Friday, May 24, 2024

Sakti karena Padi

Rekomendasi
- Advertisement -

Sekarang, berapa macam varietas padi dikonsumsi manusia di berbagai penjuru dunia? Tentunya banyak sekali. Dalam ajang pameran padi di Taipei, akhir Maret 2005, tersedia 270 jenis padi lokal. Semua ditunjukkan dalam keadaan mentah maupun sudah dimasak. Ada beras ketan putih, hijau, hitam. Ada juga beras merah, beras menir yang kecil-kecil, maupun beras besar yang panjang tiap butirnya mencapai 1,5 cm.

Kebudayaan padi, atau rice culture, sesungguhnya bukan monopoli bangsabangsa Asia. Amerika Serikat, sejak masih wilayah koloni Inggris pada abad 17, sudah terkenal sebagai eksportir beras. Waktu itu, dari Carolina saja terkirim 300 ton beras ke Inggris dan puluhan ton lagi ke kepulauan Hindia Barat.

Sebaliknya, bangsa pemakan beras terbesar di dunia seperti kita, boleh dikatakan kalang-kabut menyiapkan periuknya sendiri. Indonesia beruntung punya presiden yang juga doktor dalam ilmu pertanian. Namun, apa artinya bila pasokan nasi masih belum mencukupi, padi dan beras kurang dihormati. Buktinya? Pola tanam, sistim panen, dan pola penyimpanan padi kita banyak borosnya.

Variasi beras dan produk olahannya pun kian terbatas. Padahal mestinya beras tidak hanya dikonsumsi sebagai nasi, tetapi juga sebagai makanan ringan dan berbagai jenis minuman baik keras maupun ringan. Dalam hal ini kita bisa melihat betapa bervariasi olahan nasi di Jepang. Mulai dari yang dikocok dengan telur, dibungkus rumput laut (onogiri), dicampur daging (sembei), dijadikan kue beras (mochi), maupun minuman keras (sake).

Varietas olahan nasi dalam bentuk bola, kerucut, piramid, dan wajik lebih banyak berkembang di Jepang karena varietas padinya, yaitu japonica, dengan ciri butirnya lebih pendek, pulen atau pekat. Bentuk ekstrimnya adalah ketan. Sedangkan beras lainnya, varietas indica, lebih panjang dan ringan, yang disajikan sebagai bubur, nasi akas, nasi bakar, maupun rebusan ¾ matang, sehingga terasa masih agak keras.

Kekayaan terpendam

Sebetulnya, padi Indonesia beratusratus, bahkan beribu-ribu jenisnya. Terlepas dari hasil silangan seperti IR 64, mamberamo, dan IR 66, ada bermacam jenis beras andalan seperti rojolele, beras solok, cianjur, delanggu, dan bali. Dari varietas dan cara tanamnya kita juga mengenal padi pasang-surut, padi gogo, padi laut, dan padi hutan.

Di perkampungan Baduy, Dusun Kanekes, saya pernah disuguhi nasi asli pedalaman, yang nikmat dimakan tanpa lauk sama sekali. Di rumah sastrawan Rendra, kita bisa dimanjakan dengan nasi beras merah. Maklum saja, Ken Zuraida, istrinya, fanatik pada beras yang lebih bernutrisi, bahkan bertekad menanamnya sendiri di seputar rumah.

Perempuan hebat lain yang juga menanam padi di seberang kolam renangnya adalah Toeti Heraty. Bukan untuk dipanen, tapi untuk mengundang dan memberi makan burung. Sedangkan Ibu Sri Redjeki Boediardjo, menanam padi di rumahnya, supaya anak-cucu tahu bentuk beras sebelum jadi nasi, dan punya pengalaman menanam, menjaga, memanennya.

