Friday, August 12, 2022

Silangan Lokal Gebrak Pasar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Padahal, yang dijual peternak di Bandung itu silangan baru kualitas apkir. Meski demikian harga jualnya lebih tinggi dari pada oranda senior yang dijajakan di pasar ikan hias. Broadtail apkir itu dibandrol seharga Rp50.000-Rp200.000/ekor. Bandingkan dengan oranda senior di Pasar Muara, Leuwipanjang, Bandung, yang hanya Rp2.000-Rp3.000/ekor. ‘Mahal karena ini silangan baru, meski sirip dorsalnya lemah dan tubuh masih kurang bulat,’ ujar Bahardiman yang menyilangkan oranda sejak 2005.

Sejatinya sosok oranda broadtail yang bagus: tubuh bulat, sirip tegak, berjambul di muka, dan bermata belo. Namun, hobiis yang ingin memilikinya harus menunggu sampai awal April 2008. ‘Produksi baru sekitar 200 ekor, jadi masih terus diperbanyak,’ kata pria kelahiran Jember 39 tahun lalu itu.

Selain oranda broadtail, Bahardiman juga menelorkan ryukin butterfly kaliko. Saat dirilis pada pertengahan 2007, sebanyak 30 maskoki berukuran 8 cm itu laris terjual seharga Rp400.000-Rp600.000/ekor. Dari penjualan itu Bahardiman menangguk penghasilan Rp12-juta-Rp18-juta. Nilai itu jauh lebih besar daripada biaya produksi yang dikeluarkan, sebesar 20% dari omzet.

Silangan baru

Masih dari Kota Kembang, Ever Tagoli yang membudidayakan maskoki turut mencecap rupiah dari silangan maskoki baru. Pada Aquarama Singapura 2005 misalnya hanya dengan membawa contoh foto tosakin hijau, pembeli dari Jepang, China, Malaysia, dan Amerika Serikat, tertarik membeli. ‘Saat itu permintaan mencapai 500 ekor/bulan,’ ujar pemilik Weyver Goldfish yang menjual Rp1,5-juta/ekor ukuran 5 cm. Namun, dari jumlah itu permintaan yang terpenuhi baru 50-60 ekor.

Tak puas dengan tosakin hijau, sejak 2006 Ever menciptakan berturut-turut tosakin hitam-putih, kaliko, dan jikin. Yang disebut terakhir memiliki strip di ekor dengan tubuh tetap putih. Harga jualnya Rp10-juta/ekor ukuran 5 cm. ‘Tapi baru bisa produksi 10 ekor/induk,’ katanya. Silangan itu belum termasuk jenis ranchu putih sirip merah yang sukses diperbanyak dan dijual seharga Rp5-juta/ekor untuk ukuran 5 cm.

Pundi-pundi Ever kian melambung saat mengeluarkan oranda kaliko blue, ranchu biru, dan tosa kaliko blue. Yang disebut terakhir produksinya hanya 10 ekor dengan harga jual Rp2,5-juta/ekor ukuran 10 cm. Produksi oranda kaliko blue dan ranchu biru lebih banyak, sekitar 30-50 ekor/tetasan. Masing-masing dibandrol seharga Rp500.000/ekor ukuran 7,5 cm. Dari kedua jenis itu Ever memperoleh pendapatan kotor Rp15-juta. Efek lain dari sukses menyilangkan maskoki, Ever dikukuhkan sebagai grand juri internasional pada awal 2008.

Menurut YB Hariantono ada gengsi bisa memiliki maskoki silangan baru yang prima. Hari mencontohkan saat merilis oranda silangan baru dengan sisik mutiara yang dijual Rp3-juta/ekor. ‘Permintaan melonjak tinggi, tapi stok barang hanya sedikit, sekitar 10 ekor,’ kata karyawan Bank Permata yang mengirim ke Bandung, Surabaya, dan Kalimantan itu. Hari belakangan menghasilkan silangan baru yang unik. Pada Oktober 2007 lahir mutiara demekin. ‘Produksi belum banyak sehingga belum dirilis ke pasar,’ tambahnya.

Impor tinggi

Pemicu maraknya maskoki silangan lokal tak lepas dari lonjakan harga maskoki impor. Winarto di Bintaro, Tangerang, mencontohkan harga oranda impor ukuran 12 cm sudah mencapai 1,5 kali lipat dibanding 2 tahun lalu. ‘Dulu ranchu jambul kuning hanya Rp300.000/ekor, tapi sekarang sudah sampai Rp450.000/ekor,’ katanya. Di Thailand oranda junior special color dibandrol Rp4,5-juta-Rp6-juta/ekor. Padahal, di pasar lokal dengan mutu setara dijual Rp1,5-juta-Rp2-juta/ekor. Pantas Jopie Samiadji lebih memilih maskoki lokal. ‘Kualitas sama dan harga lebih murah, tentu saya pilih ternakan lokal,’ ujar hobiis di Temanggung, Jawa Tengah, itu.

