Trubus.id—Petani asal Desa Pasirwangi, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Musi Sumarlin memanen 12 ton tomat dari lahan lahan seluas 100 tumbak (4.000 m2). Semula hasil panen pada lahan yang sama hanya 9 ton. Rahasianya, Musi menggunakan pupuk organik cair (POC) berbahan baku lemak hewani dari kulit dan gelatin.
Semula Musi hanya mengurangi pemberian pupuk sintetis kimia. Sebelumnya untuk lahan 100 tumbak ia menghabiskan 200 kg pupuk Phonska dan 100 kg pupuk TSP. Saat ini ia menggantinya dengan pupuk organik cair.
Musi menyemprotkan POC sejak benih di persemaian pada umur sepekan setelah semai. “Kalau di persemaian cukup sekali aplikasi,” kata Musi. Dosisnya cukup 5—6 tutup dalam kemasan yang dilarutkan dalam satu tangki air berkapasitas 16 liter.
Ia kembali menyemprotkan POC pada umur sepekan setelah tanam dengan dosis sama. Setelah itu penyemprotan POC berlanjut setiap 7 hari hingga tomat keluar bunga. Penyemprotan POC berhenti setelah tanaman berbunga.
Kelebihan lain yang dirasakan Musi dalam pemakaian pupuk organik cair berbahan lemak kulit yakni menghemat biaya pemupukan tomat. Semula biaya pemupukan mencapai Rp4.000 per tanaman untuk lahan 100 tumbak yang berpopulasi 4.000 tanaman. Jadi, biaya pemupukan sekitar Rp16 juta.
“Setelah menggunakan pupuk organik cair bisa menghemat biaya pemupukan hingga 25—30%,” tutur Musi.
Chief executive officer (CEO) PT Mandraguna Pusaka Utama, produsen POC itu, Mohammad Rian menuturkan pupuk lemak hewani itu kaya protein dan asam amino. “Tingkat asam amino mencapai 99%. Ini tinggi sekali,” ujar Rian.
Hasil uji kandungan hara di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), kadar nitrogen organik POC produksi Rian mencapai 0,54%. Nilai itu lebih besar daripada yang disyaratkan oleh Standar Nasional Indonesia SNI-09-7030-2004 yang hanya minimal 0,4%. Rian berharap pupuk organik cair berbahan lemak kulit produksinya dapat meningkatkan pendapatan pekebun.
