Sunday, November 27, 2022

Sawo Jumbo asal Italia dari Timur

Rekomendasi

 

Engkus Kusnadi produksi sawo sukatali mampu capai 600—800 ton/tahunUkuran buah terdongkrak setelah Engkus Kusnadi, empunya kebun mengurangi populasi tanaman. ‘Dulu total populasi 200 pohon. Kini tinggal setengahnya,’ kata Engkus. Kebun pun terlihat lebih lega dengan jarak tanam 7 m x 7 m sampai 10 m x 10 m. Yang lebih penting sinar matahari bisa menembus tajuk tanaman.

Menurut Yos Sutiyoso, ahli fisiologi tanaman di Jakarta, dengan penjarangan laju fotosintesis meningkat sehingga kualitas buah terdongkrak: lebih besar dan manis. Apalagi Engkus juga selalu membuang pentil-pentil sawo yang bentuknya abnormal setiap musim buah tiba pada Desember – Februari. ‘Setiap tangkai buah hanya disisakan 1 buah. Biasanya dalam setangkai bisa muncul 4 – 5 buah,’ kata Engkus. Makanya bobot buah mencapai 85 – 125 g atau sekilo isi 8 – 12 buah, lazimnya sawo sukatali 60 – 85 g.

Lebih untung

Dengan perlakuan itu Engkus pun menuai untung lebih banyak. Pohon berumur 10 tahun rata-rata menghasilkan 125 kg buah. Sebanyak 70% buah tergolong kualitas AB alias sekilo isi 8 – 12 kg. Sisanya 30% masuk grade B (sekilo isi 12 – 16 buah) dan grade C (sekilo isi 16 buah). Dulu kebalikannya, grade B 50%. Sisanya 25% C dan 25% AB.

‘Dari grade AB saja sudah dapat Rp875.000,’ kata Engkus. Itu karena harga sawo grade AB di kebun mencapai Rp10.000 per kg. Sementara grade B, Rp8.000 per kg dan grade C, Rp7.000/kg. Bahkan, dengan perawatan lebih intensif berupa perlakuan pemupukan dan penjarangan bisa dipanen grade super bobot 200 g per buah. Sawo sukatali super itu dilepas di kebun seharga Rp15.000 per kg.

Menurut Dr Ir Meddy Rachmadi MS dari Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung sawo sukatali disukai di pasaran karena teksturnya lembut tanpa ‘berpasir’. Ia pun lebih tahan lama karena tetap empuk dan manis saat dikonsumsi 4 hari setelah matang. Bandingkan dengan sawo manila yang 2 – 3 hari setelah matang kulit berubah cokelat tua dan dagingnya lembek.

Menyebar

Kini, kebun milik Engkus dan Kelompok Tani Sugih itu menjadi percontohan bagi masyarakat setempat. Maklum, Sukatali sejak lama menjadi sentra sawo di Sumedang. Tercatat di desa itu tumbuh 6.685 tanaman sawo berbagai umur. ‘Sebanyak 95% penduduk memiliki pohon sawo,’ kata Ade Ratna Wulan, kepala Desa Sukatali. Beberapa malah sudah mengebunkan secara monokultur, tidak lagi sekadar tanaman pekarangan.

Menurut Ade Achras zapota itu dibudidayakan di Sukatali sejak 1900-an. Saat itu Satir, warga Sukatali yang mengabdi kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmaja diberi bibit sawo. Sang pangeran memperolehnya dari seorang warga Belanda. Semula kerabat miracle fruit Synsepalum dulcificum itu hanya ditanam sang pangeran dalam pot dan belum berbuah.

Satir lalu membawa sawo ke kediamannya di Sukatali yang berketinggian 600 m dpl dan ditanam di pekarangan. Setelah 3 tahun, sawo asal cangkok itu mulai berbuah. Rasa manis tanpa ‘berpasir’ membuatnya menjadi favorit sang bupati dan warga sekitar. Sawo itu pun kerap disuguhkan di setiap acara di kabupaten dan masyarakat mulai mencangkoknya hingga populasi mencapai ratusan pohon di sekitar Sukatali.

Kini kelezatan sawo sukatali menyebar ke seputaran Jawa Barat seperti Bogor, Cianjur, Subang, dan Purwakarta hingga ke Gorontalo serta Balikpapan di Kalimantan Timur. Dari bumi Sumedang yang dijuluki Johan Koning dalam pengantar buku Het Paradijs van Java karya fotografer Belanda Wijnand Kerkoff, sebagai Italia dari Timur itu, sawo sukatali kian populer. (Faiz Yajri)

 

Sawo dikebunkan secara intensif di Sukatali dengan populasi 100 pohon/ha

Sawo sukatali rasa manis tanpa “pasir” menjadi favorit konsumen

Engkus Kusnadi produksi sawo sukatali mampu capai 600—800 ton/tahun

Pohon induk milik Satir ditaksir berumur 100 tahun mampu berproduksi 1,2 ton/tahun

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img