Monday, January 26, 2026

Pilihan Pekebun Tin

Rekomendasi
- Advertisement -
Banyak pehobi mengincar tin martinenca rimada karena warnanya unik.
Banyak pehobi mengincar tin martinenca rimada karena warnanya unik.

Empat jenis tin baru dengan beragam keunggulan, kelir elok dan citarasa lezat.

Foto tin dari kawan di Thailand membetot perhatian Timotius Yongkie. Pada Januari 2015 sang kawan mengunggah foto itu di sebuah grup pehobi tin di dunia maya. “Saya tertarik tin itu karena buahnya belang merah,” kata pencinta tin dari Yogyakarta itu. Selama ini mayoritas tin di Indonesia belang hijau seperti panache muda. Warna buah panache yang belum matang sama dengan warna buah tin muda yang Yongkie lihat pada foto.

Bedanya saat masak panache berkelir kuning, sedangkan buah tin martinenca rimada—nama tin dari grup di dunia maya— berwarna merah berselang-seling dengan hitam. Buah martinenca pun memesona Khulub Satria Hadi. Khulub kecantol martinenda karena warna buah unik. Ia kali pertama mengetahui martinenca dari komunitas tin luar negeri di dunia maya. Yongkie dan Khulub sepakat prospek bisnis martinenca di masa depan cerah.

Khulub Satria Hadi mendatangkan tin varietas martinenca dari Spanyol.
Khulub Satria Hadi mendatangkan tin varietas martinenca dari Spanyol.

Berbuah
Mereka berkaca pada kesuksesan panache di tanahair. Hingga kini para pehobi masih menggandrungi tin yang masuk ke Indonesia pada 2012 itu. Harga panache pun tidak menukik tajam meski banyak penggemar. Saat ini harga panache berkisar Rp400.000 per bibit setinggi 30—50 cm, semula Rp500.000—Rp700.000. Menurut Khulub banyak kolektor mengincar jenis tin berbuah belang seperti panache dan martinenca.

“Tin itu cocok untuk tabulampot karena berwarna unik,” kata anak kedua dari dua bersaudara itu. Atas dasar itulah Khulub mendatangkan martinenca pada Januari 2014. Ia memboyong 3 setek setinggi 25 cm dari Spanyol seharga €15 setara Rp226.500 per batang. Berselang 20 hari setelah pesan, martinenca tiba di kediaman Khulub di Seturan, Depok, Sleman, Yogyakarta. Kondisi setek bagus karena masih bergetah.

Tin scott black, bercitarasa manis dan dan terdapat cairan seperti madu.
Tin scott black, bercitarasa manis dan dan terdapat cairan seperti madu.

Khulub lalu merendam setek itu dengan larutan pupuk mengandung vtamin B-1 selama 12 jam. Tujuannya menyegarkan setek sekaligus menormalkan kembali batang yang kisut. Selanjutnya Khulub memotong setek menjadi 2—3 bagian. Pehobi tin sejak 2010 itu menanam setek-setek itu di wadah minuman plastik. Media tanam berupa serbuk sabut kelapa lapuk dan sekam mentah dengan perbandingan 1:1.

Selang 2—3 pekan ia memindahkan tanaman ke pot berdiameter 15—20 cm. Khulub menghindari menggunakan polibag karena bisa membikin air tergenang. Dampaknya akar busuk sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Khulub memasukkan sekam, cocopeat, dan kotoran kambing dengan perbandingan 1:1:1 sebagai media tanam. Penyiraman 2 hari sekali. Agar pertumbuhan maksimal, Khulub memindahkan martinenca berumur 4 bulan ke kantong tanam.

Dua bulan berselang martinenca berbuah perdana. Padahal tin lain seperti panache berbuah saat berumur 4 bulan. “Pertumbuhan martinenca termasuk lambat,” kata pria berumur 28 tahun itu. Khulub hanya menyisakan satu buah, dan merompes 9 buah lain. Tujuannya agar tanaman tumbuh besar dahulu. Selang 3 bulan Khulub menikmati martinenca masak.

 Varietas tin dalmatie didatangkan dari Amerika Serikat
Varietas tin dalmatie didatangkan dari Amerika Serikat

Penampilan buah mirip dengan tanaman dari Negeri Matador. “Bedanya warna martinenca di Spanyol lebih tajam dan bentuk buah lebih lonjong,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu. Pemilik Jogja Ara Garden, Priyo Catur Pamungkas, mengatakan bentuk, warna, dan ukuran beberapa jenis tin berbeda dari negara asal. Bisa jadi karena tin yang ditanam di tanahair belum tumbuh optimal.

Mahal
Khulub menuturkan citarasa martinenca enak dan lezat. Tekstur daging buah creamy dan tidak terlalu berair. Bobot buah 50—60 g. Tin martinenca yang berbua di kediaman Khulub bukti tanaman itu adaptif dengan kondisi tanahair. Beberapa kolektor tertarik memiliki martinenca termasuk Yongkie. “Saat ini sekitar 20 orang yang pesan,” kata ayah 1 anak itu.

Padahal, harga bibit martinenca setinggi 20—25 cm relatif mahal senilai Rp2,5-juta—Rp3-juta. Harap mafhum proses mendapatkan dan mengadaptasikan tin itu cukup sulit. Apalagi martinenca masih tergolong eksklusif karena belum banyak pehobi yang punya tin itu. Selain martinenca, tin baru lainnya yakni bardissot blanca rimada. Bardissot mirip dengan panache.

Bordissott blanca rimada sekilas mirip panache.
Bordissott blanca rimada sekilas mirip panache.

Bedanya bardissot lebih mudah berbuah daripada panache. Bobot bardissot rata-rata lebih dari 50 g. Itu lebih berat dibanding panache yang berbobot 30—40 g. Selain itu warna daging buah bardissot lebih merah daripada panache. Tin anyar lainnya yakni dalmatie milik Handa Sugiharto. Pekebun di Kota Batu, Jawa Timur, itu mengatakan dalmatie berasal dari Amerika Serikat.

Handa mendapat tin itu berupa setek dari seorang rekan. Dalmatie berbobot 70—100 g dan bercitarasa manis. Warna buah saat masak hijau kekuningan dengan daging buah merah cerah. Koleksi Handa yang lain yakni scott black asal Perancis. “Citarasa tin itu manis dan terdapat cairan seperti madu,” kata pemilik Nurseri Tinara itu. Saat masak buah berkelir hitam. Bobot scott black 40—60 g. Handa memiliki banyak Ficus carica baru yang masih belum berbuah. Ia belum menjual tin jenis baru hingga mendapat beberapa tanaman induk. Banyaknya tin jenis baru memudahkan konsumen memilih tanaman sesuai selera. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img