Wednesday, January 28, 2026

Respon Cepat Taiwan

Rekomendasi
- Advertisement -

Taiwan sukses menghasilkan sayuran berkualitas berkat perawatan intensif dan penerapan teknologi tepat guna.

Taiwan menerapkan keterlacakan produk untuk komoditas sayuran demi menjamin kesehatan konsumenSepti Nur Arlinda membolak-balik kemasan sayuran di gerai pasar modern. Bukan sayuran mulus yang ia cari, melainkan sayuran dengan beberapa lubang. “Itulah ciri sayuran organik,” kata Septi yang tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Menurut ibu dua anak itu sayuran organik lebih sehat ketimbang sayuran nonorganik lantaran bebas residu pestisida dan pupuk kimia.

Menurut praktikus pertanian di Bandungan, Semarang, Jawa Tengah, Yoseph Sindu Isworo, tidak selamanya sayuran yang berlubang adalah hasil budidaya organik. “Bisa saja daun berlubang karena telat menyemprotkan pestisida,” kata Sindu. Artinya ciri fisik bukan parameter baku menentukan sayuran hasil budidaya organik atau bukan. Menurut Yoseph, produk organik terbilang bisa dipercaya kalau sudah tersertifikasi oleh lembaga yang kredibel.

 

Terlacak

Nun di Taiwan, konsumen tidak perlu galau melacak asal-usul sayuran. Semua informasi produk, mulai dari kandungan residu pestisida, pemberian pupuk, dan pola budidaya tersimpan dalam bentuk kode Quick Response (QR). Menurut ahli agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran,  Dr Tomy Perdana SP MM, sistem kode QR untuk produk sayuran belum ada di tanahair. Saat ini baru sekadar menggunakan kode batang (barcode) untuk jenis sayuran ekspor seperti paprika, selada air, dan buncis. “Padahal dengan menggunakan kode QR, keuntungannya data yang disimpan lebih banyak dan alat pemindai yang lebih beragam,” tutur Tomy.

Cara menggunakan kode QR sangat mudah. Pembeli tinggal memindai kode berbentuk persegi itu dengan kamera perangkat telepon cerdas. Cara lain, pembeli bisa memindai kode itu ke alat pemindai di pasar modern. “Bahkan pembeli bisa mengetahui petani yang membudiayakan sayuran itu,” ucap Liao Dingchuan, ketua koperasi sayuran Hankuan, Yunlin, Taiwan.

Pemerintah Taiwan menerapkan keterlacakan produk (traceability) sejak 1994. Saat itu Departemen Pertanian Taiwan memulai sertifikasi Praktik Pertanian Baik Taiwan atau Taiwan Good Agriculture Practice (TGAP) untuk sayuran dan buah. Inisiatif melaksanakan praktik pertanian yang baik muncul sejak insiden kontaminasi beras oleh logam kadmium di Taiwan bagian selatan dan merebaknya polusi pada pengujung 1980.

Jaring penaung hitam berfungsi melindungi sayuran agar tidak layu saat dipanenSemula TGAP hanya fokus terhadap peningkatan hasil panen. Namun, program itu menjadi sekaligus meningkatkan keamanan dan kualitas produk. Menurut Huu-Sheng Lur dari Departemen Agronomi Universitas Nasional Taiwan, setiap tahun jumlah kelompok petani yang menerapkan TGAP meningkat. Menurut data yang dikeluarkan Institut Penelitian Bahan Kimia dan Beracun Pertanian Taiwan (TACTRI), pada 2003 terdapat 582 kelompok tani yang menerapkan TGAP. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya 520 kelompok.

Petani yang mengadopsi TGAP tergabung dalam koperasi. Salah satunya koperasi sayuran dan buah Hankuan di Kota Xiluo, Provinsi Yunlin. Jika ada petani baru ingin bergabung, petugas koperasi akan mengunjungi lahan petani terlebih dahulu. Tujuannya menguji kualitas tanah dan air. Semua data itu lantas dicatat dalam basis data komputer. Jika hasilnya memenuhi syarat, barulah sang petani diterima sebagai anggota koperasi.

