Salak Bali Tembus Tiongkok, Ekspor 3,5 Ton

Rekomendasi
- Advertisement -

Salak produksi Bali kembali menembus pasar internasional. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri melepas ekspor 3,5 ton salak produksi PT Bali Organik Subak (BOS) ke Tiongkok pada Kamis (6/8/2026).

Pelepasan ekspor senilai US$13.000 atau sekitar Rp232,93 juta itu berlangsung di The Keranjang Bali, Kabupaten Badung, Bali. Ekspor tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen bisnis ekspor salak senilai US$2 juta selama setahun yang tercapai dalam Misi Dagang Indonesia ke Shanghai pada Mei 2026.

Wamendag Roro mengatakan ekspor tersebut membuktikan produk lokal Indonesia memiliki kualitas dan daya saing untuk memasuki pasar internasional. Menurutnya, promosi dan diplomasi perdagangan perlu menghasilkan transaksi yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan perekonomian nasional.

Tiongkok menjadi salah satu pasar penting bagi salak Indonesia. Pada 2024, Tiongkok menempati peringkat ketiga sebagai tujuan ekspor salak Indonesia. Posisi tersebut meningkat pada 2025 ketika Tiongkok menjadi pasar utama dengan nilai ekspor salak mencapai US$4,1 juta.

Melansir pada laman Kemendag, Menurut Roro, peningkatan tersebut menunjukkan peluang ekspor salak Indonesia masih terbuka seiring dengan meningkatnya kualitas dan daya saing produk. Keberhasilan ekspor juga tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha, terutama dalam membuka akses pasar sekaligus menjaga kualitas produk sesuai kebutuhan pasar internasional.

Pendiri PT Bali Organik Subak (BOS), A.A. Gede Wedhatama P., mengatakan ekspor tersebut merupakan hasil dari pertemuan dengan buyer dalam Misi Dagang Indonesia ke Shanghai. Dari kegiatan tersebut, perusahaan dapat mencapai kesepakatan bisnis yang kemudian direalisasikan melalui pengiriman salak ke Tiongkok.

“Kami dapat bertemu langsung dengan buyer, mencapai kesepakatan bisnis, dan akhirnya merealisasikan ekspor ke Tiongkok,” ujar Gung Wedha.

Ia berharap pemerintah terus membuka akses pasar baru melalui misi dagang ke berbagai negara, termasuk kawasan Timur Tengah, Eropa, Australia, dan Amerika.

Wamendag Roro menilai Bali memiliki potensi menjadi salah satu penggerak ekspor nasional. Selain pariwisata, Bali memiliki beragam produk unggulan seperti komoditas pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, fesyen, dan kerajinan berbasis budaya yang berpotensi bersaing di pasar global.

“Kami ingin membangun narasi baru bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata dunia. Bali juga harus dikenal sebagai etalase produk unggulan Indonesia sekaligus gerbang bagi lebih banyak produk nasional untuk memasuki pasar global,” kata Roro.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia meningkat dari US$231,71 miliar pada 2021 menjadi US$282,91 miliar pada 2025. Sementara itu, pada Januari–Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar atau meningkat 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari nilai tersebut, ekspor nonmigas memberikan kontribusi terbesar dengan nilai US$134,58 miliar. Capaian itu menunjukkan peluang pengembangan komoditas pertanian dan produk unggulan daerah untuk terus memasuki pasar internasional.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Kementan Turunkan Tim Ahli Tangani Bangkalan pada Durian Sulteng

Trubus.id— Kementerian Pertanian (Kementan) menurunkan tim ahli lintas lembaga untuk mengkaji gejala bangkalan yang menyerang tanaman durian di Kabupaten...

More Articles Like This