Trubus.id—Benih bioteknologi menjadi harapan bagi para petani. Pasalnya berpotensi mencegah risiko krisis pangan akibat perubahan iklim yang tidak menentu.
Bioteknologi modern di level global mempunyai dampak positif seperti memperbaiki produksi dan pendapatan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta ramah lingkungan karena berpotensi mengurangi penggunaan herbisida.
Bioteknologi
Manfaat benih bioteknologi itu telah dirasakan petani jagung di Desa Labuhankuris, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hamzan Wadi. Semula ia rutin menyemprotkan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma yang kerap menjadi kendala bagi petani jagung.
“Penyemprotan tiga kali sebelum tanam dengan herbisida berbahan aktif glifosat dan paraquat. Pada umur 14 hari setelah tanam (hst) aplikasi herbisida selektif,” ujar Hamzan.
Menurut Hamzan biaya pengendalian gulma untuk herbisida saja Rp2 juta per hektare (ha). Namun, sejak Desember 2022 dengan sekali penyemprotan kebun jagung Hamzan bebas gulma. Biaya penyemprotan pun turun drastis menjadi Rp425.000 per ha per musim.
Saat itu ia menggunakan jenis herbisida berbahan aktif glifosat pada jagung 10 hst. “Biasanya menggunakan herbisida itu tidak hanya gulma yang mati, tetapi tanaman utama juga,” kata Hamzan. Ajaibnya saat itu jagung tetap tumbuh baik.
Apa rahasia Hamzan sehingga bisa menghemat biaya pestisida? Ternyata ia menanam benih jagung Dekalb DK95R dari PT Bayer Indonesia. “Efisien waktu, biaya, tenaga, dan pupuk,” ujar Hamzan.

Cukup 1—2 kali aplikasi herbisida saat gulma fase 2—4 daun. Selain itu, produksi jagung Hamzan kian melonjak. Lazimnya ia memperoleh 8—9 ton jagung pipil. Setelah 120 hst jika ia konversi dalam lahan sehektare maka mendapatkan sekitar 14,8 ton pipil basah (kadar air lebih dari 30%) setara 10,2—10,5 ton jagung berkadar air maksimal 17%.
Saat itu, ia baru menanam 2 kg benih jagung Dekalb DK95R di lahan demonstration plot (demplot) seluas 1.000 m2. “Hasil panen jagung saya meningkat 19,7% dan pendapatan bersih 37%,” tutur Hamzan.
Pendapatan meningkat
Potensi pendapatan bersih petani dari penanaman jagung baru itu mencapai Rp34,9 juta per hektare (ha) dengan biaya produksi Rp14,5 juta. Bandingkan dengan kebiasan petani dengan penyemprotan herbisida 3—4 kali, pendapatan bersih hanya Rp22 juta per ha dan biaya produksi Rp16,8 juta per ha.
Bayer Crop Science Country Cluster Head for Southeast Asia and Pakistan, Stacy Markovich menuturkan bahwa peningkatan pendapatan diperoleh dari kombinasi hasil panen yang lebih tinggi dan pengurangan biaya input.
Dekalb DK95R hasil persilangan antara galur murni D2138Z sebagai tetua betina yang diintegrasikan dengan gen yang tahan glifosat (CP4EPSPS) menjadi D2138RHTTZ dengan galur murni H1620Z sebagai tetua jantan.
Jagung baru itu memiliki umur panen 99 hst. Potensi hasil 10,6 ton per ha pada kadar air 15%. Sifat unggul khusus toleran terhadap herbisida berbahan glifosat karena memiliki kandungan roundup ready (RR). Keunggulan lain tahan penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun. Daya adaptasi pada dataran rendah hingga tinggi.
Hasil kandungan nutrisi menunjukkan jagung Dekalb DK95R memiliki kadar 79,45% karbohidrat, 6,99% protein, dan 3,60% lemak sehingga memenuhi syarat kemanan hayati berupa lingkungan, pangan, dan pakan. (Widi Tria Erliana)
