Wednesday, January 28, 2026

Seri Walet (169) Berebut Cericit di Gang Buntu

Rekomendasi
- Advertisement -

Gang sepanjang 200 m yang terletak di ruas Jalan Sudirman, salah satu jalan utama di Toboali Kota itu, ujungnya memang buntu karena berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk. Yang menarik di Gang Buntu itu adalah sisi kiri dan kanan gang berdiri rumah walet, berupa gedung jangkung terdiri atas 5 lantai. Hal itu mengingatkan pada kondisi sentra walet di Metro, Lampung.

Bangunan walet di Gang Buntu itu jumlahnya mencapai belasan. Wartawan Trubus, Sardi Duryatmo, yang datang ke sana menyaksikan beberapa rumah walet berdinding beton itu juga diberi pagar tinggi, hingga tiga meter. Di bagian atas pagar terdapat gulungan kawat berduri. Singkat kata, para pemilik rumah walet di Gang Buntu benar-benar menjaga keamanan rumah si liur emas itu.

Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Menurut Akim, salah satu penjaga rumah walet, pemasangan pagar kawat berduri itu muncul setelah berulang-ulang terjadi pencurian sarang. “Contoh setahun lalu ada sebuah rumah walet di sini kecurian sampai beberapa kg sarang tanpa diketahui,” kata Akim. Padahal bila melihat desain rumah yang sama persis seperti bangunan rumah walet modern di Pulau Jawa, sulit membayangkan pencuri mudah memetik sarang-sarang itu tanpa kepergok.

1998

Perkembangan walet di Toboali Kota yang berpenduduk sekitar 154.000 orang itu belum lama. Menurut Hary K Nugroho, konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, perkembangan bangunan walet  seperti jamur yang tumbuh di musim hujan itu terjadi sekitar 1998-an. “Ramainya terjadi pascakerusuhan di Jakarta,” ujar pemilik Eka Walet Center itu. Maklum saat kondisi negara genting itu banyak warga keturunan eksodus ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa, salah satunya Bangka Belitung. “Di sana mereka menginvestasikan uangnya dengan membikin rumah walet,” tambah Hary.

Rumah-rumah walet itu dibangun mirip bangunan walet di sentra-sentra Collocalia fuciphaga di Pulau Jawa dan Sumatera. Tingginya rata-rata 5 lantai serta berdinding beton. Setiap rumah memiliki satu atau dua lubang masuk dan keluar walet yang ditempatkan di lantai paling atas. Teknologi yang dipakai pun 100% serupa, seperti pemikat walet dengan tweeter dan CD pemanggil walet. Hal itu dianggap penting oleh si empunya rumah mengingat jarak antarrumah walet di Gang Buntu rapat, sekitar 2 – 3 m. “Dengan kondisi seperti itu bukan walet yang mencari rumah, tapi rumah yang mencari walet,” ujar Hary.

Berapa jumlah sarang yang dipetik setiap kali panen? Sejauh ini dari 2 penjaga yang ditemui Trubus di Gang Buntu tidak ada yang bersedia membeberkannya. Namun, bila melihat kondisi walet yang mudah ditemui di sekitar gedung meskipun tengah hari sekitar pukul 13.15 WIB – berbeda di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara yang ramai menjelang senja dan suara cericit walet riuh rendah, paling tidak  dapat dipetik 5 – 10 kg sarang setiap panen di rumah yang sudah berproduksi.

30%

Sejatinya sentra walet di Provinsi Bangka-Belitung tak hanya di Toboali yang terkenal dengan nanas dan terasinya. Masih ada daerah lain seperti Tempilang, Koba, Jebus, Muntok, Pangkalpinang, dan Sungai Liat. Di Muntok, misalnya, banyak bangunan tua yang menjadi sarang walet. Itu belum menghitung menara suar di Tanjung Kalian yang dibangun pada abad ke-18 yang sampai kini masih tegak berdiri serta berfungsi baik, juga dihuni walet. “Sejak 2000 populasi walet di sana sudah besar,” ujar Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah.

Menurut H Irwan, peternak yang memiliki rumah walet di Tempilang, Koba, dan Jebus, pertumbuhan rumah walet di Bangka-Belitung tergolong cepat. “Di Tempilang dan Koba saja bisa mencapai 100-an rumah walet,” katanya. Namun, berdasar pengamatan Irwan dari bangunan-bangunan itu hanya 30% yang sudah berproduksi. “Saat ini yang masih membangun hanya hitungan jari saja,” tambahnya.

Geliat itu juga dilirik pemerintah setempat. Di Bangka Selatan, rumah-rumah walet sudah menjadi satu sumber pendapatan daerah melalui retribusi sarang walet yang dibayarkan pengusaha setiap 3 bulan. Pada 2008, misalnya, dari data pemerintah setempat, retribusi sarang  walet mencapai Rp202.160.000 dari 34 bangunan walet yang berproduksi.

Meski Bangka-Belitung telah menjadi sentra walet, tetapi pengembangan ke depan tidak terlalu berprospek. Menurut Irwan ada 3 faktor yang menjadi alasan, yakni alam, cuaca, dan berlimpahnya jumlah bangunan walet. “Akibat penambangan liar banyak hutan hilang sehingga saat ini cuaca di Bangka semakin panas sehingga tidak sesuai lagi untuk walet,” kata Irwan yang sudah merasakan dampaknya dengan merosotnya produksi sarang di beberapa rumah walet miliknya.

Hal senada disampaikan oleh arief budiman. “Perambahan hutan membuat daerah bangka selatan tidak berprospek lagi menjadi sentra walet,” ujarnya. Padahal dengan hutan lestari, sumber pakan walet berupa serangga terjamin. Lebih jauh Arief menjelaskan bila pembangunan rumah walet masih berjalan, kecil kemungkinan walet akan mengisi. “Walet tetap akan memilih gedung lama yang sudah dihuni walet dalam jumlah besar. Ini terkait dengan rasa aman secara alamiah,” tambahnya. Pantas bila di gang buntu persaingan memikat walet terus berlangsung. (Dian Adijaya s/Peliput: Tri Istianingsih)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img