Thursday, January 29, 2026

Stroberi dari Zuid Midden Timor

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Penampungan air menjadi solusi di NTT yang mengalami musim kemarau selama 8 bulanSem Padalegi merintis budidaya stroberi di Nusa Tenggara Timur setelah belajar mengebunkan Fragaria sp di JepangIrigasi tetes cocok diterapkan di NTT untuk menjaga pasokan air saat musim kemarau datangMeski memiliki dataran tinggi, NTT memang bukan sentra stroberi. Buah yang paling populer di sana adalah jeruk keprok soe yang tumbuh di ketinggian 600 – 930 m dpl. Sem mulai menanam stroberi sepulang dari magang kerja di bidang pertanian di Jepang. Di negeri Sakura itu ia belajar mengebunkan stroberi. ‘Di sana stroberinya manis dan besar-besar,’ ujar kelahiran 39 tahun silam itu.

Tiga tahun menempuh pendidikan informal itu, Sem membawa 200 setek tanaman stroberi ke tanah kelahirannya di Desa Oelbubuk, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang beribukota di Soe. Tercatat 3 varietas yang ia boyong: yumenoka, akihime, dan tochihotome.

Menurut Dr Hardiyanto MSc, kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, Jawa Timur, Soe memang pantas menjadi lokasi budidaya stroberi. Itu karena stroberi butuh suhu dingin sekitar 17 – 200C dan sinar matahari 8 – 10 jam. Contohnya di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, dan Bedugul, Bali.

Yumenoka

Kini dari ketiga varietas yang dibawa Sem pada 2008 hanya yumenoka yang dikembangkan besar-besaran. ‘Yumenoka paling adaptif di Soe. Sosoknya juga paling menarik karena besar, Bobot buahnya bisa mencapai 50 g,’ ujarnya. Yumenoka yang muncul di Jepang pada 2005 merupakan silangan dari hibrid nyoho dan pistro dengan varietas aistro.

Di Soe, yumenoka tumbuh tegak dan kokoh. Buahnya merah mencolok berbentuk kerucut dengan bobot mencapai 20 g. Menurut Hardiyanto, yumenoka tergolong varietas baru dan belum banyak dikebunkan di tanahair. Sentra stroberi kebanyakan mengebunkan varietas lokal seperti dorit, bali, dan brastagi. Varietas impor yang sudah dikebunkan antara lain california dan nyoho, salah satu tetua yumenoka.

Yang istimewa Sem menanam Fragaria sp itu secara organik di pekarangan rumahnya. Ia membuat bedengan setinggi 60 cm yang ditutup mulsa perak. Sebelumnya ia mencampur tanah dengan pupuk kandang kotoran sapi dan kambing. Setiap bedengan selebar 1,2 m dan panjang 10 m mendapat 100 kg pupuk. ‘Tiap tahun tanah dibongkar dan ditambah pupuk kandang lagi,’ ujarnya.

Saat Trubus mengunjungi kebun Sem di kabupaten bernama Zuid Midden Timor, dalam bahasa Belanda, itu pada pengujung September 2010, sebagian tanaman tengah pamer buah mungil berwarna putih kemerahan. Ukuran buah kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Sekilas mereka tak tampak, tersamar dominasi daun hijau nan lebar. Saat cuaca bagus, Sem memanen minimal 100 kg per minggu buah cinta dari kebunnya.

Kini stroberi dari kebun Sem memasok di 2 pasar swalayan di Kupang. Di Jawa sekantong kecil stroberi yang berbobot 200 g biasa dijajakan Rp5.000, di NTT Rp10.000 – Rp15.000. Harga lebih mahal karena pasokan stroberi masih terbatas dan belum kontinu. Menurut Ir Max WPI Liokoy MSi, kepala bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten TTS, kini masyarakat TTS mulai tertarik menanam stroberi.

Contohnya di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan. Di sana tanaman yang gampang diperbanyak dengan stolon itu ditanam polibag setinggi 25 cm. Banyak pula masyarakat yang coba-coba menanam di halaman rumah sebagai tabulampot.

Irigasi tetes

Sem memilih budidaya di bedengan berlapis mulsa untuk menghindari ancaman gulma. Sementara sistem pengairan menggunakan irigasi tetes. Ia membuat sebuah bak semen untuk menampung air hujan atau air tanah di musim kemarau. Air lantas dipompa ke tandon yang diletakkan di atas tiang penyangga setinggi 2 m lalu dialirkan ke pipa yang tertanam di setiap lajur bedengan. Dengan cara itu air tersedia di musim kemarau sekaligus mencegah air berlebih saat hujan.

Menurut Hardiyanto, stroberi butuh air cukup tetapi tanah tak boleh becek. ‘Jika tanah terlalu becek atau lembap, akar gampang busuk,’ ujarnya. Sebaliknya jika pasokan air kurang, tanaman yang memiliki perakaran dangkal itu gampang kering dan mati. Makanya irigasi tetes yang diterapkan Sem sangat pas untuk kondisi NTT yang mengalami musim kemarau selama 8 bulan. Karena stroberi, kini Soe tidak hanya identik dengan jeruk keprok. (Tri Susanti)

 

 

  1. Stroberi varietas yumenoka yang dikebunkan Sem tergolong varietas baru di tanahair. Di Jepang, bobotnya bisa mencapai 50 g per buah
  2. Penampungan air menjadi solusi di NTT yang mengalami musim kemarau selama 8 bulan
  3. Irigasi tetes cocok diterapkan di NTT untuk menjaga pasokan air saat musim kemarau datang
  4. Sem Padalegi merintis budidaya stroberi di Nusa Tenggara Timur setelah belajar mengebunkan Fragaria sp di Jepang

Kutu Putih Mati

Tiga tahun membudidayakan stroberi Sem masih juga was-was. Beberapa tanaman terserang kutu putih di bagian akar. Mealybugs sepanjang 1,5 mm itu mengisap cairan akar. Sembari itu mereka juga menghasilkan lapisan lilin menyerupai kapas tempat bertelur. Saat serangan parah, tanaman layu, lalu mati.
Menurut Dr Ir Widodo, ahli hama dan penyakit tumbuhan Institut Pertanian Bogor (IPB), kutu putih termasuk hama stroberi. Namun, tak perlu panik dan buru-buru membasmi dengan pestisida jika serangan kurang dari 1%. Cukup buat larutan sabun cuci tangan cair. Lalu semprotkan ke tanaman terserang. Sabun meluruhkan lilin yang melindungi kutu putih dan menyebabkan dehidrasi sehingga hama mati. (Tri Susanti)

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img