Trubus.id– Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menggelar talkshow daring bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia”. Kegiatan itu membahas perkembangan kasus hantavirus, pola penularan, hingga risiko penyebarannya secara global.
Melansir laman UGM, dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Riris Andono Ahmad MPH, PhD., menjelaskan hantavirus strain Andes yang berasal dari kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal.
Menurut Riris, strain Andes berbeda dengan sebagian besar hantavirus lain karena memiliki kemampuan menular antarmanusia. Masa inkubasi virus tersebut berkisar antara 4 hingga 42 hari.
“Penyebab dari hantavirus adalah strain Andes yang berasal dari daerah Amerika Selatan, Pegunungan Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ujar Riris, Rabu (13/5).
Ia memaparkan wabah pada kapal pesiar melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri atas enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus suspek. Dari total 147 penumpang dan awak kapal, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.
Riris menjelaskan penularan hantavirus terjadi melalui kontak dengan tikus, baik melalui urin, kotoran, maupun gigitan. Khusus strain Andes, penularan juga dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh. Namun, penularannya tidak semudah COVID-19 karena memerlukan kontak erat dalam waktu lama.
“Kalau strain Andes, kumannya bisa ditularkan melalui droplet, tetapi tidak semudah COVID karena harus memiliki kontak yang erat dan lama,” katanya.
Ia menambahkan langkah pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan, menggunakan alat pelindung diri (APD), dan menghindari kontak dekat dengan penderita.
Menurut hasil asesmen WHO, risiko pandemi global akibat hantavirus masih tergolong rendah. Penularan dinilai masih terbatas dan dapat dikendalikan melalui isolasi serta pelacakan kontak.
“Hasil asesmen WHO menunjukkan risiko pandemi itu rendah karena kontak dengan penderita harus dekat dan dalam jangka waktu yang lama,” ujar Riris.
Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Sardjito, dr. Alindina Anjani, Sp.PD., menjelaskan hantavirus merupakan virus RNA zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, feses, air liur, maupun aerosol dari ekskresi tikus yang terinfeksi. Kelompok yang rentan terpapar antara lain petani, pekerja gudang, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang.
“Kalau tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan ke manusia seperti ini. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus,” ujarnya.
Alindina menjelaskan terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika, sedangkan HFRS dominan di Asia dan Eropa.
Menurutnya, HPS menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular sehingga dapat menyebabkan sesak napas berat hingga gagal napas. Adapun HFRS lebih banyak menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Ia juga mengingatkan gejala HFRS kerap menyerupai penyakit tropis lain seperti demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, hingga sepsis sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan diagnosis.
Alindina mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus untuk mencegah penularan hantavirus.
