih baik bila berasal dari Sumatra. Fekunditas induk mencapai 100.000 telur per kilogram namun pertumbuhan benihnya lambat. Ukuran dua hingga dua setengah inci membutuhkan waktu enam bulan,” jelasnya.
Ikan hias air tawar lain yang juga fenomenal yakni cupang. Nilai jual ikan ini ditentukan oleh keindahan sirip, warna, pola warna, serta kemampuan bertarung. Menurutnya, ikan jantan lebih menarik. Kelompok ikan cupang bubblenester biasanya memiliki warna lebih cerah dan mudah dikenali dibanding kelompok mouthbreeder.
Irzal menyebut, terdapat sedikitnya 10 jenis ikan hias asli Indonesia yang berpotensi untuk merajai pasar ikan hias dunia. Ikan rainbow dan ringau juga menjadi salah satu kandidat ikan hias asli Indonesia yang mampu merajai pasar ikan hias dunia selain arwana super red, cupang, dan botia.
Prospek usaha budidaya ikan hias asli Indonesia sangat tinggi mengingat konsumen umumnya menghendaki produk yang tropis, spesifik, endemik, dan langka. Kendati demikian, ia menilai produksi beragam jenis ikan hias asli Indonesia memiliki tantangan berbagai aspek antara lain teknologi reproduksi dan produksi, regulasi dan sebagainya.