Singkat kata, pejuang-pejuang beras dan padi lokal terus bergerak dan bertahan meskipun dalam skala kecil-kecilan. Sayangnya, tradisi dan kekayaan lokal yang terpendam itu sulit diangkat ke permukaan. Pada massa “orde baru” (1966—1998) keberagaman padi dan beras justru nyaris tumpas. Gairah untuk mencapai swasembada beras, mengutamakan penyeragaman jenis, intensifi kasi, dan ekstensifi kasi lahan dengan berbagai cara.

Hasilnya justru sebaliknya. Memang pernah tercapai kecukupan pangan, khususnya produksi beras. Namun, jenisnya bukanlah yang terbaik, apalagi ternikmat. Banyak beras unggul justru harus didatangkan dari Th ailand. Belakangan juga kualitas yang kurang baik diimpor dari mana saja.

Mengapa? Ternyata ada yang berpikir memproduksi beras sendiri lebih mahal daripada mengimpornya. Perjuangan 35 tahun mencapai swasembada beras juga menuntut banyak pengorbanan. Berbagai jenis padi lokal punah, biaya untuk pupuk, pestisida, dan sarana produksi pertanian (saprotan) membengkak luar biasa. Lebih dari itu semua, belum pernah terdengar orang menanam padi bisa jadi makmur dan kaya.

Tentu saja ada sukses juga di sana-sini dengan produksi beras pandanwangi yang diperkirakan dapat diekspor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Papua Nugini. Namun, dengan hasil nasional yang berkisar 53-juta ton per tahun, dari sekitar 12-juta hektar persawahan Indonesia, janganjangan untuk konsumsi sendiri pun belum mencukupi.

Artinya apa? Kita semua perlu memberi perhatian istimewa untuk padi, beras, dan nasi. Kecintaan kepada padi perlu diperdalam di semua lapisan masyarakat. Para pemimpin bangsa perlu lebih memperhatikan areal pesawahan yang subur agar tidak habis dijadikan perumahan, penjara, pertokoan, stadion, jalan tol, dan lapangan parkir.

Padahal, di desa-desa semestinya beras menduduki posisi kunci. Pada masa lalu, pemilihan kepala daerah (Pilkada) diawali uji kesaktian menyebarkan beras. Seorang lurah (kepala desa) dipersilakan jalan mengelilingi dusun, sambil menaburkan segenggam beras. Ia akan terpilih bila berhasil menaburkan secara merata dan beras tidak habis dari tangannya. Dapatkah simbol ini di dibangkitkan lagi sekarang? Setiap pemimpin harus pandai mengelola persediaan dan distribusi makanan pokoknya.

Wara no bunka

Jepang mulai mengenal nasi sejak 4000 tahun lalu. Sekarang, bentoo (nasi kemas, dalam kotak maupun bungkus) menjadi kegemaran di seantero kota besar, termasuk adanya puluhan gerai Hoka-hoka Bentoo. Dengan olahan nasi, seperti chili con carne dari Meksiko, setiap bangsa memang ikut memperkaya khasanah internasional. Misalnya, Indonesia menyumbangkan nasi-goreng, Korea memberikan kupkap, Mandarin menghadiahkan chaofan, dan Spanyol membawa paella.

Berkat padi pula dunia mengenal kertas, seperti yang kita dapatkan kertas merang, yang telah mulai diperkenalkan di Tiongkok duaribuan tahun lalu. Dari jerami, berbagai kreasi masyarakat juga berkembang. Ada rumah dari jerami, topi, pakaian, tali jerami, dan alas kasur jerami tempat hewan, bahkan anak manusia dilahirkan. Penemuan modern seperti plastik pun, konon berdasarkan upaya untuk menciptakan jerami tiruan. Karena itu, kita kenal plastik sedotan yang disebut juga straw, alias batang padi.

Belakangan ada kesadaran baru pada pentingnya budaya jerami yang di Jepang disebut wara no bunka. Setiap pergantian tahun, adat istiadatnya mengajarkan memulai hidup baru. Misalnya dengan mulai menyalakan api, masak nasi pertama kali, minum pertama kali, dan pergi ke sawah pertama kali (waza hajime), dan menanam jerami di salju.

