Trubus.id— Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong percepatan swasembada gula nasional dengan mengakselerasi hilirisasi perkebunan tebu. Salah satu langkah strategis yang dilakukan ialah meningkatkan produksi melalui penyediaan kebun benih untuk mendukung program bongkar ratoon maupun perluasan areal tanam.
Melalui program tersebut, pemerintah mulai memperluas penggunaan dua varietas unggul tebu, yakni NXI 04T dan Panjalu. Kehadiran kedua varietas itu diharapkan mampu mengurangi dominasi varietas Bululawang (BL) yang rentan terserang penyakit luka api.
Saat ini telah dibangun kebun benih datar seluas 300 hektare. Kebun tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan benih varietas NX untuk pengembangan lahan seluas 1.200 hektare dan varietas Panjalu untuk 1.540 hektare, atau setara pengembangan hingga 9.240 hektare.
Produktivitas Tinggi
Varietas Panjalu merupakan varietas baru yang resmi ditetapkan sebagai benih unggul pada Juni 2025. Meski tergolong baru, penggunaannya sudah cukup luas di kalangan petani tebu.
Menurut pimpinan CV Joyorosan sekaligus pemilik varietas Panjalu, Irawan, varietas itu memiliki batang dominan berwarna kuning dengan produktivitas mencapai 1.500 kuintal per hektare dan rendemen hingga 11%.
“Berdasarkan pengalaman petani, pertumbuhannya cukup cepat, tahan kekeringan, dan memiliki anakan yang banyak. Varietas ini memiliki karakteristik seperti Bululawang dengan jumlah anakan dan bobot yang tinggi. Dalam satu rumpun bisa menghasilkan hingga 10 anakan,” ujar Irawan.
Supardi, petani tebu asal Tegal, menambahkan bahwa varietas Panjalu tidak memiliki bulu pada batang sehingga memudahkan petani saat memasuki kebun tanpa perlu alat pelindung tambahan.
Selain itu, varietas tersebut juga tidak mudah roboh. Batangnya panjang, besar, dan tidak terlalu keras sehingga memudahkan penebang saat panen.
Dijuluki “Bululawang Turbo”
Sementara itu, NXI 04T merupakan varietas hasil pengembangan atau “booster” dari varietas Bululawang yang telah ditetapkan sebagai varietas unggul sejak 2013.
Secara fisik, NXI 04T memiliki kemiripan dengan Bululawang. Namun varietas ini memiliki sejumlah keunggulan, seperti tahan terhadap penyakit luka api, memiliki jumlah anakan cukup banyak, serta produktivitas lebih dari 1.200 kuintal per hektare dengan rendemen sekitar 9%.
Varietas itu juga memiliki bobot batang besar dan jarang berbunga.
Karena karakteristiknya tersebut, banyak petani menyebut NXI 04T sebagai “Bululawang Turbo”.
Angga Rangga, petani tebu asal Pati yang telah menanam varietas itu, menyebut NXI 04T relatif tahan kekeringan dan cocok ditanam di lahan dengan pengairan terbatas.
“Varietas ini secara fisik mirip dengan Bululawang. Perbedaannya ada pada daya tahannya terhadap luka api. Saat panen terakhir tahun lalu, saya mendapatkan produksi di atas 1.000 kuintal per hektare dengan rendemen lebih dari 8%,” jelas Angga.
Melalui penyebarluasan kedua varietas unggul tersebut, pemerintah berharap dapat mempercepat introduksi varietas baru sekaligus meningkatkan produksi tebu nasional dan rendemen gula.
Peningkatan produktivitas itu diharapkan mampu memberikan keuntungan lebih besar bagi petani, terutama jika didukung transparansi pabrik gula dalam penetapan rendemen gula petani.
