Solar Cell Automatic Trapping, Teknologi Pengendali Hama Padi Berbasis Energi Surya

Rekomendasi
- Advertisement -

Serangan hama menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga produktivitas tanaman padi. Teknologi Solar Cell Automatic Trapping hadir sebagai solusi pengendalian hama terpadu yang memanfaatkan energi surya untuk menekan populasi wereng, tikus, dan burung tanpa bergantung pada pestisida kimia.

Teknologi tersebut dikembangkan oleh tim peneliti dari Politeknik Negeri Jember melalui kegiatan pengabdian di Desa Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Inovasi itu dirancang untuk membantu petani menerapkan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Serangan hama seperti wereng batang cokelat, tikus, dan burung menjadi ancaman bagi produksi padi. Ketergantungan terhadap pestisida kimia selama ini masih menjadi pilihan utama, tetapi penggunaan berlebihan berisiko terhadap lingkungan, kesehatan, serta keberlanjutan ekosistem pertanian.

Solar Cell Automatic Trapping menggabungkan beberapa teknologi dalam satu perangkat. Sistem tersebut menggunakan lampu ultraviolet (UV) untuk menarik serangga, gelombang ultrasonik untuk mengusir tikus, serta suara predator alami berupa suara elang untuk menjauhkan burung dari area pertanaman.

Pada bagian pengendalian wereng, lampu UV menarik serangga mendekati alat kemudian kipas isap mengarahkan hama menuju wadah penjebak. Sistem ini bekerja secara otomatis sehingga petani tidak perlu melakukan pengawasan terus-menerus di lahan.

Untuk mengendalikan tikus, alat memanfaatkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 20–50 kHz. Frekuensi tersebut tidak terdengar oleh manusia, tetapi dapat mengganggu sistem saraf hama sehingga tikus terdorong menjauh dari area pertanaman.

Sementara itu, pengendalian burung dilakukan menggunakan speaker yang memutar suara elang sebagai predator alami. Suara tersebut memberikan efek ancaman bagi burung seperti pipit, gereja, dan emprit sehingga mengurangi aktivitas burung di lahan padi.

Seluruh sistem mendapatkan pasokan energi dari panel surya berkapasitas 50 watt peak (Wp) yang terhubung dengan baterai 100 Ah. Energi tersebut digunakan untuk mengoperasikan lampu UV, kipas penjebak, sensor, serta sistem suara secara mandiri.

Rancangan alat dibuat menyesuaikan kondisi lahan sawah dengan menggunakan rangka besi hollow setinggi 1,5 meter. Ketinggian tersebut dipilih agar posisi alat berada sekitar 50 cm di atas tanaman padi sehingga jangkauan cahaya lebih luas.

Implementasi Solar Cell Automatic Trapping dilakukan pada 29 Agustus 2025 di lahan sawah Kelompok Tani Makmur, Desa Rambipuji. Setelah pemasangan, tim melakukan pemantauan untuk memastikan sistem otomatisasi, pengisian energi surya, serta mekanisme penjebakan berjalan sesuai rancangan.

Hasil pengujian menunjukkan alat mampu bekerja secara stabil di lapangan. Wadah penjebak secara konsisten terisi wereng dalam jumlah signifikan setelah beberapa hari pengoperasian.

Selain mampu menangkap hama, sistem otomatisasi juga berjalan sesuai fungsi melalui sensor cahaya (LDR). Lampu UV hanya aktif saat kondisi gelap, sedangkan panel surya mampu mengisi baterai untuk mendukung operasional alat selama beberapa malam.

Teknologi ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida sekaligus menekan biaya pengendalian hama. Pemanfaatan energi matahari juga menjadikan alat lebih hemat energi dan mendukung konsep pertanian hijau.

Pengembangan Solar Cell Automatic Trapping membuka peluang penerapan teknologi pertanian presisi di berbagai wilayah sentra padi. Inovasi tersebut menjadi contoh penerapan energi terbarukan untuk mendukung pengendalian hama terpadu dan ketahanan pangan berkelanjutan.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Harga Pangan 11 September: Cabai Rawit Merah Tembus Rp90.050 per Kg

Trubus.id — Harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang pasar tradisional mengalami perubahan pada 11 September 2026. Berdasarkan data...

More Articles Like This