Vichai begitu sumringah tatkala Trubus terkesima selama beberapa detik menatap keelokan Guaruba guarouba itu. ‘Burung ini sejak 1975 sudah masuk spesies langka,’ tambahnya. Kelangkaan itu disebabkan karena paruh bengkok dengan warna ujung-ujung sayap kehijauan itu nyaris lenyap seiring pembangunan bendungan Turucui di Brasil, habitat aslinya.
Menurut Vichai tak sembarang hobiis bisa memiliki burung berjuluk golden conure itu. Selain harga kelewat tinggi, Rp72-juta/pasang, merawat burung yang sukses ditangkarkan di Amerika Serikat itu sungguh sulit. Bayangkan bila tak ada ‘mainan’ seperti potongan ranting, burung yang baru menjadi induk setelah berumur 10 tahun itu akan mencabuti bulu-bulu sayap dan dadanya sendiri.
‘Itu tanda burung mengalami stres,’ kata Dr drh Edi Boedi Santoso MD, praktikus burung di Yogyakarta. Memang golden conure sangat mudah berubah tabiat. Suatu waktu paruh bengkok yang bertemperamen lembut itu bermain lincah dengan ranting. Nah, bila tiba-tiba datang rasa bosan ia mulai mencabuti bulunya. ‘Burung ini perlu diawasi lebih ketat daripada makaw,’ kata Vichai yang memasang kamera CCTV di kandang guaruba itu.
Mitchell’s cockatoo
Burung hias baru lain milik Vichay adalah major mitchell’s cockatoo. Tidak seperti queen of bavaria yang bertemperamen lembut, jenis paruh bengkok asal Australia itu cenderung agresif. ‘Saat ada orang mendekat, burung ini akan berteriak-teriak bahkan mematuk,’ ujar Vichai yang tidak menyarankan jenis ini dipelihara sebagai klangenan.
Menurut Yanuar Budidharma, kolektor kakatua di Bogor, mitchell’s-diambil dari nama penemunya Major Sir Thomas Mitchell-itu telah dilarang dijual keluar dari Australia. ‘Burung ini langka karena di beberapa negara bagian Australia sudah sulit ditemukan lagi,’ ujarnya. Niat memiliki bukannya tak ada. Apalagi, ‘Di Belanda jenis ini banyak diperjualbelikan,’ tambahnya. Namun, harga sepasang burung berjambul jingga dan putih yang mencapai Rp135-juta/pasang itu jadi sandungan.
Pakan biji-bijian seperti jagung, milet, dan gandum sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi kedua burung paruh bengkok itu. ‘Supaya bulunya bagus, jangan lupa diberi buah-buahan seperti pepaya dan pisang,’ tutur Vichai. Sebagai sumber protein, sesekali burung-burung yang masuk daftar endangered species itu diberi telur rebus. Semua itu bertujuan agar keindahan warna sang bavaria dan mitchell’s tidak lekas pudar, seperti yang Trubus saksikan di kandang milik Vichai Pinyawat. (Andretha Helmina)
