Trubus.id-Ladang cabai menjadi sumber penghidupan menjanjikan bagi Hebi Rizki Susanto. Pemuda asal Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, itu mengebunkan cabai keriting di lahan seluas 1,5 hektare yang tersebar di beberapa lokasi.
“Jadi saya tanamnya bergantian,” ujar Hebi. Dengan pola tanam bertahap itu ia dapat memanen cabai 2—3 kali dalam setahun.
Dari usaha tersebut Hebi memperoleh pendapatan sekitar Rp100 juta—Rp150 juta per hektare per tahun, tergantung harga cabai di pasaran. Pada Februari—Maret 2023, ia sempat menikmati harga cabai mencapai Rp67.000 per kg sehingga laba yang diperoleh menembus Rp150 juta per hektare.
Menurut Hebi, keberhasilan budidaya cabai sangat ditentukan oleh pengolahan lahan dan perawatan intensif. Setelah lahan dibajak, ia membiarkannya selama 2 pekan sebelum membuat bedengan.
Selanjutnya Hebi menaburkan pupuk dasar dan kompos fermentasi. Ia juga menyemprot bedengan menggunakan dekomposer seperti mikroorganisme efektif dan larutan trichoderma untuk meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
Setelah itu bedengan ditutup mulsa plastik dan didiamkan sekitar sepekan sebelum bibit cabai ditanam.
Dalam perawatan, Hebi rutin melakukan penyemprotan pestisida setiap 3 hari sekali dan pemupukan seminggu sekali. Menurut pria berumur 23 tahun itu, budidaya cabai sebenarnya tidak terlalu sulit jika memahami teori dan praktiknya.
“Ketika tanam cabai di masa sulit seperti banyak serangan penyakit, kalau kita rawat dan bertahan hingga 2—3 minggu umumnya tanaman bisa pulih kembali,” ujarnya.
Hebi mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai kendala seperti patek, busuk batang, hingga daun keriting. Pengalaman itulah yang membuatnya semakin memahami karakter tanaman cabai.
Menurut alumnus Akademi Teknik Alat Berat Indonesia (AKABI) itu, petani harus siap menghadapi perubahan cuaca dan fluktuasi harga pasar. Karena itu ia menerapkan sistem tanam bertahap atau “nyambung pecut” untuk menjaga perputaran modal dan kontinuitas panen.
“Kalau harga murah, kita kejar tonase. Yang penting tanaman dirawat sebaik mungkin,” tutur Hebi.
Meski sempat menempuh pendidikan teknik alat berat, Hebi justru menemukan masa depannya di sektor pertanian. Baginya bertani bukan pilihan terakhir, melainkan profesi yang mampu memberikan penghasilan menjanjikan bila ditekuni dengan serius.
