Trubus.id-Kediaman Jabat Menjulu di Desa Menggala, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa kali kedatangan tamu dari mancanegara. Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan mencari kakao berkualitas.
Suatu hari, rombongan turis asal Inggris dan Prancis mendatangi kebun sekaligus rumah Jabat. Saat itu Jabat menyuguhkan biji kakao kering hasil panen yang siap diolah. Para turis tampak takjub melihat ukuran biji kakao yang besar dan berisi.
Beberapa di antara mereka sibuk memotret biji kakao tersebut. Bahkan salah seorang turis mencoba menggigit biji kakao kering itu. Setelah mengunyahnya, ia langsung mengacungkan jempol sebagai tanda puas.
Para turis kemudian memborong buah kakao segar yang baru dipanen dan beberapa kilogram biji kakao kering sebagai sampel untuk dibawa pulang.
Bukan hanya wisatawan asal Eropa yang tertarik. Jabat mengaku pernah dihubungi calon pembeli dari Amerika Serikat, Malaysia, hingga Filipina. Sejumlah eksportir juga mulai menanyakan kemampuan pasokan kakao miliknya.
Sayangnya, Jabat belum mampu memenuhi permintaan tersebut karena kapasitas produksi masih terbatas.
“Saya jujur bilang produksinya belum sebanyak kebutuhan mereka. Mungkin 2—3 tahun lagi baru siap,” ujar Jabat.
Kakao yang dikembangkan Jabat merupakan varietas lokal bernama ijo kajuman. Varietas itu memiliki ciri khas buah berwarna hijau saat muda dan berubah kuning ketika matang.
Keunggulan utama ijo kajuman terletak pada ukuran buah dan bijinya yang jumbo. Menurut Jabat, untuk menghasilkan 1 kilogram biji kakao kering hanya dibutuhkan sekitar 8—10 buah. Sementara varietas kakao biasa memerlukan 20—25 buah.
Produktivitasnya juga tergolong tinggi. Satu pohon mampu menghasilkan 3—4 kilogram biji kakao kering.
Jabat pernah membandingkan bobot biji kakao varietas ijo kajuman dengan MCC, salah satu klon unggul lokal asal Sulawesi Selatan. Setelah dikeringkan selama 12 hari, bobot biji ijo kajuman dari satu buah mencapai 180 gram, sedangkan MCC hanya sekitar 115 gram.
Menurut Jabat, biji ijo kajuman lebih berat karena ukurannya lebih besar, gendut, dan berisi. Sementara sebagian biji MCC cenderung lebih tipis.
Meski memiliki banyak keunggulan, varietas ijo kajuman juga memiliki kelemahan, yakni lebih rentan terhadap serangan hama buah sehingga membutuhkan perawatan ekstra.
Varietas itu merupakan hasil seleksi sederhana yang dilakukan Jabat di kebun milik orang tuanya. Awalnya ia melihat beberapa biji kakao yang dijemur memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan biji lainnya.
“Ketika dibandingkan dengan yang lain, ukuran dan bobotnya jauh berbeda,” ujar guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu.
Karena penasaran, Jabat kemudian menelusuri pohon asal biji kakao jumbo tersebut di kebun milik orang tuanya. Dari situlah varietas ijo kajuman mulai dikembangkan.
