Saturday, April 13, 2024

Populasi Anggrek Dendrobium capra J.J. Smith Terancam Punah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Anggek Dendrobium capra J.J. Smith, spesies dengan status terancam punah (Endangered) berdasaran evaluasi IUCN Redlist. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Destario Metusala menuturkan bahwa D.capra termasuk epifit yang beradaptasi dengan habitat kering di dataran rendah perkebunan jati.

Seiring maraknya pemanenan kayu pohon jati secara berkala, keberadaan D.capra terancam. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Trimanto dan tim meriset populasi D.capra di Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Sugihan, Sukun, dan Dodol pada Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gondang, yang merupakan perkebunan jati Perhutani di Bojonegoro, Jawa Timur. 

Penelitian itu meliputi survei populasi dan pengumpulan material tumbuhan, analisa data, dan ekologi. Hal itu sebagai dasar untuk menghasilkan penilaian status konservasi D.capra. Trimanto menuturkan  D.capra hanya tumbuh di pohon jati saja.

Trimanto dan tim menemukan 215 individu D.capra pada perkebunan jati Perhutani di Bojonegoro, Jawa Timur. Jumlah tersebut sedikit lebih kecil dari yang dilaporkan sejumlah 248 individu pada studi observasi sebelumnya yakni tahun 2008 oleh Yulia & Rusaeni.

“Hal tersebut mungkin terjadi karena pohon jati yang usianya sudah tua dan menjadi tempat hidup D. capra mengalami penebangan,” jelas Trimanto.

Untuk mengamati faktor abiotik dan biotik habitat alami dilakukan kajian ekologi. Pengamatan fenologi pembungaan dan pembuahan D.capra dilakukan sekitar tiga bulan. Hal itu sebagai salah satu bagian penting dalam upaya konservasi ex situ tumbuhan yang terancam punah melalui perbanyakan tumbuhan.

D.capra anggrek yang berbunga pada akhir musim kemarau yakni Agustus—Desember. Mekar sekitar 12—14 hari. Sementara proses perkembangan buah membutuhkan waktu 75 hari sejak proses pembuahan sampai buah matang dan siap panen.

Buah sebaiknya dipanen sebelum pecah, hal tersebut untuk menjaga agar bijinya tetap utuh. Biji tersebut yang kemudian digunakan sebagai benih perbanyakan D.capra secara kultur in vitro.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ina Erlinawati  menjelaskan jumlah individu D.capra terbanyak terdapat di RPH Dodol dengan jumlah 155 individu. Sebanyak 23 dikategorikan sebagai individu dewasa.  

Lebih lanjut ia menuturkan di RPH Sukun ditemukan 43 individu. Tidak ada individu dewasa. Sedangkan di RPH Sugihan, untuk pertama kalinya dilaporkan spesies D.capra  sangat sedikit, yakni 17 individu. Delapan yang dikategorikan individu dewasa.

 “Keberadaan individu dewasa D. capra yang jumlahnya di bawah 50 individu inilah yang menjadi faktor utama D. capra dapat dikategorikan sebagai spesies sangat terancam (Critically Endangered),” kata Ina.

Berdasarkan kajian Trimanto dan tim melalui GeoCAT D.capra berada di nilai kategori terancam punah hingga kritis (Critically Endangered). Hal tersebut juga terlihat dari menurunnya jumlah populasi spesies ini dari tahun ke tahun.

Menurut Trimanto selain penebangan pohon jati sebagai tempat hidup anggrek, penurunan populasi spesies tersebut juga disebabkan eksploitasi anggrek sebagai anggrek komersial. Namun tanpa dibarengi dengan upaya budidaya dan konservasi.

”Sebagai bagian dari program konservasi anggrek terancam punah dataran rendah Pulau Jawa, tanaman ini telah dikumpulkan sebagai koleksi ex-situ di Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Kebun Raya Purwodadi BRIN,” katanya.

“Anggrek diaklimatisasi di rumah kaca, setelah aklimatisasi berhasil, tanaman dapat tumbuh dengan baik ketika dipindah pada media arang atau media lempengan kayu,” ujar Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Melisnawati H. Angio dilansir dari laman BRIN.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Kurniawan Budiarto menambahkan bahwa hasil perbanyakan D. Capra tidak hanya ditanam sebagai koleksi ex situ tumbuhan di KKI Kebun Raya Purwodadi BRIN, spesimen herbariumnya juga telah dibuat dan diserahkan sebagai koleksi di Herbarium Bogoriense.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img