Saturday, August 13, 2022

Saat Santigi Unjuk Gigi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bonsai santigi tertiup angin bagai di habitat asli menjadi yang terbaik di kontes internasional.

Bonsai santigi milik Dr Alfred Manarang menyabet grand prize lantaran karakter pohon yang terlihat tua dan kokoh melalui berbagai kondisi lingkungan.
Bonsai santigi milik Dr Alfred Manarang menyabet grand prize lantaran karakter pohon yang terlihat tua dan kokoh melalui berbagai kondisi lingkungan.

Santigi setinggi 120 cm koleksi Dr Alfred Manarang itu tampil paling menonjol. Bonsai bersosok besar itu bergaya miring ke kiri dengan sebagian percabangan semicascade. Susunan percabangan rapi dan alami. Daun-daunnya sangat kecil dan tersusun rapat menandakan bonsai itu melewati masa training yang cukup lama. Selain itu kulit batang yang retak-retak dan cabang mengelupas menandakan pohon tua.

Bonsai santigi Pemphis acidula itu tampil terbaik dalam kontes bonsai pada Maret 2016. “Pohon mengecil lurus ke atas dan bentuk percabangan yang asimetris. Tampilan batangnya mengesankan umur tua dan menggambarkan kehidupan di alam liar dan melalui berbagai kondisi ekstrem seperti terjangan topan,” kata ketua panitia kontes sekaligus kolektor bonsai senior di Filipina, Roberto Gopiao.

Teknik jin
Kontes bonsai itu berlangsung di Ayala Garden Triangle, Kota Makati, Filipina. Lokasi kontes merupakan sebuah taman di tengah Kota Makati yang dikelilingi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi. Taman yang memiliki pohon pohon tinggi yang rindang membuat para penggemar bonsai leluasa menikmati pesona bonsai.

Soka Ixora coccinea milik Roberto Gopiao dengan bunga yang lebat menyingkirkan pesaingnya menjadi juara kelas nonsantigi.
Soka Ixora coccinea milik Roberto Gopiao dengan bunga yang lebat menyingkirkan pesaingnya menjadi juara kelas nonsantigi.

Penyelenggara kontes adalah Philippines Bonsai Society berdiri pada 1973 dan anggota Bonsai Club International.
Masyarakat Bonsai Filipina memasukkan santigi di kelas khusus. Sebab, dari 300 pot peserta pameran, separuhnya adalah santigi. Filipina memang merupakan surga santigi yang dalam bahasa setempat disebut bantigue. Para pebonsai negeri jiran itu menampilkan santigi dalam bentuk jin atau memanipulasi batang kayu dengan mengelupas kulit untuk menunjukkan usia tua.

Pebonsai Filipina juga menerapkan teknik shari atau menggambarkan perjuangan pohon untuk mempertahankan hidup dengan komposisi yang menarik. Menurut Gopiao selama ini bantigue menjadi tanaman yang paling populer di kalangan kolektor dan penggemar bonsai di negaranya. Tanaman anggota famili Lythraceae itu memiliki keistimewaan dapat tumbuh baik, menghasilkan akar, dan tunas secara cepat.

Itulah alasan tanaman itu menjadi favorit penggemar yang ingin memperoleh tanaman bonsai dalam waktu cukup singkat. Secara alami santigi mempunyai bentuk yang indah. Di habitatnya santigi mendapat terjangan angin dan gelombang setiap saat. Dalam segi keindahan, santigi Filipina bersaing ketat dengan santigi Indonesia. Bahan-bahan mereka mirip dengan santigi dari Sulawesi yang juga memiliki variasi bentuk yang cukup beragam.

Soka indah

Santigi atau bantigue Pemphis acidula menjadi favorit pehobi bonsai di Filipina karena bentuknya yang eksotis karena bentukan alam.
Santigi atau bantigue Pemphis acidula menjadi favorit pehobi bonsai di Filipina karena bentuknya yang eksotis karena bentukan alam.

Beragam bonsai lain seperti saing simbur alias blue bell Desmodium acanthocladum, beringin taiwan Ficus microcarpa, buni Antidesma bunium, dan jeruk kingkit Triphasia trifolia bergabung di kelas nonbantigue. Selain itu di kelompok nonsantigi juga terdapat tuga Vitex trifolia, asam Tamarindus indica, soka Ixora coccinea, cemara duri Juniperus chinensis, cemara udang Casuarina equisetifolia, dan serut Streblus asper.

Pemenang dalam kategori nonbantigue ialah bonsai soka atau dalam bahasa Tagalog santan. Menurut Gopiao keistimewaan soka itu siluet yang bersih, visual arah cabang yang menyebar ke segala arah, dan bunga memenuhi seluruh tajuk. Juri pun menabalkan gelar juara karena pertumbuhan cabang yang benar, anggun dengan basis akar menarik, dan kesesuaian pemilihan pot yang tepat melengkapi keseluruhan keindahannya.

Tanaman soka itu termasuk bonsai berkualitas karena pemiliknya merawat dengan penuh ketelitian. Proporsi pohon seimbang, pemotongan kawat yang rapi, dan cukup paparan sinar matahari. Selain menampilkan bonsai, gelaran itu juga sebagai ajang pameran dan kompetisi batu suiseki. Salah satu peserta yang paling mencolok adalah sado-akadama, batu kemerahan dari Pulau Sado, Niigata, Jepang, bagai sebuah gunung yang miring dengan puncak tinggi.

Ada pula batu hitam dengan jejak putih alami berbentuk seperti krisan. Itu terbentuk di dasar laut selama ribuan tahun. Batu-batu lain dengan bentuk yang mengagumkan karena terbentuk rongga alami, permukaan mereka berpola, dan terowongan yang memungkinkan cahaya untuk masuk. Beberapa batu menggambarkan tokoh dari ibu dan anak, ular, patung manusia dan hewan.

Kontes suiseki yang diikuti peserta dari berbagai negara di dunia.
Kontes suiseki yang diikuti peserta dari berbagai negara di dunia.

Ketua Asosiasi Suiseki Amerika Serikat sekaligus dan juri kontes, Thomas Elias, mengatakan bahwa batu itu dapat mengingatkan pemiliknya tentang lansekap, sebentuk kepingan pemandangan, dan gunung. Dengan menikmati keindahan suiseki itu akan membantu kolektornya sejenak teralihkan perhatiannya dari berbagai masalah. Selain kontes bonsai dan suiseki, panitia juga menyelenggarakan demonstrasi berbagai macam teknik bonsai.

Master bonsai asal Jepang, Shinichi Nakajima, memperagakan pembentukan pohon podocarpus. Adapun Minhsuan Lo dari Taiwan memperagakan pembentukan Pemphis acidula. Beberapa master Taiwan lain membentuk bonsai kemuning. Untuk suiseki, banyak pula para pakar dan peserta dari luar negeri seperti dari Amerika Serikat dan Tiongkok. (Budi Sulistyo, ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia cabang Jakarta)

Previous articleLezat untuk Mata
Next articleSemarak Pesta Anggrek
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img