Friday, January 16, 2026

Rahasia Kesegaran Bunga Krisan Awet Hingga ke Tangan Konsumen

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Bunga krisan milik pekebun di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Jana Rojana tetap segar hingga di tangan konsumen. Dewi Novita misalnya setelah memeroleh krisan dari Jana, bunga segar hingga 12 jam semenjak pemanenan dari kebun. Lazimnya krisan melayu sekitar 6 jam setelah pemetikan.

Kualitas krisan milik Jana juga 50% grade A, 40% grade B, dan 10% grade C saat pemanenan. Krisan grade A memiliki tangkai sepanjang 75 cm, sedangkan grade B dan C masing-masing 60 cm dan 50 cm. Jana menanam krisan secara intensif, ia juga memanen dengan cara tepat.

Ia memanen krisan saat kuntum belum mekar sempurna. Tingkat kemekaran bunga sekitar 90%. Tujuannya supaya bunga mekar paripurna di tangan konsumen. Selain itu, Jana hanya memanen bunga saat pagi. Alasannya, matahari belum terlalu terik sehingga mencegah penguapan pada bunga.

“Kondisi lingkungan yang terlalu panas membuat bunga mudah layu,” kata Jana. 

Selajutnya Jana merendam ujung batang setinggi 5 cm selama 24 jam. Tujuannya supaya batang tanaman menyerap air sehingga kesegaran bunga tetap terjaga. Usai perendaman, krisan pun siap dikirim ke konsumen.

“Konsumen menginginkan kondisi bunga yang belum mekar, terutama konsumen di luar Pulau Jawa,” kata Jana.

Sebaliknya konsumen di Pulau Jawa cenderung bisa menerima bunga yang mekar karena bisa langsung menikmati keindahan bunga. Selain panen tepat, teknik budidaya intensif juga perlu dilakukan supaya tanaman tumbuh sehat.

Jana selalu memastikan lahan penanaman bersih dari gulma. Ia menanam 44 jenis krisan dalam 4 rumah tanam, masingmasing berukuran 200 m2 . Setiap rumah tanam terdiri dari 8 bedengan dengan total populasi 17.000 tanaman dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm.

Jana memasang 40 lampu berwarna kuning berdaya 14 watt di setiap rumah tanam. Lampu menyala pada pukul 18.00—06.00. “Penyinaran sangat penting saat tanaman berumur 1—30 hari setelah tanam (hst) untuk memacu pertumbuhan,” kata pria kelahiran 10 Juni 1983 itu.

Ia memupuk tanaman saat berumur 10—30 hst setiap pekan. Jana melarutkan 1 kg NPK seimbang (16:16:16) dalam 17 liter air. Lantas ia memasukkan 200 ml larutan itu ke dalam tangki berisi 10 liter air.

Setiap satu bedengan membutuhkan 14 tangki. Artinya setiap rumah tanam membutuhkan 1.120 liter larutan. Aplikasi dilakukan dengan cara mengocor.

Saat tanaman berumur 40 hst, Jana menaburkan pupuk campuran terdiri dari 2 kg NPK seimbang (16:16:16), 4 kg pupuk yang mengandung 46% fosfor, dan 1 kg pupuk yang mengandung 15% nitrogen per rumah tanam. Saat tanaman berumur 50 hst, Jana menurunkan dosis nitrogen lantaran memasuki fase generatif.

Ia melarutkan 2 sendok makan NPK (12:26:26) dalam 16 liter air di dalam tangki. Larutan itu cukup untuk menyemprot 2 bedengan. Jana juga rajin memangkas daun saat tanaman berumur 30 hst. Ia memangkas daun yang mulai layu dan kering supaya nutrisi tanaman fokus pada pertumbuhan daun sehat.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img