Monday, August 15, 2022

Stewart McPherson: Embun Matahari di Yakontipu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sekitar 2.000 Drosera solaris terhampar di areal seluas 10 m2 laksana karpet embun matahari. Mereka tumbuh di sela-sela hutan Bonnetia roraimae yang terkena sinar matahari di ketinggian 2.065 m dpl, tepat di bawah puncak Gunung Yakontipu. Di sana ia tumbuh bersama hibrida alam Heliamphora glabrata dengan H. rutans, Epidendrum spp, Stegolepis guianensis, Xyris spp, dan Orectanthe sceptrum (Oliv.) Maguire. Habitatnya sangat lembap dan basah karena banyak sekali sphagnum moss.

Kunjungan pada 2005 ke negara ke-3 terkecil di Amerika Selatan itu seakan mendapat berkah. Maklum, tujuan awal adalah untuk mempelajari populasi Heliamphora glabrata. Namun di perjalanan, justru menemukan drosera jenis baru berpenampilan spektakuler. Drosera solaris berbatang tegak dengan tinggi hampir 10 cm. Tangkai daun berwarna hijau hingga kuning emas dengan panjang 7-7,5 mm dan lebar 1 mm. Sementara daun berbentuk roset berukuran 2-3 mm x 2-2,5 mm dan berwarna merah. Dengan begitu penampilannya terlihat sangat kontras. Tak heran bila ia dikatakan drosera dengan paduan warna terunik di antara jenis drosera asal Amerika Selatan. Bunga D. solaris mirip Drosera felix dan D. kaieteurensis, berwarna putih dan harum.

Indica dan burmannii

Selang 2 tahun, tepatnya Agustus 2007, drosera berpenampilan spektakuler kembali ditemukan. D. indica dan D. burmannii dijumpai di Sulawesi di wilayah yang basah dengan air menggenangi area itu. Sebenarnya kedua drosera itu tak hanya tumbuh di Sulawesi, tapi juga lazim ditemukan di seluruh Indonesia.

Indica berbatang tegak sehingga dapat mendukung daun yang panjangnya hingga 12 cm. Daun berwarna hijau kekuningan, jingga, atau merah dan dilapisi dengan banyak titik lem. Mangsa yang ditangkap biasanya golongan serangga terbang. Sebaliknya D. burmannii, ukurannya sangat mini. Diameter ‘tajuk’ hanya sekitar 3 cm, dengan bentuk daun roset. Umumnya daun burmannii berwarna hijau kekuningan dan dilapisi tentakel merah. Tentakel lengket D. burmannii dapat menekuk secara cepat dan bisa memantul 180 derajat kurang dari 2 menit. Itu membuatnya menyandang sebutan drosera bergerak tercepat. Mangsa yang ditangkap adalah serangga yang berjalan.

Di habitat asli D. burmannii tumbuh baik di dataran rendah dengan tanah berpasir yang berair sebagai tanaman semusim. Di alam sang pemangsa beranak-pinak melalui biji. Biasanya berkecambah pada musim hujan.

188 jenis

Tanaman yang genusnya diberi nama oleh Carolus Linnaeus pada 1753 itu merupakan jenis karnivora dengan penyebaran paling luas. Drosera ditemukan hampir di seluruh benua, kecuali Antartika. Mulai dari Alaska, Rusia, dan negara-negara Skandinavia di bagian utara hingga ujung selatan Chili, Tanjung Harapan di Afrika Selatan, dan Selandia Baru di belahan bumi bagian selatan.

Si embun matahari terdiri dari sekitar 188 spesies yang dibagi dalam 6 kelompok. Drosera hijau tropis, berumbi, mini, hijau sedang, tahunan, dan dorman. Yang disebut pertama merupakan kelompok terbesar yang terdiri dari 55 jenis drosera. Grup ini tersebar di sepanjang Asia Tenggara, Australia, Afrika, dan Amerika. Semua drosera hijau tropis tumbuh terus sepanjang tahun, tanpa ada masa dorman atau istirahat.

Drosera berumbi terdiri dari 48 spesies dan tumbuh eksklusif di Australia. Embun matahari dalam kelompok ini memproduksi umbi di bawah tanah yang mampu membuat dorman selama musim panas. Drosera mini terdiri dari 48 jenis, yang hanya tumbuh di Australia dan New Zealand. Kelompok ini dikatakan mini lantaran ukurannya kurang dari 2 cm. Drosera mini umumnya punya siklus pertumbuhan tahunan yang menggabungkan periode dorman atau semidorman.

Drosera hijau sedang umumnya terkenal dari Amerika Utara, Eropa, Asia Utara, Amerika Selatan, dan Australia. Kelompok yang terdiri dari 28 jenis drosera ini akan hilang sementara di habitatnya selama musim dingin lantaran dorman. Drosera tahunan terdiri dari 8 jenis yang ditemukan di Indonesia. Di alam, semua tanaman karnivora itu tumbuh dari biji. Berbunga pada umur 6 bulan pada musim hujan. Tanaman akan mati dalam 12 bulan jika kondisi kering. Grup terakhir terdiri dari 7 drosera yang tumbuh eksklusif di Afrika Selatan. Drosera ini mempunyai bentuk daun dan akar tebal sehingga bisa selamat selama periode kering.

Drosera memiliki daun yang sangat beragam baik bentuk maupun ukuran. Daun dilengkapi kelenjar yang sangat kompleks yang secara rahasia meneteskan air lengket berlendir. Bentuk daun ada yang bulat, oval, hingga bercabang. Panjang daun drosera antara 0,5-100 cm. Daun terbesar dipunyai oleh anggota D. binata yang berfungsi menunjang petiol yang sangat panjang. Drosera terkecil adalah jenis mini roset yang berdiameter hanya 1 cm. Sementara drosera terbesar: jenis memanjat yang panjang batangnya lebih dari 3 m.

Konservasi

Keberadaan 188 spesies itu berbeda satu sama lain. Sebut saja D. rotundifolia, D. intermedia, dan D. anglica yang penyebarannya sangat luas. Populasinya masih banyak meski sering terjadi pengrusakan. Sementara D. solaris hanya tumbuh di wilayah sempit, sehingga risiko kepunahan lebih nyata terutama jika terjadi bencana alam.

Sedangkan D. regia populasinya hanya ditemui di wilayah berlumpur di lembah kecil di barisan Bains Kloof di Afrika Selatan. Jumlahnya tinggal beberapa ratus individu saja. Bencana alam seperti musim kering yang panjang membuat habitat D. regia terancam punah. Untungnya habitat regia sangat terpencil dan jauh. Dengan begitu kerusakan akibat ulah manusia dapat dihindari. Begitu juga keberadaan D. solaris di Guyana.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img