Friday, December 2, 2022

Semarak Kontes di 5 Kota

Rekomendasi

Keputusan ketiga juri-Sentot Pramono, Anna Sylvana, dan Syah Angkasa-itu tercetus setelah melewati perbincangan cukup alot. Harap mafhum, sosok tanaman itu mengundang keraguan masing-masing juri. Mulanya para juri menduga ukuran daun yang lebih pendek karena tanaman itu masih muda. Namun, munculnya anakan mematahkan dugaan itu. Silang pendapat akhirnya mengerucut pada satu kesimpulan: sansevieria itu tergolong langka.

Pantas bila peserta dengan nomor urut 7 itu memperoleh poin tertinggi di antara 38 peserta lainnya. Padahal, saingan terdekatnya adalah parva lanset variegata, koleksi Iwan Rassat dari Adenium Nursery. Koleksi variegata biasanya selalu unggul dalam penilaian dari segi kelangkaan. Itulah sebabnya kedua kontestan itu hanya terpaut 0,95 poin.

Di kelas tunggal, gelar juara diraih Sansevieria cylindrica ‘midnight star’. Koleksi Oasis Sentul, Bogor itu menyisihkan 48 kontestan lain. Sedangkan sansevieria mutomo koleksi Tangerang Sansevieria Club mesti puas di posisi runner-up. Dari segi kelangkaan kedua jenis itu hampir seimbang. Sayangnya posisi daun mutomo yang saling berhadapan kurang simetris akibat perawatan yang kurang optimal.

Ramai

Tren sansevieria yang tengah mencorong rupanya turut memicu ramainya kontes di berbagai daerah. Selain di ajang Trubus Agro Expo 2008, lomba lidah mertua juga digelar di Wonosobo, Jawa Tengah. Kompetisi yang memperebutkan piala Bupati Wonosobo itu ternyata mengundang antusias para hobiis. Setidaknya 110 peserta beradu molek di 3 kelas: trifasciata, nontrifasciata, dan unik. ‘Di Jawa kali ini yang terbanyak,’ kata Soedjianto, dewan juri.

Setelah melalui penilaian yang menyita waktu, para juri-Seto (Yogyakarta), Susilo (Solo), dan Gembong (Malang)-akhirnya menetapkan juara pada masing-masing kelas yang berasal dari 3 kota berbeda: Widodo asal Solo, Hanti (Yogyakarta), dan Nanik (Wonosobo). Itu membuktikan hobiis lidah mertua berkualitas mulai merata di berbagai daerah. Lomba serupa juga digelar di Hall Pamer Sri Ratu, Semarang, yang diikuti 55 peserta, dan Surakarta (50 peserta).

Tren sanseviera ternyata tak mengurangi semarak kontes tanaman hias lain seperti aglaonema dan anthurium. Pada kontes aglaonema Trubus Agro Expo 2008 setidaknya 63 peserta beradu cantik di 2 kelas: tunggal dan majemuk. Legacy milik dr Haryman asal Tangerang tampil sebagai juara di kelas tunggal. Penampilan aglaonema tanpa nama milik Anugerah Fimanto yang bersosok rimbun dinobatkan sebagai kampiun di kelas majemuk.

Yang tak kalah semarak adalah kontes anthurium. Sekitar 103 kontestan bertarung memperebutkan takhta jawara si raja daun. Jenmanii kobra milik Ir Rusli asal Bogor berhasil meraih penghargaan terbaik di kelas jenmanii. Sedangkan di kelas nonjenmanii disandang anthurium sirih milik Anandini Mutiarasmi dari Jakarta.

Ingar-bingar kontes tanaman hias tak hanya pada sansevieria, aglaonema, dan anthurium. Di Kota Tangerang, Banten, berlangsung kontes adenium yang sangat meriah. Sebanyak 104 peserta dari Jabodetabek bertarung memperebutkan hadiah bergengsi: umrah, sapi, dan TV 21′. Masing-masing untuk juara umum ke-1, 2, dan 3.

Setelah bertarung selama 9 jam, tim juri-Eddy Nova, Ari S, Gunardi, Lie Rudy H Sunaryo, Husein Achmad, dan Destika Cahyana-sepakat menobatkan RCN milik Anugerah Firmanto dari Tangerang sebagai juara umum ke-1. Sang pemilik pun berhak atas perjalanan ke Tanah Suci. Jawara di kelas RCN itu mengempaskan kampiun di kelas total performance besar milik Ruddy Chandra.

Compacta

Ruddy mesti rela berada di posisi juara umum ke-2. Ia pun melenggang dari arena kontes dengan memboyong seekor sapi. Persaingan paling ketat justru saat perebutan juara umum ke-3. Kampiun mini size compacta bertarung ketat dengan juara di kelas arabicum non-RCN besar. Setelah melalui diskusi alot, mini size compacta menang mutlak. ‘Ukuran daun arabicum terlalu besar sehingga kurang proporsional. Kawat yang masih menempel pun mengurangi kesan pertama,’ kata Husein, juri dari Tangerang.

Munculnya mini size compacta sebagai juara umum ke-3 disambut baik Sasongko, ketua Himpunan Petani dan Pecinta Adenium (HPPA) Jakarta Raya. ‘Ini benar-benar mengejutkan. Baru kali ini dibuka kelas compacta, tapi ia mampu menarik perhatian juri,’ tuturnya. Menurutnya itu menandakan Tangerang mampu menjadi barometer adenium jenis compacta di tanahair. Pasalnya, setahun belakangan banyak pekebun di Tangerang yang memproduksi compacta berkualitas.

Kontes yang digelar Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tangerang dan HPPA Jakarta Raya pun menjadi tonggak sejarah bagi pekebun adenium di kota itu. ‘Ini kabar baik, KTNA berhasil menggaet pekebun tanaman hias. Selama ini pekebun tanaman pangan dan nelayan saja yang kerap dilibatkan,’ ujar Sasongko. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono A Raharjo dan Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img