Pemantauan petugas dari koperasi berlanjut sampai tahap budidaya dan panen. Itu termasuk pemupukan, pola budidaya, pemberantasan hama penyakit, cara panen, pengemasan, serta pengiriman produk. Jadi tidak heran jika konsumen sayuran bisa mengetahui “sejarah” produk yang mereka beli.

Petani Taiwan membudidayakan sayuran dalam rumah tanam berdinding dan beratap jaring peneduh berkerapatan 80%. Tujuan pemasangan jaring itu melindungi sayuran dari hujan, mengendalikan lingkungan mikro, sekaligus menyeragamkan hasil pertanian. Menurut ketua Gabungan Kelompok Tani Mekarsari, Bandung Barat, Jawa Barat, Eson Tarhasan, petani tanahair jarang menggunakan rumah tanam dengan jaring karena membutuhkan biaya besar.

Pengemasan produk menggunakan mesin untuk efisiensi waktuLiao mengatakan pekebun juga mesti memilih jaring berwarna hijau, bukan warna lain seperti putih atau hitam. Sebab, tanaman telah memiliki zat hijau daun. “Sinar hijau dalam spektrum cahaya mengganggu proses fotosintesis. Jaring berwarna hijau mengurangi cahaya hijau dari sinar matahari,” kata Liao.

Koperasi yang mengadopsi TGAP melarang petani anggotanya memberikan  pestisida atau pupuk sembarangan.  Jika terjadi masalah budidaya, petani cukup menghubungi pusat kontrol dan memberitahu masalah yang  dihadapi. Selanjutnya pusat kontrol mencari data lahan si petani berupa komoditas yang ditanam, kondisi air, dan tanah, serta kemungkinan hama yang menyerang.

Dari data itu pusat kontrol mengeluarkan jenis dan dosis pestisida yang digunakan. “Jadi, ada semacam ‘dokter tanaman’ yang memberikan resep untuk tanaman yang sakit,” kata Liao. Selanjutnya petani tinggal menunggu petugas datang ke lahan untuk menyerahkan pestisida dengan dosis sesuai resep. Dengan demikian, segala asupan yang diberikan petani di tahap budidaya benar-benar terencana dan terekam. Semua perawatan intensif itu membuat sayuran Taiwan diterima baik di pasar domestik maupun ekspor. (Riefza Vebriansyah)

 

Inovasi Formosa

Dari depan bangunan bercat kombinasi krem dan cokelat itu tampak sepi. Namun, jika kita melangkahkan kaki 50 m ke dalam, terdengar suara aneka mesin tengah bekerja. Di tempat itu juga terlihat beberapa orang sibuk memasukkan wortel ke dalam kemasan. Berjarak 10 m dari tempat itu tampak pekerja yang membersihkan daun bawang. Itulah aktivitas harian pekerja koperasi sayur dan buah Hankuan, Yunlin, Taiwan.

Koperasi beroperasi sejak 1988. “Tujuan utama koperasi itu meningkatkan taraf ekonomi petani, peningkatan kualitas produk, daya saing, dan kepuasan konsumen,” ujar Liao Dingchuan, kepala koperasi Hankuan.

Itu sebabnya mereka menerapkan cara budidaya modern dengan teknologi terbaru. Sebut saja penanaman sayuran dalam rumah tanam dengan jaring dan pengairan dengan irigasi tetes. Koperasi juga memperhatikan kesehatan konsumen dengan meminimalkan penggunaan pestisida pada sayuran, khususnya sayuran daun. Demi kepuasan konsumen, Koperasi Hankuan melakukan inovasi produk sayuran.

Inovasi itu antara lain dalam bentuk produk sayuran yang sudah dipotong, sudah dicuci dan siap masak, atau sayuran siap konsumsi. Konsumen tinggal memilih produk sayuran sesuai selera. Kini terdapat 264 petani dengan total lahan 191, 3 ha yang tergabung dalam Koperasi Hankuan. Konsisten, inovasi, dan manajemen menjadi kunci sukses perkembangan koperasi Hankuan. (Riefza Vebriansyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img