Monday, August 8, 2022

Tiga Cara Menuju Puncak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sarang penuh madu diturunkan dari pohon rengasTiang pertama miring 45o selebihnya tegak lurus (Lutfie-WWF Riau )Sebelum pohon sialang itu benar-benar dipanjat pada malam hari, Sabtu, sang pemimpin beranggotakan 4 – 5 orang dari Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, itu membuat titian sebagai jalur pembuka. Ia menyandarkan sebatang pohon di batang utama pohon sialang membentuk sudut 450. Pada setiap sisi batang pohon yang disandarkan itu Sabtu menancapkan 4 – 5 batang pohon lain dan diikat erat memakai tali rotan. Batang pohon itu berfungsi sebagai pijakan kaki dan tangan pemanjat sebelum meniti ke puncak pohon sialang.

Setelah jalur pembuka beres, Sabtu merintis jalur utama menuju cabang pohon sialang. Pemanjat dengan jam terbang selama 35 tahun itu menyusun secara bertingkat beberapa batang pohon lain sehingga mirip tangga. Ujung dari tangga itu mesti sampai di cabang pertama pohon sialang. Nah, agar posisi pohon di jalur utama itu kokoh, pada setiap jarak 1,5 m, batang-batang kayu panjatan diikat erat tali rotan yang juga dililitkan pada pohon sialang. Setelah semua beres, prosesi panen madu yang berlangsung pada malam hari siap dilakukan.

Menurut Sabtu cara memanjat pohon sialang itu dengan tangga berlangsung turun-temurun. Pemanjat bukan hanya mengandalkan nyali, tetapi juga perhitungan matang dan tentu saja memanjatkan doa keselamatan. Maklum saat memanjat batang pohon sialang yang lebarnya dapat mencapai 2,5 kali bentangan tangan orang dewasa itu, pemanjat tidak dibekali alat pengaman seperti pada olahraga panjat tebing. ‘Makanya perlu aturan agar semua selamat,’ kata Sabtu.

Berdoa sebelum memanjat, menurut Burhanuddin, mantan pemanjat di Gunungsahilan, Riau, dipimpin oleh juragan – pimpinan pemanjat yang dituakan. Namun, meski doa telah dirapalkan, tetapi jika hujan gerimis, pemanjatan dapat ditunda. ‘Tidak boleh mengambil risiko sekecil apa pun,’ ujar Burhanuddin yang sejauh ini belum pernah mengalami nasib buruk gara-gara memanjat, kecuali tersengat lebah hingga wajahnya bengkak-bengkak.

Selain menggunakan tangga, cara lain memanjat pohon sialang dengan paku. Menurut Ahmad Wazar, anggota Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo di Desa Lubuk Kembang Bunga, memanjat memakai paku jauh lebih sulit. ‘Nyali pemanjat harus sangat besar,’ katanya. Maklum seperti memakai tangga, pemanjat meniti paku juga tanpa memakai pengaman memadai. Paku runtuh, nyawa bisa melayang. Untungnya hal itu tidak pernah terjadi.

‘Biasanya yang dipakai paku ukuran 5 inci,’ katanya. Paku itu berukuran 3/4 panjang pensil tulis. Paku dibenamkan rangkap dua ke batang pohon sialang sedalam 3 – 5 cm. Posisi antarpaku diatur sedemikian rupa sehingga membentuk jalur zigzag pada salah sisi pohon. Itu memudahkan pemanjat menggapai lalu menapakkan kaki pada setiap paku. Untuk pohon sialang setinggi 40-an meter setidaknya memerlukan 10 kg paku dengan harga Rp15.000/kg.

Lutfie dari Community Development WWF Riau menuturkan pemanjat dari Sumatera Barat masuk ke Riau, memberikan andil terhadap munculnya cara memanjat yang lain. ‘Mereka menggunakan tali,’ katanya. Tali dibagi menjadi dua. Tali pertama dikaitkan ke cabang pertama terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Ujung tali itu diikat senar pancing lalu diganduli batu seukuran kelereng. Dengan bantuan ketapel batu yang diikat senar itu dilontarkan ke atas supaya tersangkut pada cabang pertama. ‘Ujung yang sudah menjutai ditarik bersama-sama tali pertama yang juga diikatkan pada tali kedua,’ ujar Wazar.

Nah, masing-masing tali itu memiliki peran. Tali pertama berguna untuk mengerek pemanjat ke atas, sedangkan tali kedua untuk menaik-turunkan ember berisi sarang madu. Cara itu memang lebih aman, tetapi menuntut tenaga besar terutama bagi petugas pengerek. ‘Kalau tubuh pemanjat besar, cabang pertama setinggi 20-an meter baru bisa dicapai setelah 2 – 3 jam. Itu pun setelah ditarik oleh 3 orang,’ kata Burhanuddin. Tidak gampang memang memanen madu hutan. Butuh keberanian, bakat, bahkan taruhan nyawa untuk memanjat dan mengambilnya. (Dian Adijaya Susanto)

 

 

Menuju puncak pohon dengan tangga untuk panen madu (Lutfie-WWF Riau)

Tiang pertama miring 45o selebihnya tegak lurus (Lutfie-WWF Riau )

Sarang penuh madu diturunkan dari pohon rengas (Dian Adijaya Susanto)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img