Friday, May 15, 2026

BRIN Kaji Pengembangan GPS Ayam Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor Bibit

Rekomendasi
- Advertisement -

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN terus mendorong pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian industri perunggasan nasional. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial yang selama ini masih mendominasi sektor perunggasan dalam negeri.

Indonesia dinilai memiliki kekayaan plasma nutfah ayam lokal dengan kemampuan adaptasi tinggi terhadap iklim tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki cita rasa khas dan karakter produk yang digemari masyarakat.

Pembahasan mengenai pengembangan GPS ayam lokal itu mengemuka dalam Webinar Risnov Ternak #27 bertema pembentukan Grand Parent Stock ayam lokal Indonesia dan prospek pengembangannya yang digelar Pusat Riset Peternakan BRIN pada Rabu (13/5).

Mewakili Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan tantangan besar industri perunggasan nasional saat ini masih berkaitan dengan ketergantungan terhadap GPS ayam ras impor. Menurut dia, produksi grandparent stock dunia hingga kini masih dikuasai negara-negara maju yang telah lama mengembangkan riset dan investasi di bidang perbibitan unggas.

Meski demikian, ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem pembibitan ayam lokal secara mandiri. Keunggulan ayam lokal, kata Yudhistira, terletak pada kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis serta karakteristik produk yang sesuai dengan preferensi konsumen domestik.

Ia menilai pengembangan GPS ayam lokal penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Ketergantungan terhadap impor bibit dinilai berisiko apabila terjadi gangguan geopolitik maupun hambatan perdagangan internasional.

Selain itu, kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia terus meningkat. Sektor perunggasan, baik melalui produksi daging maupun telur, selama ini menjadi salah satu penopang utama pemenuhan protein hewani nasional. Permintaan diperkirakan semakin meningkat seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dan target pemerintah meningkatkan produksi pangan hewani hingga 2029.

Yudhistira menekankan pengembangan GPS ayam lokal memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan lainnya. Menurut dia, pengembangan industri pembibitan nasional tidak dapat dilakukan secara parsial.

BRIN sendiri menargetkan pengembangan koleksi hasil riset peternakan mulai 2027, termasuk ayam pedaging dan ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi. Melalui riset dan inovasi, lembaga tersebut berharap dapat menghasilkan bibit unggul nasional yang lebih adaptif dan efisien sesuai agroekosistem Indonesia.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyebut sektor perunggasan memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Permintaan produk unggas, baik daging maupun telur, terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi.

Melansir pada laman BRIN, menurut Santoso, ayam lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena tersebar di berbagai daerah dengan karakter genetik yang beragam. Namun, pengembangannya memerlukan dukungan riset berkelanjutan agar produktivitas ayam lokal meningkat dan mampu bersaing secara ekonomi.

Berbagai pendekatan dinilai dapat mendukung pengembangan ayam lokal, mulai dari perbaikan pemuliaan, rekayasa genetik, penguatan sistem pembibitan, teknologi reproduksi, hingga penerapan budidaya modern yang lebih efisien.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Tike Sartika, menambahkan pembentukan GPS ayam lokal menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bibit impor.

Menurut dia, melalui dukungan riset dan inovasi, ayam lokal berpotensi dikembangkan menjadi bibit unggul nasional yang produktif dan mampu mendukung kemandirian pangan, terutama dalam penyediaan daging dan telur.

Dalam webinar tersebut, Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Sembawa, Muhammad Imron, turut memaparkan peluang serta tantangan pengembangan ayam lokal di Indonesia.


Artikel Terbaru

Kendalikan Kolesterol dengan Jahe Merah

Trubus.id—Satai, gulai, rendang, dan tongseng menjadi kreasi menu saat momen idul adha. Namun, konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol...

More Articles Like This