YOGYAKARTA, TRUBUS.ID – Penambahan silika dalam pemupukan berpotensi membantu tanaman padi mempertahankan produktivitas meski mendapat pasokan hara terbatas. Silika juga memperkuat struktur daun dan membantu menekan perkembangan sejumlah penyakit tanaman.
Penelitian yang melibatkan periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta itu menggunakan padi varietas Inpari 32 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, mengatakan bahwa penambahan silika pada pemupukan dengan dosis hara terbatas mampu mempertahankan hasil panen setara dengan perlakuan pemupukan lainnya.
Peneliti membandingkan empat perlakuan, yakni pemupukan dosis rekomendasi, dosis terbatas, dosis terbatas dengan tambahan silika, serta praktik pemupukan petani. Hasilnya, pemupukan dosis terbatas yang disertai silika memberikan kinerja agronomis yang seimbang.
Menurut Arlyna, silika membantu memperkuat struktur daun melalui peningkatan ketebalan kutikula dan jaringan mesofil. Tanaman yang memperoleh tambahan silika juga memiliki kepadatan stomata dan kandungan klorofil lebih tinggi dibandingkan tanaman yang mendapat pemupukan terbatas tanpa silika.
Pada perlakuan pemupukan terbatas dengan tambahan silika, ketebalan kutikula mencapai 18,3 mikrometer dan jaringan mesofil 256,2 mikrometer. Adapun kepadatan stomata mencapai 473,9 stomata per milimeter persegi, dengan kandungan klorofil sebesar 15,4 SPAD.
Penguatan struktur daun tersebut membantu tanaman mempertahankan fungsi fisiologis, termasuk fotosintesis, ketika menghadapi keterbatasan hara. Akumulasi silika juga berpotensi menghambat perkembangan sejumlah penyakit daun padi, yaitu bacterial red stripe, hawar daun bakteri, dan narrow brown spot.
Silika memperkuat jaringan daun sehingga membantu membatasi masuknya patogen. Dengan begitu, tanaman memperoleh perlindungan fisik sekaligus memiliki kondisi fisiologis yang lebih baik untuk menghadapi tekanan lingkungan dan serangan penyakit.
Meski demikian, penambahan silika tidak meningkatkan hasil panen secara signifikan. Perlakuan pemupukan terbatas dengan silika menghasilkan 6,24 ton gabah per hektare. Sementara itu, seluruh perlakuan menghasilkan gabah dalam kisaran 6,15–6,24 ton per hektare.
Arlyna menjelaskan bahwa silika lebih berperan menjaga kestabilan hasil daripada meningkatkan produksi secara langsung. Tanaman menjadi lebih mampu menghadapi tekanan akibat keterbatasan nutrisi dan penyakit sehingga produktivitas tetap terjaga.
Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui kemampuan silika dalam mengompensasi pengurangan unsur hara utama. Analisis ekonomi, termasuk rasio biaya dan manfaat, keuntungan bersih per hektare, serta harga silika yang ideal, juga belum dilakukan.
Oleh karena itu, penerapan silika di tingkat petani perlu mempertimbangkan kondisi tanah dan kebutuhan hara spesifik setiap lokasi. Penggunaan silika juga tidak serta-merta menggantikan kebutuhan tanaman terhadap unsur hara utama.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Chilean Journal of Agricultural Research, volume 86 nomor 5, Oktober 2026, dengan judul Silicon-induced Leaf Structural Reinforcement Modulates Growth, Foliar Disease and Yield Performance of Rice under Nutrient-Limited Conditions.
Temuan itu menunjukkan bahwa penambahan silika berpotensi menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan padi, memperkuat ketahanan tanaman, dan menjaga produktivitas ketika pasokan hara terbatas.
Sumber: BRIN
