Saturday, January 17, 2026

Produksi Kopi Meningkat Berkat Lebah Madu

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Sistem integrasi kopi dan lebah madu (sinkolema) mendongkrak hasil panen biji kopi (Coffea arabica) hingga 10,55%. Panen kopi di kawasan sinkolema mencapai 1,31 ton/ha, sedangkan di luar sinkolema hanya sekitar 1,18 ton/ha.

Itulah hasil penelitian yang dilakukan Rustama Saepudin, Ph.D., di kebun kopi arabika Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, selama setahun dari Januari—Desember 2010.

Peneliti di Universitas Bengkulu itu menjelaskan bahwa lebah lebih efektif menyerbukkan bunga kopi karena proboscis—belalai panjang yang mirip sedotan untuk mengisap nektar—dilengkapi rambut yang mengikat tepung sari dengan mudah. Selanjutnya proboscis melekatkan tepung sari pada kepala putik tanaman kopi sehingga terjadilah polinasi.

Sinkolema tidak hanya meningkatkan produksi kopi. Hasil riset menunjukkan produksi madu Apis cerana yang ditumpangsarikan dengan kopi mencapai 3.355 kg/koloni/tahun. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan madu dari lebah yang dipelihara di luar kawasan tumpang sari yang hanya mencapai 1.560 kg/koloni/tahun.

Riset Rustama bermula dari rendahnya produksi madu di peternakan lebah di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, yakni hanya 1—3 kg per koloni setahun. Lazimnya produksi optimal mencapai 5—10 kg per koloni setahun.

Selain produktivitas rendah, kualitas madu rendah, yang ditandai dengan banyaknya kotoran dan tingginya kadar air, yakni melebihi 24%. Menurut Rustama permasalahan itu karena kurang memadainya ketersediaan pakan dan rendahnya tingkat penguasaan teknologi budidaya lebah.

Periset itu mengamati perkebun kopi di Kepahiang menjadi salah satu area yang potensial sebagai habitat lebah. Tanaman kopi menyediakan nektar dan polen sebagai pakan lebah (Apis cerana) sehingga menghasilkan madu yang manis.

Tak hanya itu, riset sebelumnya membuktikan bahwa madu yang dihasilkan lebah dengan pakan nektar kopi memiliki fruktosa yang tinggi (38%), aroma khas, dan warna amber atau kuning kecokelatan.

Guru besar Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Asnath Maria Fuah, menjelaskan sinkolema memiliki syarat yakni pakan lebah harus cukup. Pakan lebah bergantung pada ketersediaan tanaman kopi dan tanaman lain sebagai sumber nektar dan polen seperti kaliandra.

“Populasi 2.000 tanaman per ha sangat bisa. Sepanjang pakan cukup, maka menjamin keberlangsungan produksi madu karena lebah akan stay,” kata Asnath.

Selain pakan, pekebun harus mengawasi lebah agar tidak habis dimangsa predator. Lebih lanjut Asnath mengatakan, sinkolema dapat diterapkan pekebun untuk meningkatkan nilai jual hasil kebun sebab madu yang dihasilkan memiliki aroma khas dan bernilai jual tinggi.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img