Hasil penelitian Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, antioksidan jahe seperti gingerol, shogaol, dan zingeron berkurang seiring perubahan suhu, oksigen, pH, peroksida, dan cahaya. Antioksidan jahe berkurang 20% saat pengeringan pada suhu 100oC selama 10 menit. Pengeringan dalam oven pada suhu 40oC selama 30 menit menurunkan aktivitas antioksidan secara perlahan.
Sementara pemanasan rimpang dalam air mendidih selama 20-60 menit menunjukkan jumlah antioksidan tetap sama. Sebab, perebusan tidak membentuk asam melanoldehida (MDA) seperti pada proses pengeringan. Terbentuknya asam melanoldehid pada reaksi oksidasi merusak senyawa fenol. Semakin lama pengeringan, kian rusak senyawa fenol. Riset Ewa Capecka dari Fakultas Hortikultura, Universitas Pertanian Krakow, Polandia, menunjukkan daun mint yang dikeringkan kehilangan berbagai senyawa aktif. Total fenol dan asam askorbat tersisa hanya 10%.
Getah
Pengeringan herbal terbukti mempengaruhi kadar senyawa aktif. Oleh karena itu Yellia menyarankan penggunaan herbal segar. ‘Herbal memang sebaiknya segar, tetapi ada beberapa herbal bergetah yang justru mesti dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah,’ kata Yelia. Mahkotadewa Phaleria macrocarpa, misalnya, mengandung getah beracun yang berbahaya jika dikonsumsi segar. Sebab, getahnya panas dan melepuhkan kulit dalam mulut.
Alasan produsen mengeringkan bahan baku herbal biasanya karena stok bahan baku melimpah. Tanaman obat yang disimpan dalam bentuk segar berisiko busuk. Oleh sebab itulah para produsen obat-obatan tradisional di tanahair lebih memilih mengeringkannya baik dengan oven maupun panas sinar matahari. ‘Produsen sebaiknya tahu cara dan tahap-tahap pengeringan yang tidak menurunkan khasiat herbal,’ kata Yellia.
Perlakuan pengirisan untuk mempercepat pengeringan, misalnya, juga menjadi faktor penting menjaga kualitas. Ketebalan irisan untuk setiap jenis herbal berbeda-beda. Contoh, untuk temulawak ketebalan irisan 7-8 mm. Sedangkan pengirisan jahe, kunyit, serta kencur 3-5 mm. Perajangan terlalu tebal memerlukan waktu lama dalam pengeringan dan kemungkinan besar bahan mudah terkontaminasi bakteri dan cendawan. Irisan terlalu tipis menyebabkan kadar minyak asiri dan zat aktif menurun. Perajangan harus menggunakan pisau tajam dari bahan baja nirkarat dengan bentuk irisan membujur.
Echinacea
Menurut dr Jen W Tan, pakar herbal dari Inggris, bahan yang dikeringkan akan mengalami penurunan senyawa aktif akibat reaksi oksidasi dan enzimatis. ‘Penurunannya signifikan mencapai 50% dibanding herbal segar,’ kata Jen, yang juga direktur A Vogel, produsen herbal echinacea. Itu sesuai dengan penelitian M Tobler. Tobler membandingkan masing-masing 2 kg echinacea segar yang langsung diproses dan echinacea yang dikeringkan pada suhu rendah 40oC selama 24 jam. Kedua metode itu menghasilkan masing-masing 10 botol tingtur alias cairan hasil ekstraksi etanol.
Setelah itu Tobler mengukur kandungan senyawa alkilamida pada kedua jenis tingtur. Alkilamida adalah senyawa aktif mudah menguap yang bertanggung jawab meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta meningkatkan sel fagosit yang memerangi bakteri dan cendawan. Hasilnya, kadar alkilamida echinacea segar 79,9%; kering 30%.
Oleh sebab itu, suplemen echinacea A Vogel selalu berasal dari bahan segar. Hasil panen mesti segera diolah agar kandungan senyawa aktif tidak berkurang. ‘Pokoknya tidak boleh lebih dari 24 jam,’ ujar Jen ketika ditemui Trubus di Jakarta. Makanya, seluruh karyawan berpacu dengan waktu agar echinacea hasil panen bisa langsung diolah.
Echinacea purpurea mengandung senyawa alkilamida, asam sikorat, polisakarida, glikoprotein, flavonoid, dan minyak esensial. ‘Senyawa-senyawa itu berperan merangsang pertumbuhan natural killer (NK) cell pada sistem kekebalan tubuh,’ ujar alumnus Fakultas Kedokteran Newcastle University, Inggris, itu.
Musim panas
Tanaman echinacea siap panen ketika berumur setahun setelah tanam. Di Roggwil, Swiss, penanaman anggota famili Asteraceae itu pada Mei, awal musim panas. Pada musim panas berikutnya, echinacea berbunga dan siap panen. Panen menggunakan mesin untuk memotong pangkal batang, sekitar 2-3 cm dari permukaan tanah. Tanaman sisa panen tumbuh kembali setelah musim dingin. Setelah 3 kali panen, echinacea dipanen hingga ke akar-akarnya dan diremajakan. Akar echinacea dapat dimanfaatkan karena kandungan senyawanya tidak berbeda dengan bunga. A Vogel menambahkan akar 5% dari total bahan baku.
Setelah dicacah echinacea direndam dalam larutan air dan alkohol hingga berkadar 64%. Setiap 2 pekan rendaman itu diperiksa di laboratorium untuk mengontrol aktivitas bahan aktif. Setelah itu, ekstrak alkohol echinacea dikemas dalam botol bervolume 150 ml. Ekstrak itulah yang diolah menjadi tablet setelah dicampur dengan tepung dan gula berdosis tertentu. Campuran itu kemudian dicetak menjadi bentuk tablet.
A Vogel memproduksi 40.000 liter obat cair berbahan echinacea setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, perusahaan itu membudidayakan echinacea di lahan 8 ha. Dari sanalah perusahaan yang berdiri sejak 40 tahun silam itu memanen sekitar 56 ton echinacea segar setiap tahun.
Agar pasokan tidak terputus, A Vogel mencadangkan bahan baku dalam bentuk tingtur. Menurut Jen, kandungan senyawa dalam larutan itu awet hingga 2 tahun tanpa mengurangi zat aktif yang dikandungnya. Artinya sama seperti bahan segar sebagaimana dimaui Yellia Mangan. (Vina Fitriani)
