Thursday, August 18, 2022

Simpan Bayi Dalam Mulut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tarsius fuscus membawa anaknya dalam mulut saat bepergian.
Tarsius fuscus membawa anaknya dalam mulut saat bepergian.

Bayi tarsius Tarsius sp. adalah primata terbesar ketika lahir. Bobot tubuhnya 25—30% dari bobot induk. Jika rata-rata bobot induk 100 g, maka bobot bayi tarsius 25—30 g. Bandingkan dengan bobot orok primata lain seperti orang utan Pongo pygmaeus yang mencapai 1,5 kg atau 5% dari bobot induk minimal 30 kg. Bobot bayi manusia pun hanya sekitar 5% dari bobot ibu.

Sekitar 60—70% dari bobot lahir tarsius adalah otak. Jadi jika jabang bayi tarsius berbobot 25 g, maka bobot otaknya 15 g. Bobot otak individu dewasa kurang lebih 24 g. Ukuran otak yang sangat besar memungkinkan koordinasi dan perkembangan perilaku dan neuromuskular bayi tarsius sangat cepat. Anak tarsius berumur enam pekan dapat bergerak bebas.

Keterampilan mencari pakan pun mereka pelajari sendiri tanpa bantuan induk. Hebatnya lagi kemampuan memangsa tarsius berumur 100 hari sama baiknya dengan individu dewasa. Dengan kata lain kemandirian mencari pakan sendiri tercapai saat berumur belia. Perkembangan pesat pada perilaku bayi tarsius tidak sebanding dengan pertumbuhan neonatal dan postnatal.

Anak orang utan lebih berat ketimbang bayi tarsius yakni 1,5 kg.
Anak orang utan lebih berat ketimbang bayi tarsius yakni 1,5 kg.

Bahkan perkembangan janin tarsius di Pulau Kalimantan adalah yang paling lambat ketimbang mamalia lain. Bayi tarsius muncul ke dunia setelah bersemayam sekitar 175—180 hari dalam rahim induk. Peneliti tarsius dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ir Wirdateti MSi, mengatakan selama tiga tahun terdapat dua kali kelahiran.

Masa sapih hewan monogami itu berlangsung enam bulan. Tarsius berumur 1,5—2 tahun memisahkan diri dari kelompok dan siap kawin. Hasil penelitian dosen Fakultas Peternakan, Universitas Sam Ratulangi, Prof Dr Ir Hengki Johannis Kiroh MS, menunjukkan tarsius saling mengejar sambil bersuara khas saat berahi. Sebelum berkopulasi, pejantan menguber betina lantas saling memeluk dengan tangan dan merentangkan kaki-kakinya.

Tarsius meletakkan anak di pohon dalam teritori mereka.
Tarsius meletakkan anak di pohon dalam teritori mereka.

Dalam penelitian doktoralnya Johanis menyatakan tarsius di Cagar Alam Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, berkembang biak hampir sepanjang tahun. Ahli Biologi Konservasi, John MacKinnon, dalam International Journal of Primatology menyatakan musim kawin tarsius liar yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Betina melahirkan rata-rata satu anak.

Menurut Wirdateti besarnya bobot bayi menyebabkan tarsius menghasilkan satu anak setiap kelahiran. Jika satwa nokturnal itu melahirkan dua ekor, bobot lahir anak bisa lebih kecil. Dampaknya, “Kemungkinan terjadi kematian pada anak,” kata peneliti tarsius sejak 2000 itu. Meski begitu kemungkinan melahirkan lebih dari satu anak pada primata dapat terjadi.

Sang induk tarsius pun kerepotan mengasuh dan membawa anak jika memiliki dua bayi sekaligus. Hanya betina yang membawa anak, sedangkan pejantan tidak. Tarsius betina tidak meletakkan anaknya di pundak atau dada, tetapi di dalam mulut. Dalam Handbook of The Mammals of The World disebutkan alloparenting—ketika anak tarsius diurus tarsius lain—berlaku pada kelompok tarsius.

Tarsius melahirkan anak berbobot 25—30% dari bobot induk atau sekitar 25—30 g.
Tarsius melahirkan anak berbobot 25—30% dari bobot induk atau sekitar 25—30 g.

Pejantan dewasa dan betina remaja juga mengurus anak. Aktivitas yang dilakukan antara lain bermain dan membersihkan anak yang ditinggal ibunya. Betina remaja lebih peduli karena mereka menyelamatkan anak yang terjatuh. Betina remaja juga membiarkan anak mengambil mangsa hasil buruan mereka. Induk betina tidak terus-menerus menyimpan anak dalam mulut.

Betina meletakkan anak di pohon ketika berburu. Penempatan anak juga di pohon yang masih masuk wilayah teritori mereka. Menurut penelitian jarak antara indukan dan anak sekitar 4 m. Lazimnya sang induk meninggalkan anak selama 27 menit. Bahkan kerap kali sang induk mencari pakan di pohon yang sama dengan lokasi si bayi. Setelah selesai di satu pohon, betina memasukkan anak ke dalam mulut.

Setelah tiba di pohon lain, mereka keluarkan anak mereka, lantas pergi mencari pakan. Kurang lebih sang anak berpindah tempat sebelas kali dalam semalam. Lokasinya tergantung dari keberadaan sumber pakan. Wirdateti mengatakan mayoritas pakan tarsius adalah serangga hutan seperti jangkrik, kupu-kupu, dan semut. Dengan pakan itulah primata terkecil itu terus tumbuh menuju dewasa. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img