Trubus.id—Speciality tea karya Rizal Firdaus Rayfasha, S.T., bercita rasa khas. Meski tersaji tanpa gula, teh oolong meninggalkan rasa manis usai diminum. Muncul pula rasa woody atau kayu dan nutty atau kacang-kacangan. Ia menjual teh itu Rp350.000 per kg.
Bandingkan dengan teh biasa yang diseduh di warung-warung yang hanya Rp25.000 per kg. “Harganya bisa meningkat paling minim lima kali lipat,” tutur produsen teh di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu.
Rizal memperoleh bahan baku dari para petani mitra di Ciwidey dan Pasirjambu, keduanya di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Mereka membudidayakan teh sinensis dan asamika. Rizal memproduksi 50 kg speciality tea kering saban bulan.
“Butuh 250 kg daun teh segar untuk menghasilkan 50 kg teh kering,” tutur produsen speciality tea sejak 2014 itu. Ia memasarkan teh istimewa itu kepada para pencinta teh dan restoran-restoran di Pulau Jawa dan Bali.
Proses dan cita rasa itulah yang membuat harga speciality tea jauh lebih tinggi dibandingkan dengan teh biasa. Agar cita rasa optimal, Rizal hanya menggunakan daun teh muda atau peko+3. Artinya, para petani hanya memetik daun termuda atau pucuk teh ditambah tiga daun di bawah.
“Kami memberikan edukasi plus harga yang tinggi untuk petikan teh itu sehingga petani antusias bekerja sama dengan kami,” tutur direktur CV Duta Niaga Sukses itu.
Rizal tak pernah berhenti mengedukasi para petani agar merawat tanaman dengan baik seperti pemupukan, pemangkasan, dan pemetikan yang benar untuk mendapatkan daun teh berkualitas. Rizal juga berani membeli teh hasil petikan petani itu lebih mahal dibandingkan dengan harga beli dari pabrik pengolah teh konvensional.
“Biasanya saya beli Rp10.000—Rp15.000 per kg. Sementara harga jual para petani ke pabrik pengolah teh konvensional sekitar Rp2.500 per kg,” tutur Rizal. Ia memproduksi speciality tea jenis teh oolong dan teh hijau (green tea).
“Untuk white tea, kami langsung ambil dari petani karena pemrosesan tidak membutuhkan alat-alat yang canggih,” kata Rizal.
Ia memberi nama beberapa produk dengan menambahkan kata Ciwidey sebagai petunjuk tempat teh itu berasal. Nama-nama produk teh kreasi Rizal antara lain ciwidey light oolong, ciwidey medium oolong, ciwidey ori ocha, dan blue ocean.
“Untuk green tea kami unik karena muncul rasa seperti umami atau kaldu ala Jepang,” tutur alumnus Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung, itu.
“Saya berharap, Indonesia punya teh istimewa yang bisa terkenal di internasional seperti matcha dari Jepang, teh oolong dari Taiwan, dan bahkan sekarang ada thai tea yang dari Thailand. Saya yakin Indonesia bisa karena kita punya teh-teh terbaik di tiap sentra teh,” tutur Rizal.
