Tuesday, January 27, 2026

Sabut Tempat Tanam Tiram

Rekomendasi
- Advertisement -

Sabut kelapa potensial sebagai media tanam jamur tiram.

Jamur tiram dapat dibudidayakan menggunakan baglog sabut kelapa.
Jamur tiram dapat dibudidayakan menggunakan baglog sabut kelapa.

Kelapa tanaman unggulan di Provinsi Sulawesi Utara. Namun, peningkatan jumlah tanaman tidak diimbangi dengan pemanfaatan seluruh bagian kelapa secara optimal di Tanah Nyiur Melambai itu. Petani bayak membuang sabut buah Cocos nucifera itu. Sampai kini masyarakat di Sulawesi Utara memanfaatkan sabut kelapa hanya sebatas sebagai bahan bakar pembuatan cakalang fufu atau cakalang asap serta membakar ikan.

Berdasarkan uji di Laboratorium Kimia Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, sabut buah kelapa mengandung 57,09% holoselulosa, 32,64% alfaselulosa, dan 50,66% lignin. Menilik dari kandungan
itu, muncul ide memanfaatkan limbah sabut kelapa sebagai media tumbuh atau baglog untuk penanaman jamur tiram.

Menjaga kelembapan
Selama ini petani jamur tiram banyak menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam. Namun, berdasarkan penelitian sebelumnya, jamur tiram kurang berkembang atau bahkan sama sekali tidak tumbuh bila menggunakan media berbahan serbuk gergaji dari kayu berdaun jarum seperti pohon pinus. Petani kadang-kadang tidak mengetahui asal serbuk gergaji dalam baglog. Padahal, jamur tiram putih mudah tumbuh pada berbagai media.

Pertumbuhan jamur tiram menggunakan media sabut kelapa. Akar melekat kuat.
Pertumbuhan jamur tiram menggunakan media sabut kelapa. Akar melekat kuat.

Selain itu masyarakat juga mengenal jamur tiram yang lezat, mudah diolah, dan memiliki nutrisi yang baik. Jamur Pleurotus ostreatus itu memiliki pangsa pasar yang jelas, sehingga petani tidak sulit untuk memasarkan hasil panen. Jika hendak memanfaatkan sabut kelapa sebagai bahan utama media tumbuh jamur, pilih kelapa tua. Keseluruhan bagian kelapa, yakni sabut, kulit, serat, hingga bagian spon berwarna kecokelatan.

Selain memiliki kandungan selulosa dan lignin yang merupakan faktor esensial pertumbuhan jamur tiram, sabut kelapa juga mampu mengikat air dengan baik. Itu menjaga dan mempertahankan kelembapan media. Kondisi lingkungan yang lembap mendukung pertumbuhan miselia jamur. Kelebihan lainnya, akar jamur tiram putih merekat lebih kuat dan tidak mudah patah atau tercabut karena strukur sabut kelapa yang masih berbentuk serat, bukan serbuk.

Percobaan pada Januari—April 2015 di laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado, Sulawesi Utara, itu memanfaatkan sabut kelapa sebagai bahan utama. Peneliti menambahkan bahan lain yaitu dedak, kapur pertanian, dan air. Untuk 1.000 gram sabut kelapa, diperlukan 200 gram dedak dan 10 gram kapur pertanian.

Sabut kelapa dapat dimanfaatkan untuk media tumbuh jamur.
Sabut kelapa dapat dimanfaatkan untuk media tumbuh jamur.

Pencampuran air sekitar 60% dari bobot total campuran atau bila kelembapan yang diinginkan tercapai. Dedak berfungsi sebagai sumber karbohidrat dan zat tepung, sementara kapur pertanian berguna untuk mengatur tingkat keasaman. Air merupakan molekul sempurna untuk pertumbuhan setiap makluk hidup termasuk untuk mempertahankan kelembapan dalam media tumbuh. Jamur tumbuh optimal pada kondisi lingkungan yang lembap.

Pembuatan media tanam jamur tiram menggunakan sabut kelapa cukup sederhana, hampir sama dengan pembuatan media tanam berbahan dasar serbuk gergaji (baca ilustrasi: Sabut untuk Jamur). Bahkan, petani pun mampu mengolah sendiri. Jika tak punya autoclave, petani dapat menggunakan dandang untuk sterilisasi. Pengukusan media dengan dandang selama 6—8 jam. Proses itu untuk mematikan bakteri dan kontaminan yang terdapat pada media.

Binder1.pdfKualitas jamur tiram yang tumbuh di media sabut kelapa relatif sama dengan jamur di serbuk gergaji. Secara morfologi, warna dan ukuran kualitas jamur tampak sama baiknya. Produksi jamur tiram pada baglog sabut kelapa berbobot 700 gram mencapai 120—160 gram dalam 1 periode panen. Artinya biological effective ratio (BER) mencapai 17—23%. Produktivitas itu relatif rendah. Sebab selama ini BER tiram rata-rata hanya 30%.

Pertumbuhan miselium pada baglog sabut kelapa.
Pertumbuhan miselium pada baglog sabut kelapa.

Jamur tiram putih dengan media sabut kelapa cukup baik dengan diameter tudung rata-rata 6—8 cm. Pada penelitian dengan bahan utama media serbuk sabut kelapa atau cocopeat hasil panen mencapai 100—140 gram. Satu baglog dapat berproduksi hingga 3 kali, dan selanjutnya bobot per panen akan turun. Untuk kualitas nutrisi, saat ini sedang dilakukan uji nutrisi di Laboratorium Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada.

Gangguan penyebab gagal panen atau berkurangnya produktivitas janur tiram adalah kontaminasi jamur lain yang bukan target. Selain kontaminasi bakteri yang biasanya disebabkan karena proses pembuatan media dan inokulasi bibit yang tidak steril. Sementara jenis hama pengganggu yang kerap ditemukan adalah ulat yang memakan tubuh buah jamur menjelang panen.

Selain sebagai media tumbuh jamur tiram putih, baglog sabut kelapa juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai media tumbuh bagi jenis jamur komersial lain, sepeti jamur ganoderma yang berpotensi obat dan jamur pangan lainnya. Penggunaan sabut kelapa bernilai ekonomis karena petani tidak perlu membayar untuk mendapatkan sabut kelapa sebagai bahan utama media tumbuh. (Margaretta Christita dan Ady Suryawan, peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Manado, Sulawesi Utara)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img