Aksesori yang ditonjolkan adalah rumah-rumahan kecil dari jerami atau “dangau tahun baru” sagicho dan dondongya. Di Indonesia, dangau atau pondok telah menjadi inspirasi perumahan mewah, tetapi di lapangan justru mulai ditinggalkan. Padahal, jerami atau damen (Jawa) pernah menjadi bahan yang cukup vital untuk atap dan dinding rumah, sarana kemasan, bahkan alat musik yang disebut serunai.

Di Pulau Bali, kita masih melihat jerami (batang padi) dan merang (tangkai bulir padi) dimanfaatkan menjadi berbagai peralatan rumah tangga. Tentu, bukan hanya jerami. Beras tetap menduduki tempat paling sakral bagi setiap keluarga. Setiap kali membuat banten (sesajen) selalu ada beras sebagai bija-mantra yang disebarsebarkan ke berbagai penjuru. Juga dengan tepung beras yang diurapkan di tubuh, maupun diwujudkan dalam berbagai bentuk dan warna.

Ajaran agama Hindu menanamkan penghormatan manusia pada kekuatan Hyang Iswara melalui bahu kiri; Hyang Brahma bahu kanan; Hyang Mahadewa di kening; Hyang Wisnu di dada, dan Hyang Siwa di ubun-ubun. Singkatnya, beras sebagai benih padi, dipercaya bisa meruwat bahkan menerangi manusia. Beras, disebut juga padang (madang = makan nasi) diyakini mengandung benih untuk mendapatkan terang, yang tidak boleh digantikan dengan yang lain.

Sekarang kita paham, mengapa beras menjadi begitu penting dalam ekonomi dan kehidupan sosial budaya berbagai bangsa di Asia. Memang sering ada saran agar pangan bukan hanya beras, tapi juga umbi-umbian, sagu, jagung, kedelai, dan aneka-ragam biji-bijian. Boleh juga kita lari ke beranekaragam makanan lain termasuk ikan, kacangkacangan hutan, buah bakau, kepompong jati, biji nangka, dan seterusnya. Namun hendaknya itu tidak kita lakukan karena gagal memenuhi kebutuhan nasi.

Untuk sukses mengelola satu jenis padi saja perlu dedikasi dan kesungguhan. Apalagi bila harus memperhatikan keragaman jenisnya, pemeliharaan, teknologi panen, penyimpanan, distribusi, dan cara memasaknya. Bukan hanya dengan rice cooker, misalnya, tapi juga bisa dibuat lontong, ketupat, juadah, dan anekaragam “nasi” lainnya

Sejarah menunjukkan, bangsabangsa yang pandai menghormati padi, menanam, menyimpan, dan memasaknya, dapat hidup lebih panjang, kreatif, inovatif, dan punya waktu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian. Cina, Jepang, dan Amerika Serikat telah membuktikan hal itu. Th ailand, Korea, Taiwan, Vietnam, dan Indonesia seyogyanya juga mampu membuktikan.

Namun, untuk itu kita harus pandai menjaga kesuburan lahan, mencukupi pasokan air, dan mempertahankan harga beras sehingga menguntungkan baik bagi petani di pedesaan dan konsumennya di perkotaan. Bukan lagi dengan raskin (beras untuk orang miskin) tetapi juga dengan nilai yang setinggi-tingginya, karena keragamannya, proses tanam organik, dan kesaktian padi yang telah membuat bermiliar manusia sehat, pintar, dan kaya!****) Eka Budianta, sastrawan, konsultan pembangunan, kolumnis TRUBUS, pencinta lingkungan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Panen Cuan dari Berbisnis Domba Menjelang Hari Raya Idul Adha

Trubus.id—Peternak asal Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, Mohammad Huda Khairon dapat menjual 4.000 domba menjelang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img