Friday, December 2, 2022

Di Angkasa Menuai Madu

Rekomendasi

 

Pemanen mengiris sarang untuk mengeluarkan maduEksplorasi panen madu hutan melalui Sungai Kampar Kiri, RiauTunam dari kulit kayu jangkangPercikan api dari atas pohon bersumber dari tunamBangris Koompasia sp salah satu jenis pohon sialangMatahari telah lama lingsir di kaki langit. Pada pukul 19.33 Sukarno mengikat seutas tali di pinggang. Di ujung tali plastik biru itu terdapat tunam, sabut kelapa atau kulit pohon yang terikat kuat sepanjang 1 meter. Pria tegap berusia 27 tahun itu mengenakan kaos tanpa lengan, celana pendek, dan bergegas memeluk batang rengas yang menjulang. Hanya dalam 10 menit, ia sampai di cabang pertama, 10 meter dari permukaan air. Lokasi pohon di tepi Danau Kotobuang di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, yang meluap hingga batang rengas itu terendam 2 meter.

Setelah sampai di lokasi sarang pertama, Sukarno memeluk cabang horizontal sehingga posisinya tertelungkup menghadap ke bawah. Kemudian ia menyalakan tunam dengan korek dan menggoreskannya di dekat sarang lebah hutan Apis dorsata. Percikan api turun beruntun. Bersamaan dengan jatuhnya api terdengar suara gemuruh. Itulah suara lebah yang meninggalkan sarang dan mengikuti arah api.

Menurut ahli lebah dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Kasno Kartosentono MSc, lebah menganggap percikan api sebagai musuh sehingga mereka mengejar. Mula-mula seekor lebah pekerja yang mengetahui munculnya percikan api mengeluarkan venom sebagai pertanda bahaya. Lebah-lebah pekerja lain yang jumlahnya ribuan ekor menangkap pesan itu sehingga pada saat bersamaan mereka serentak ‘mengusir musuh’. Ketika itulah terdengar suara gemuruh.

‘Setelah sampai di bawah, lebah-lebah akan berkumpul dan besok pagi kembali membangun sarang,’ kata warga Desa Gunungsahilan, Kecamatan Gunungsahilan, Kabupaten Kampar, Yos Rizal. Dalam lima tahun terakhir, Yos Rizal aktif memanen madu hutan. Kasno mengatakan bahwa memori lebah relatif kuat. ‘Dalam 1 – 2 hari lebah masih ingat lokasi sarang,’ kata Kasno.

Ketika lebah-lebah dewasa pergi meninggalkan sarang, barulah Sukarno memotong atau melepaskan sarang penuh madu dari dahan pohon dengan pisau kayu. Ia meletakkan sarang di dalam ember plastik. Setelah sebuah sarang selesai petik, ia berpindah dan mendekati sarang lain. Beberapa kali ayah satu anak itu menurunkan ember yang telah penuh sarang dengan tali. Gunawan atau Burhanuddin Itam yang menunggu di bawah, mengambil ember penuh sarang itu dan mengganti dengan ember kosong.

Wartawan Trubus menunggu panen di atas piau alias perahu kayu sepanjang 5 meter dan bagian terlebar 1 meter. Semakin ke depan dan semakin ke belakang, ukuran perahu itu kian menyempit. ‘Kita tak mungkin turun (ke daratan) karena air danau meluap,’ kata anggota staf Pengembangan Masyarakat World Wide Fund for Nature (WWF) Riau, Afri Yondra. Yos Rizal mengarahkan perahu hanya 1 – 2 meter dari tajuk pohon terluar. Di bawah pohon itu, sesekali wartawan Trubus ‘mencuri’ kesempatan memotret dengan kilatan cahaya.

Harap mafhum, para pemanen memang melarang memotret dengan kilatan untuk mencegah serangan lebah hutan yang ganas itu. Kata mereka cahaya memancing serangan lebah. Padahal, memotret pada malam hari di dalam hutan tanpa cahaya hampir mustahil. Langit yang semula kelabu berangsur-angsur berubah warna menjadi hitam. Yos Rizal yang semula tiduran di bagian depan perahu seharga Rp7,5-juta itu bangun, beralih ke belakang, dan menyalakan mesin. Hujan menderas.

