Monday, August 15, 2022

Semarang Arwana Contest 2007 Juara Berkat Air Hangat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tangan lelaki 29 tahun itu sigap menekan sebuah tombol. Pemanas pun bekerja menghangatkan air dalam akuarium.

Di dalam akuarium, seekor superred meliuk anggun menempelkan sungutnya ke kaca seolah berterima kasih. ‘Arwana memang perlu air bersuhu 30-32oC,’ ujarnya. Kurang dari itu, koloni parasit pembawa penyakit akan hinggap sehingga merusak penampilan klangenan.

Pada gelaran Semarang Arwana Contest, November 2007, ikan kebanggaan Robert itu menyabet juara pertama di kelas A. Sang superred asal Tanah Borneo itu mengalahkan 17 lawannya. Hergiarto, koordinator juri, mengacungkan 2 jempol untuknya. ‘Semuanya prima, dari sungut, mata, kepala, insang, sirip dayung atas dan bawah, sampai ekor,’ ujar kolektor arwana sejak 1982 itu. Masih belum cukup? Warnanya juga unggul, tampak dari sisik merah keemasan di kulit yang berpendar sempurna.

Karena warna sisik itulah, ia menyisihkan superred milik Hengky Susanto. Apalagi arwana lawan sepanjang 46 cm itu punya kelemahan. ‘Kayuhan ekornya tidak stabil, tidak simetris dengan liukan tubuh,’ ungkap pria 72 tahun. Soal tubuh, kebanggaan Hengky sebenarnya tidak kalah. ‘Proporsi tubuh dan ukurannya setara dengan juara,’ ujar Fajar Shodiq, juri lainnya. Akhirnya Sclerophagus formosus itu harus legawa dengan gelar juara 2.

Ketat

Di kelas B, 14 ikan dengan panjang tubuh 25-40 cm turun beradu elok. Persaingan ketat berlangsung antara superred milik Teong How, Yuki, dan Budi Kurniawan. Keempat juri yang menilai-Hergiarto, Fajar Shodiq, Kissa, dan Rully Dharmawan-bergantian meneliti ketiganya. Sesekali kening mereka berkerut. Akhirnya, superred milik Budi Kurniawan dinyatakan paling unggul. ‘Bentuk sendok di kepalanya paling sempurna ketimbang yang lain,’ kata Fajar Shodiq.

Superred milik Yuki sebenarnya memiliki warna indah mencorong. Sayang, ukuran ekor tidak sebanding tubuhnya. ‘Itu mengurangi nilai proporsi tubuh,’ ujar Fajar. Gaya renangnya pun dinilai kurang. Gerak yang terkesan percaya diri seperti ditunjukkan superred Budi tidak tampak pada kepunyaan Yuki. Makanya kontestan asal Surabaya itu harus berlapang dada dengan klangenannya yang hanya meraih gelar juara ke-2.

Superred koleksi Teong How tak kalah potensial. Di mata Fajar, kayuhan sirip dayungnya unik sehingga gaya berenangnya pun sedikit berbeda. Sayang, gerak sirip atas dan bawah kurang serasi, sehingga kerap agak terseok ketika akan berputar. ‘Nanti hilang sendiri saat umur bertambah,’ papar pria kelahiran Magelang itu.

Risiko besar

Kontes yang berlangsung di lahan parkir itu terselenggara atas kerja sama Penggemar Arwana Semarang dan Perkumpulan Flora Fauna Semarang. Ini adalah kontes pertama kali di Kota Atlas. ‘Dulu berkali-kali direncanakan tapi selalu batal. Makanya sekarang agak dipaksakan, mumpung ada pameran tanaman,’ kata Henryanto Susilo, ketua panitia. Meskipun gelaran perdana, kontes itu sukses.

Sebanyak 32 peserta datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, dan Pontianak. Meski urung menyabet gelar juara, peserta dari Pontianak memajang superred unik bersungut 4. Padahal, ‘Risiko membawa arwana untuk pameran sangat besar,’ ujar Budi Kurniawan, salah satu kontestan. Nyatanya, itu tidak menghalangi peserta untuk memamerkan koleksinya. Tak hanya sukses menggaet peserta, kontes itu juga menarik perhatian pengunjung pameran. (A. Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img