Anthurium ‘Kraken’ koleksi Raka Nanda Saputra itu sangat unik. Karakter fisik daun tanaman itu memiliki cekungan atau lekukan (sinus) di pangkal daun yang turun. Normalnya sinus pada daun anthurium naik. Daunnya juga keriting dan seperti ada insang. Itulah anthurium “ciptaan” Raka. Anthurium itu merupakan hasil perkawinan silang antara anthurium x one x portillae dengan anthurium muchlis. Raka menyukai hasil silangan yang berdarah anthurium muchlis.
“Saya suka menyilangkan dengan indukan anthurium muchlis karena sering muncul silangan yang aneh-aneh,” kata warga Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, itu. Genetik muchlis yang diturunkan pada anakan yakni berkarakter daun keriting. Biasanya kristal lokal juga kerap menurunkan karakter berdaun keriting. Namun, karakter daunnya itu tidak menurun pada anaknya. Sementara karakter muchlis menurun ke anak dan terlihat dominan.
Koleksi premium
Begitulah kegiatan sehari-hari Raka. Ia bergelut dengan ribuan koleksi anthurium hasil silangannya. Penjualan dari anthurium itulah yang memberikan Raka omzet puluhan juta rupiah per bulan. Pendapatan itu ia peroleh dari perniagaan 20—50 anthurium ke mancanegara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan beberapa negara di Benua Eropa. “Saya tidak melakukan sendiri, tapi teman saya yang mempunyai izin ekspor dan saya mengekspor tanaman lewat dia,” ujar pemilik nurseri Sunny Spot Garden itu.
Ia mendapatkan permintaan dari luar negeri hanya mengandalkan unggahan foto tanaman di media sosial. Pelanggan Raka lebih banyak perorangan. Ia tidak melayanai penjualan secara grosir. “Brand image saya adalah koleksi premium,” ujar Raka. Untuk mendapatkan pelanggan di mancanegara, Raka biasanya mengikuti tren di sana. Kiblat tren itu biasanya mengacu pada permintaan. Misal di Amerika Serikat biasanya banyak permintaan jenis velvet. Sementara di Tiongkok yang paling banyak diminati jenis-jenis silver.
Namun, mengikuti tren itu menjadi tantangan terberat bagi Raka karena tren di luar negeri berubah sangat cepat. Misal pada September 2025 sedang tren yang jenis anthurium velvet. Dua bulan berselang tren berubah ke silver. Ketika silver selesai, lalu berganti lagi ke daun merah, nanti berganti lagi ke ungu. Begitu seterusnya. “Risikonya kalau kita sampai tidak tersedia barang, pasti penjualannya akan terpengaruh,” ujar pemuda berusia 28 tahun itu. Oleh sebab itu, sebisa mungkin apa yang diinginkan pasar barangnya tersedia.

Selama melayani pasar ekspor, Raka belum pernah mengalami penipuan dalam pengiriman. Tanaman mati selama pengiriman pernah terjadi karena kotak kemasan disimpan di tempat yang terkena sinar matahari langsung sehingga tanaman kepanasan seperti di oven. Mengenali prilaku konsumen mancanegara juga penting untuk menyasar pasar ekspor. Biasanya mereka menghindari risiko. Oleh sebab itu mereka biasanya meminta tanaman berukuran kecil (small) dan medium.
Mereka mencari yang murah dulu karena ongkos kirim tergolong mahal sehingga tidak terlalu berisiko. Raka menyasar pasar mancanegara karena ingin mengenalkan hibrida Indonesia kepada pasar mancanegara sehingga lebih dikenal dan bisa bersaing di pangsa pasar international. Harapan lainnya agar pasar mancanegara juga lebih stabil dalam hal tren dan harga. Sebetulnya ia juga melayani pembelian di dalam negeri.
Keluar PNS
Setiap bulan terjual 50—100 anthurium untuk pehobi di tanah air. Mereka lebih menyukai anthurium anthurium mutasi yang memiliki bentuk, warna, dan karakter unik. Menurut Raka perawatan yang intensif sangat penting bila ingin sukses merawat anthurium. Contoh penggunaan media tanam. Ia biasanya menggunakan campuran pakis cacah, kelenteng, dan pasir malang. Untuk pemupukan ia menggunakan pupuk daun dengan kadar nitrogen (N) tinggi atau pupuk bernutrisi lengkap yang lambat urai (slow release).
Ia juga menambahkan larutan nutrisi tanaman serbaguna yang berfungsi sebagai “vitamin” tanaman, menyediakan nutrisi lengkap, dan menjaga pH stabil. Selain itu ada tambahan larutan yang mengandung kalsium dan magnesium. Seluruh pupuk itu dicampur dan diberikan seminggu sekali dengan dosis 3 ml sekali pakai. Pengorbanan Raka untuk menekuni dunia anthurium tergolong besar. Ia sampai rela mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan.
“Saya bosan begitu-begitu saja,” kata Raka. Padahal, untuk memperoleh pekerjaannya itu ia mesti lulus dari Politeknik Keuangan Negara (PKN) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Sekolah itu dikenal sangat sulit untuk masuk ke sana. Raka tertarik memilih anthurium karena menyukai tantangan. Apalagi anthurium bisa menghasilkan silangan-silangan baru yang bervariasi. Contoh aneka anthurium unik dan langka dengan variegata bermacam-macam seperti variegata merah muda (pink), oranye, putih, dan hijau.

Raka mulai belajar menyilangkan anthurium secara otodidak sejak 2019. Waktu itu informasi belum terlalu terbuka seperti sekarang. Jumlah penyilang anthurium pun masih sedikit. Jadi, tidak ada ilmu pasti kapan harus diserbuki serta silangan yang satu bisa tidak disilangkan dengan yang lainnya. “Semuanya itu harus berdasarkan eksperimen,” kata pria kelahiran Magelang itu. Pada 2020, ia mulai aktif menjadi penyilang. Sekarang ia mengetahui ilmu menyilangkan anthurium sehingga tak perlu buang-buang waktu untuk eksperimen.
Sekarang orientasi Raka ke pasar. Untuk menekuni hobinya itu, ia membangun rumah tanam (greenhouse) berukuran 4 m x 9 m dan tinggi 3,5 m yang mahal. Rumah tanam seharga Rp50 juta itu bisa menampung lebih dari 1.000 tanaman. Ia sengaja membangun rumah tanam itu untuk menampung jenis anthurium yang susah hidup di daerah panas. Tidak heran rumah tanam itu dibuat tertutup dan tidak terkena sinar matahari sehinga lebih dingin.
Ia juga membuat rumah tanam lainnya dengan konstruksi yang lebih sederhana. Total luas greenhouse mencapai 200 m2. Kelembapan di semua greenhouse diatur 70%—90% dan suhu 28°C—30°C. Raka meyakini tren anthurium masih sangat panjang. Alasannya sekarang pun masih tahap awal tren serta belum semua pehobi di mancanegara maupun lokal terjun ke anthurium. Kehadiran anthurium hibrida baru yang terus menerus keluar akan menjaga ekosistem pasar tetap positif. (Imam Wiguna/Peliput: Nurul Aldha Mauliddina Siregar)
