Monday, January 26, 2026

Satukan Dua Durian

Rekomendasi
- Advertisement -

Cara sukses menyambung durian dengan teknik top working. Pekebun kerap gagal karena memotong batang pohon utama sebelum entres tumbuh besar.

Trubus — Teik Hock Ooi senang bukan kepalang saat entres alias pucuk durian musang king mulai bertunas. Ia menempelkan pucuk musang king pada pohon durian D24. Itu pertanda hasil top working dengan cara sambung sisip sukses bertahan hidup. Pekebun durian di Perak, Malaysia, itu lantas memotong cabang dan batang utama pohon durian D24. Yang tersisa hanya batang pohon utama setinggi 3 meter.

Daun pada pohon utama tetap dipertahankan hingga batang atas tumbuh besar dan daunnya cukup untuk menghasilkan makanan.

Pemotongan itu agar nutrisi lebih fokus menopang pertumbuhan entres. Namun, daun baru yang muncul pada entres satu per satu rontok. Entres musang king pun perlahan mengering dan akhirnya mati. Ia pun kehilangan pohon D24 yang selama ini menjadi andalan.

Lebih cepat

Menurut ahli durian di Malaysia, Dr. Abdul Aziz, top working salah satu cara pekebun untuk mengganti varietas durian lama dengan varietas baru yang lebih unggul atau diminati konsumen. Di Malaysia teknik itu banyak digunakan sejak pamor musang king meroket. Para pekebun beramai-ramai melakukan top working pada pohon jenis-jenis durian lawas, salah satunya jenis D24.

Departemen Pertanian Malaysia merilis D24 pada 1930-an itu dan berkembang di negeri jiran. Sejak pamor musang king menanjak, harga jual buah D24 terjun bebas sehingga dianggap tak lagi menguntungkan pekebun. Itulah sebabnya para pemilik D24 beramai-ramai mengganti varietas dengan musang king dan ochee menggunakan teknik top working. Para pekebun berharap dengan cara itu dapat memanen buah varietas baru lebih cepat ketimbang menanam tanaman baru dari bibit.

Durian hasil top working biasanya belajar berbuah pada umur 3 tahun setelah sambung. Adapun durian asal bibit setinggi 1,5 meter saja baru belajar berbuah rata-rata saat berumur 4 tahun setelah tanam. Namun, untuk melakukan top working gampang-gampang susah, banyak yang berhasil, tapi tak sedikit pula yang gagal. Menurut Teik Hock Ooi penyebab kegagalannya menyambung sisip durian karena tidak sabar menunggu entres tumbuh membesar.

Saat menyambung sisip harus lebih bersabar menunggu entres tumbuh membesar.

Ia tergesa-gesa memotong cabang dan bagian atas batang pohon utama hingga tak ada daun tersisa. Padahal, daun pada entres masih berupa tunas dan hanya sedikit. Menurut ahli nutrisi tanaman di Jakarta, Yos Sutiyoso, daun ibarat dapur yang mengolah makanan untuk pertumbuhan durian. Pada daun yang mengandung klorofil terjadi fotosintesis, yaitu proses pembentukan karbohidrat dari karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari.

Akar menyerap nutrisi asal pupuk, tetapi tidak dapat dimanfaatkan karena “dapur” untuk mengolah bahan makanan tidak ada. Para pekebun durian di tanah air yang gandrung mengembangkan musang king dengan cara top working pun mengalami kegagalan serupa. Contohnya pekebun durian asal Semarang, Jawa Tengah, Suparta Zoel. “Saya juga pernah melakukan top working dengan cara seperti yang dilakukan Teik Hock Ooi dan akhirnya gagal,” ujarnya.

Beberapa pohon yang disambung pucuk tampak entresnya berukuran besar, yakni berdiameter sekitar 5 cm. “Itu hasil top working sekitar setahun lalu,” ujar Teik Hock Ooi seraya menunjuk salah satu pohon hasil top working. Ia tetap mempertahankan sebagian daun pada pohon induk meski batang entres relatif besar.

Nutrisi

Pohon durian utama yang digunduli daunnya sebelum topworking akhirnya mati.

Teik Hock Ooi menuturkan, posisi sambung sisip pada pohon induk juga menentukan keberhasilan top working. Sebaiknya lakukan sambung sisip di bawah cabang pertama pohon utama. Tujuannya agar nutrisi yang diserap akar lebih dulu dimanfaatkan untuk pertumbuhan entres. Menurut pekebun durian Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Johan Ariono, pemberian nutrisi sebelum top working tak kalah penting.

Johan memberikan pupuk NPK berimbang berdosis 2—3 kg per pohon sebelum melakukan top working. Pemupukan itu ibarat memberi “bekal” sebelum pemangkasan cabang bertahap. Menurut Johan saat paling baik untuk melakukan top working adalah November—Januari atau saat musim hujan.

“Saat melakukan top working kondisi tanah harus basah,” ujar Johan. Jika memasuki bulan kemarau seperti pada Mei—Juni, maka kondisi tanah kering dan entres pun rentan kering. Menurut bapak tiga anak itu walaupun ketersediaan air untuk meyiram cukup, tetap saja riskan karena penyerapan air oleh tanah tergolong lama.

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img