Wednesday, January 28, 2026

Semarak Pesta Anggrek

Rekomendasi
- Advertisement -

Miniatur rumah adat Kalimantan Selatan dan anggrek spesies asli Papua memukau juri.

Miniatur rumah adat Kalimantan Selatan meraih juara ke-3 di kelas taman mini pada penyelenggaraan konferensi anggrek ke-12 Asia Pasifik 2016.
Miniatur rumah adat Kalimantan Selatan meraih juara ke-3 di kelas taman mini pada penyelenggaraan konferensi anggrek ke-12 Asia Pasifik 2016.

Miniatur rumah adat Kalimantan Selatan itu tampil seronok. Ratusan anggrek mokara kuning dan dendrobium ungu bertaburan di atapnya. Halamannya pun semarak dengan warna lembut perpaduan kuning, putih, dan ungu. Bangunan setinggi 2 m itu menyita perhatian pengunjung hingga para juri dalam acara konferensi anggrek ke-12 Asia Pasifik (The 12 th Asia Pacific Orchid Conference, APOC) di Bangkok, Thailand pada 19—27 Maret 2016.

“Miniatur rumah adat itu meraih juara ke-3 kategori taman mini,” ujar Dedek Setia Santoso, pemulia anggrek di Kotamadya Batu, Jawa Timur, yang turut hadir di acara itu. Menurut perancang miniatur rumah adat itu, Rudy T Mintarto, keunggulan taman milik Dewan Pimpinan Cabang, Persatuan Anggrek Indonesia (DPC PAI), Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan itu, terletak pada penataan bunga yang bervariasi.

Anggrek-anggrek dendrobium potong beradu elok.
Anggrek-anggrek dendrobium potong beradu elok.

Dua pekan
Rudy yang menjadi koordinator pameran luar negeri Indonesian Orchid Community itu mengatakan, “Penataan itu menghasilkan komposisi warna yang menarik.” Harap mafhum, miniatur rumah adat itu berisi anggrek-anggrek isitimewa yang menjadi daya tarik utamanya seperti anggrek bulan, dendrobium, dan vanda. Untuk mengerjakan desain taman itu, Rudy menghabiskan waktu selama 14 hari.

Dendrobium friedericksianum asal Thailand meraih juara ke-1 di kelas dendrobium spesies.
Dendrobium friedericksianum asal Thailand meraih juara ke-1 di kelas dendrobium spesies.

“Itu sudah termasuk pengerjaan properti taman seperti perisai khas Kalimantan yang kami buat dari stirofoam,” ujarnya. Sementara lama waktu pengerjaan taman di tempat acara 2—3 hari. “Desain maupun properti tidak sulit, tetapi waktu pengerjaan yang hanya 2—3 hari menjadi tantangan,” ujar pehobi anggrek sejak 1998 itu. Selain Kalimantan Selatan, perwakilan Indonesia pada ajang 3 tahuan itu adalah DPD PAI cabang Papua.

Paviliun Papua menampilkan rumah adat lengkap dengan ikon burung cenderawasih. Meski tak meraih juara, taman mini itu mendapat penghargaan dari juri atau setara dengan juara ke-4. Selain ajang pamer kreasi taman, APOC juga mengonteskan anggrek-anggrek unggul se-Asia tenggara mulai dari dendrobium spesies hingga hibrida. Di ajang itulah DPD PAI Papua memberikan kejutan bagi Indonesia.

Sebab, tim pimpinan Yolanda Tinal itu memperoleh 6 juara meliputi juara ke-1 dan ke-2 untuk anggrek Dendrobium violaceioflavens dan Dendrobium lasiantera, juara ke-3 Dendrobium macrophyllum, juara ke-3 Dendrobium mirbelianum dan Dendrobium spectabile. “Semuanya anggrek spesies asli Papua,” kata Rudy. Di kelas dendrobium spesies, Dendrobium friedericksianum asal Thailand meraih juara ke-1.

Preferensi warna

Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI) cabang Papua.
Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI) cabang Papua.

Menurut Dedek, “Anggrek D. friedericksianum unggul dari susunan bunganya yang rapi, berbunga serempak, warna sepal, petal, dan labelum kontras.” Dedek mengatakan preferensi warna anggrek di setiap negara berbeda-beda. Masyarakat di Asia tenggara, misalnya, lebih menyukai warna kontras dan ngejreng; Jepang meminati warna-warna lembut.

“Berbeda dengan Jepang, warna putih malah tidak disukai di Tiongkok. Hal itu karena warna putih di Tiongkok adalah tanda berkabung,” ujar Dedek yang menggeluti anggrek sejak 2007. APOC tahun ini bertema Orchid and Human Beings. Hal itu tak lepas dari manfaat anggrek bagi manusia, begitu pula sebaliknya. “Tema tepat sekali karena anggrek dan manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan,” ujar Rudy T Mintarto.

Menurut perwakilan Indonesian di APOC, Novianto Soerjanto, APOC kali ini mengadakan 4 kegiatan pokok, yakni konferensi APOC, konferensi anggrek, kontes anggrek, dan kreasi taman. Sebany

Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI)DPC  Kabupaten Tanahlaut, Provinsi Kalimantan Selatan.
Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI)DPC Kabupaten Tanahlaut, Provinsi Kalimantan Selatan.

ak 399 orang yang mewakili berbagai negara seperti Myanmar, Australia, Indonesia, Inggris, Ekuador, Mauritius, dan Thailand mewakili konferensi APOC. Adapun kontes anggrek diikuti total 1.300 anggrek dan 265 bunga potong.

Ajang kreasi taman yang terbagi dalam 3 kelas yaitu mini dengan ukuran 3 m x 3 m, medium (3 m x 6 m), dan besar (6 m x 6 m). Peserta berasal dari 13 negara di antaranya Myanmar, Peru, Taiwan, dan Indonesia dengan total 28 taman. “Secara umum desain taman maupun anggrek yang dilombakan lebih bagus dan beragam dibanding penyelenggaraan APOC sebelumnya,” ujar juri anggrek nasional dan internasional itu. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img