Rizal mengarahkan perahu ke sebuah gubuk milik Marsilus di tepi danau, kira-kira 200 meter dari lokasi panen. Di gubuk itu kami berteduh. Tak lama berselang, Sukarno dan rekan-rekan juga tiba. ‘Di atas masih ada satu sarang,’ kata Sukarno. Malam itu ia menurunkan 15 sarang penuh madu dari sebuah pohon setinggi 20 meter. Pukul 22.05, setelah 20 menit menunggu, akhirnya hujan mereda sehingga pemimpin rombongan, Burhanuddin Itam, memutuskan pulang. Tiga perahu beriringan melayari Danau Kutobuang dan Sungai Kampar.

Namun, beberapa menit kemudian, hujan kembali menderas. Celakanya, perahu menabrak kayu yang hanyut di sungai sedalam 15 meter itu. Pada malam gelap dan dingin, Burhanuddin memperbaiki baling-baling yang patah. Ia memang telah mengantisipasi kejadian itu dengan membawa baling-baling cadangan. Di tengah guyuran hujan, waktu seperti lambat berjalan. Menjelang tengah malam kami mencapai daratan Gunungsahilan dan tiba di penginapan pada pukul 02.20.

Masyarakat Riau, khususnya di wilayah Taman Nasional Tesso Nelo, Kabupaten Pelalawan, terbiasa memanen madu pada malam hari. Mengapa? ‘Nenek moyang kami melakukannya begitu,’ kata anggota Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo, Ahmad Wazar. Madu-madu itu ada di pucuk pohon sialang yang tersebar di seantero rimba. Sebutan sialang merujuk pada pohon yang besar, hingga pelukan 8 orang dewasa dan tinggi (mencapai 50 meter). Jenisnya antara lain pohon kempas, kayu gadi, rengas, meranti, dan cempedak air.

Oleh karena itu masyarakat mudah mengenali pohon sialang karena tinggi menjulang. Menurut Rizky Ratna Ayu dari WWF Riau lebah hutan menjadikan sialang sebagai habitat karena merasa aman dari jangkauan predator seperti beruang madu. ‘Pohon-pohon itu cenderung mempunyai kulit licin sehingga predator sulit menjangkau sarang. Selain itu, kulit batang pohon sialang tak mengelupas seperti kulit kayu eukaliptus,’ kata Kasno.

Jika kulit pohon mengelupas, keruan saja menyebabkan sarang terlepas sehingga membahayakan lebah. Serangga sosial itu membuat sarang di percabangan bersudut 13 – 15o sehingga merasa nyaman. Selain itu dengan posisi lebih tinggi, lebah-lebah hutan lebih mudah mengamati sumber nektar. Sebab, pohon sialang pada umumnya tak memberikan nektar. Biasanya di sekitar sialang, terdapat sumber nektar yang merupakan sumber madu.

Warga yang menemukan pertama kali pohon sialang langsung mengklaim sebagai hak milik. ‘Mereka biasanya akan membersihkan area di sekeliling pohon atau memberi tanda tertentu di batang pohon,’ kata Syamsidar dari WWF Riau. Peraturan tak terulis berlaku di sana, orang lain terlarang mengklaim pohon yang telah bersih. Namun, hingga kini belum ada transaksi jual beli pohon sialang, meski warga mewariskan sialang kepada anak-anaknya. Kepemilikan sialang beragam, hingga 100 pohon per orang. Dari pohon-pohon itulah, mereka memanen madu.

Wazar alias Ical mengatakan panen madu pada malam hari ketika gelap. Itulah sebabnya saat purnama tiba, mereka tak pernah panen madu. Sebuah rombongan terdiri atas 3 – 5 orang dengan satu orang pemanjat yang menaiki pohon dengan tiga cara, yakni tangga kayu, tambang plastik, dan paku (baca: Tiga Cara Menuju Puncak halaman 106). Sebelum menentukan waktu panen, mereka survei dahulu. Indikasi sarang matang alias siap panen jika kepala madu tampak putih. Posisi kepala madu di bagian terluar dekat batang utama.

Produksi madu per pohon sangat tergantung pada umur pohon, kondisi pohon, ketersediaan nektar di sekitarnya. Produksi tertinggi mencapai 1 ton dari ratusan sarang di sebuah pohon. Oleh karena itu panen pun berlangsung semalam hingga pagi. Bahkan, pemanen melanjutkan pada malam berikutnya. Interval panen di sebuah pohon 1 – 1,5 bulan. Artinya, jika 1 Maret 2010 pemanjat memanen madu di sebuah pohon, maka panen berikutnya di pohon yang sama pada 1 April 2010.