Berdasarkan pantauan EJ Sauw Khim tingginya harga itu disebabkan stok maskoki berkualitas dari mancanegara turun. Produksi di negeri Tirai Bambu yang menjadi kiblat maskoki berkualitas mengalami penurunan. ‘Setiap banjir besar, produksi dan kualitas ikan pasti turun,’ ujar Akhim yang berhenti impor maskoki dari China sejak 5 tahun lalu. Dampaknya disaksikan juga oleh Karjono dan Utami Kartika Putri, wartawan Trubus, saat mengunjungi Goldfish Garden, di Zoological Garden, Guang Zhou, China Selatan, pada Februari 2008. Yang ditampilkan di setiap akuarium masih jenis lama seperti lion head merah-putih, ranchu merah-putih, dan panda.

Kondisi itu membuka jalan bagi peternak lokal. Apalagi Indonesia diuntungkan karena memiliki 2 musim-hujan dan kemarau-sehingga produksi tidak terganggu. ‘Kiblat maskoki di China dan Jepang memiliki 4 musim sehingga hanya berproduksi 8 bulan dalam setahun. Jadi mereka butuh waktu 10 tahun untuk menghasilkan silangan baru yang stabil,’ ujar Peter Aguswijaya, penangkar di Magelang, Jawa Tengah. Karena itu sejak 2005 Peter membangun 40 kolam ukuran khusus untuk silangan baru. Saat itu Peter mencetak oranda wrinkle yang diminta sampai 5.000 ekor/bulan seharga Rp500.000-Rp1,5-juta/ekor ukuran 10 cm. Pada 2007, pemilik farm Tropis itu berhasil mencetak oranda kaliko.

Lokal naik

Pasar maskoki secara umum menunjukkan peningkatan berarti. Sejak 2 tahun terakhir Yulius Wijaya, peternak di Tulungagung, Jawa Timur, kewalahan memenuhi permintaan oranda, ranchu, ryukin, dan demekin. Omzet pendiri Tirto Agung Koki Club (TAKC) itu meningkat pesat dari Rp60-juta/bulan pada 2005 menjadi Rp400-juta/ bulan sejak 2007. Awal Maret 2008 dari penjualan 1.500 ekor oranda, tosa, ranchu, ryukin, dan demekin, Yulius meraup pendapatan Rp30-juta.

Kondisi serupa dialami Tanbas di Jakarta Pusat. ‘Saat jenis baru dipajang, pembeli tertarik datang,’ ujar pemilik Sumenep Goldfish itu. Dengan memajang silangan baru Abas dapat menjual 100 oranda dan ranchu dari ukuran baby sampai senior seharga Rp200.000-Rp2,5-juta/ekor.

Hadirnya silangan sedikit banyak menggeser pasar jenis lama yang populer. Danny, peternak di Tangerang mencontohkan, ‘Pada 1997 lion head menjadi favorit. Namun, saat ini kurang populer bahkan dianggap mati,’ ucap Danny. Terbukti, sampai awal 2008, Danny baru menjual 10 ekor/bulan. Padahal, pada 1997 Danny mampu menjual 20-50 ekor per minggu. Beruntung, turunnya permintaan itu tak menggoyahkan harga. Saat ini lion head kualitas kontes ukuran 13-14 cm tetap dijual seharga Rp1-juta-Rp2-juta/ekor.

Waktu lama

Menurut Kris S Widjojo, hobiis di Jakarta Barat, silangan baru yang dapat mendongkrak jenis lama haruslah prima seperti bersirip dan ekor tegak, serta tubuh bulat. ‘Bukan sekadar maskoki unik,’ ucapnya. Namun, menciptakan silangan baru tidak mudah. Lamanya waktu menghasilkan gen stabil sebagai rintangan terbesar. Untuk menciptakan oranda broadtail, Bahardiman butuh waktu 2 tahun. ‘Saat ini hasilnya baru 75-80% yang sesuai,’ ungkapnya. Maklum Bahardiman berharap mendapatkan oranda broadtail yang berjambul dan bermata belo sempurna.

Ever Tagoli berkutat selama 1,5 tahun untuk mendapatkan tosakin jikin. Agar terhindar dari inbreeding, Ever mendatangkan indukan dari Jepang seharga Rp10-juta/ekor ukuran 10 cm. Itu pun perlu dibesarkan terlebih dahulu selama 6 bulan sampai ukuran induk. ‘Setelah jadi induk harus berkali-kali disilangkan sampai F4 untuk mendapatkan jikin,’ ujarnya. Hasil dari persilangan itu paling hanya diperoleh sekitar 1% yang tosakin jikin.

Menurut Hariantono penyilang jenis baru didominasi para penangkar lama. Maklum, ‘Tidak semua penangkar telaten untuk menghasilkan silangan baru,’ katanya. Nah, jika telaten dan mau bersusah payah mencetak silangan baru, omzet puluhan juta seperti yang diraup Bahardiman, Ever Tagoli, dan YB Hariantono bukan sekadar bunga-bunga tidur lagi. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Andretha Helmina dan A. A Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img