Thursday, December 8, 2022

Sidat Besar di Hapa

Rekomendasi

Teknik pembesaran sidat yang dilakukan Budi itu tergolong baru. Sampai kurun 1980 – 1990 sidat-sidat dibesarkan dalam bak-bak fiber memakai teknologi Aquaplan Resirculation System dan Peter Hermes. Teknologi di ruang tertutup itu mengadopsi cara pembesaran peternak sidat di eropa. Bibit yang ditebar adalah sidat eropa Anguilla anguilla.

Sayang, aplikasi teknologi Eropa gagal. Besar kemungkinan karena teknologi itu tidak sepenuhnya diterapkan. Terutama pada sistem resirkulasi yang berperan menjaga kualitas air. Selain itu pemakaian bibit impor membutuhkan adaptasi lebih lama. Sebab itu pula perkembangan budidaya sidat di tanahair lama vakum.

Titik terang

Pembesaran sidat mulai dilirik lagi pada 2000-an. Berbagai hasil penelitian teknik budidaya sidat dari lembaga-lembaga perikanan di Indonesia menjadi pemicu. Penggunaan sidat lokal pun berkembang. Ada 2 jenis sidat lokal yang dibudidayakan oleh lembaga riset pemerintah: Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla marmorata. Keuntungan menggunakan sidat lokal tidak butuh adaptasi lama sehingga lebih produktif.

Idealnya budidaya sidat terintegrasi mulai dari pembenihan (ukuran glass eel bobot 0,3 g/ekor) hingga pembesaran. Untuk itu butuh biaya besar. Modal terbesar terutama pada tahap pembenihan karena membutuhkan sistem resirkulasi yang baik. Sampai saat ini bibit sidat diperoleh dari tangkapan alam dari Cilacap, Jawa Tengah, dan beberapa daerah pesisir di Jawa Timur. Itu pun belum ada teknologi yang cukup aplikatif untuk diterapkan peternak pada skala kecil.

Investor dan peternak dapat melirik teknologi hapa seperti dilakukan Budi. Pembesaran memakai hapa membuat produktivitas sidat meningkat. Apalagi teknologi itu bisa diaplikasikan pada lahan sempit sampai besar, mulai kolam tembok, kolam tanah, atau langsung di karamba jaring apung (KJA). Namun bila KJA dipilih, mesti bersaing dengan budidaya ikan konsumsi populer lain seperti mas dan nila yang banyak dipelihara di waduk Cirata dan Jatiluhur, Jawa Barat.

Pemakaian hapa

Kolam bak atau tanah menjadi alternatif terbaik karena sebarannya lebih luas. Selain itu tidak ada perbedaan produksi mencolok antara pembesaran di kolam dan KJA. Pada kolam tanah atau tembok, hapa dibuat dari waring berukuran 2 m x 1 m. Di KJA ukuran hapa bisa lebih besar, 3 m x 3 m. Untuk ukuran lahan 6 m x 6 m dapat dipasang 3 – 4 hapa. Yang terpenting padat tebar diatur 3 kg/m3.

Baik di kolam tanah atau KJA ketinggian air diatur 1 m. Air tidak boleh menutupi seluruh hapa. Sisakan bagian atas yang bebas air 20 – 25 cm. Itu untuk mencegah sidat loncat keluar dari kolam. Di dalam hapa ditaruh keranjang plastik. Posisi keranjang tenggelam sedalam 10 – 15 cm. Itu untuk menaruh pakan.

Bibit menjadi faktor penting pembesaran sidat. Bila bibit yang dipakai berasal dari tangkapan alam, perlu diadaptasi minimal selama seminggu di bak kontrol. Tujuan utama untuk menyesuaikan terhadap pakan buatan. Setelah itu sidat dipindah ke dalam hapa. Selama berada dalam hapa sidat diberi pakan berupa pelet slow sinking alias tenggelam secara perlahan.

Ada 2 jenis ukuran pelet yang dipakai: 3 mm dan 5 mm. Pelet ukuran 3 mm berbentuk butiran diberikan selama 2 – 3 bulan pertama. Selanjutnya sampai masa panen diberi pelet ukuran 5 mm. Masing-masing pemberiannya 2 kali sehari – pagi dan sore. Dosisnya 3% dari bobot tubuh per hari. Yang terpenting pelet itu mengandung 45 – 47% protein. Rasio konversi pakan sidat memang tinggi sekitar 1:2 – 3 dengan laju pertumbuhan sekitar 1 – 1,1%.

Pemberian pakan tak boleh terlambat karena memicu kanibalisme. Sidat yang terluka akibat diserang sesamanya mudah terinfeksi cendawan dan berujung kematian. Kanibalisme juga timbul saat ukuran sidat tidak seragam. Sidat besar berpotensi menyerang yang kecil. Karena itu perlu dilakukan sortasi setiap 1 – 2 bulan dengan cara memakai ember berlubang sesuai ukuran yang ingin dipilah.

Oksigen terlarut

Membesarkan sidat di hapa juga perlu memperhatikan ketersediaan oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut terkait erat dengan nafsu makan. Bila kadar oksigen terlarut rendah, sidat malas makan dan pertumbuhan lambat. Pada kolam tanah pastikan air yang masuk tidak mengandung partikel-partikel lumpur.

Sejatinya sidat berkembang baik pada kondisi air dengan oksigen terlarut 3 – 4 mg/l. Produktivitas bakal melesat saat kandungan oksigen terlarut di atas 5 mg/l. Kadar oksigen dapat ditingkatkan dengan memberi aerasi memakai hi-blow atau kincir.

Dasar kolam yang tidak tertutup hapa dapat dimanfaatkan dengan menebar ikan lain berukuran kecil dengan sifat tidak mengaduk-aduk tanah. Nila salah satu pilihan pas untuk dipolikultur bersama sidat. Orechromis niloticus juga membersihkan lumut yang menempel di hapa. Dengan kombinasi pakan, sortasi, dan oksigen terlarut cukup, niscaya tingkat kelulusan hidup sidat selama pembesaran bakal mencapai  0 – 90%. Angka itu berlaku untuk kolam tanah dan KJA. Sejauh ini hapa menjadi alternatif untuk pembesaran sidat. (Ade Sunarma, MSi, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi)

Sidat isi 3 – 5 ekor/kg dipanen setelah 5 – 6 bulan dipelihara

Pemeliharaan sidat di KJA di Waduk Cirata gunakan hapa 3 m x 3 m

Proses panen sidat di KJA lebih mudah Keranjang plastik untuk menaruh pakan

Bibit sidat masih andalkan tangkapan alam

Foto-foto: koleksi Ade Sunarma

Argo Hartono

 

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img