Kini di beberapa daerah seperti di Kabupaten Kuantansengingi, panen berlangsung pada siang hari. Alasannya panen pada siang hari lebih aman karena tanpa rasa kantuk dan lebih mudah melihat kekuatan cabang pohon. Pemanjat pohon yang panen pada siang hari mengenakan pakaian rangkap empat untuk menghindari sengatan lebah. Selain itu pemanjat juga mengenakan sebo alias jaring penutup wajah. Menurut Lutfie, pergeseran waktu panen dari malam ke siang terjadi 10 tahun terakhir.

Menurut Kepala Desa Gunungsahilan, Masopian, pencurian madu hutan memang kian sering. ‘Pencurian karena masyarakat tak memiliki pekerjaan.’ Selain itu madu kini memiliki nilai ekonomi tinggi. Itu setelah WWF Riau membina para pemanen di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Menurut Koordinator Konservasi WWF Riau, Wishnu Sukmantoro, sejak akhir 2009 WWF melakukan pembangunan ekonomi alternatif dari madu. WWF membina masyarakat setempat dalam proses pengolahan madu secara higienis.

Dampaknya pemilik pohon sialang memperoleh nilai tambah makin besar. Jika sebelumnya harga jual madu hanya Rp14.000, kini meningkat menjadi Rp33.000 per kg. Itu karena kualitas madu meningkat. Malahan pada 2010, Asosiasi Petani Madu Tesso Nelo 3 kali mengekspor madu ke Malaysia. Volume ekspor masing-masing 1 ton. Tahun ini permintaan meningkat menjadi 3 ton per bulan. Importir dari Amerika Serikat juga minta pasokan. Itulah sebabnya Adi Purwoko mengajak masyarakat untuk melestarikan pohon sialang.

‘Percuma kita cari pasar, tetapi pohon sialang terancam. Oleh karena itu kita harus melestarikan pohon sialang,’ kata alumnus Fakultas Perikanan Universitas Riau itu dalam sebuah rapat di balai Desa Gunungsahilan. Betul, kata Burhanuddin, ‘Pohon sialang dapat meningkatkan kemakmuran.’ Ia berkisah, dulu kakeknya memetik madu hutan tiga bulan sekali. Madu sekadar untuk tambahan makanan. Namun, kini setiap bulan ia selalu ke pucuk pohon memetik madu.

Ketika wartawan Trubus bertandang ke rumahnya pada 27 Januari 2010, ia baru saja menjual 546 kg madu. Pengepul datang ke rumahnya, mengambil madu, dan membayar tunai. Dengan harga Rp30.000 per kg saja, ia mengantongi Rp18-juta. Benar-benar manis. Namun, pemanen madu seperti kehidupan ini, manis itu tercecap setelah berkeringat dan bersusah payah: memanjat pohon hingga 50 meter, penuh risiko karena tanpa pengaman dan asuransi kecelakaan. (Sardi Duryatmo)

 

 

  1. Pemanen mengiris sarang untuk mengeluarkan madu
  2. Terdapat 16 sarang di pohon rengas ini
  3. Eksplorasi panen madu hutan melalui Sungai Kampar Kiri, Riau
  4. Tunam dari kulit kayu jangkang
  5. Percikan api dari atas pohon bersumber dari tunam
  6. Pemrosesan madu hutan untuk memasok pasar ekspor
  7. Lebah hutan Apis dorsata
  8. Bangris Koompasia sp salah satu jenis pohon sialang
  9. Produk sampingan sarang lebah hutan
  10. Madu sialang menjadi merek kebanggaan masyarakat di sekitar Taman Nasional Tesso Nelo

 

 

Sialang Sial

Pohon sialang berperan penting dalam perekonomian warga di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Bayangkan dari sebuah pohon, pemanen mampu memperoleh hingga 700 kg, bahkan pernah 1.000 kg madu. Saat ini harga jual madu di tingkat petani Rp33.000 per kg. Oleh karena itu World Wide Fund for Nature (WWF) Provinsi Riau mendorong warga untuk melindungi pohon sialang. Anggota staf Pengembangan Masyarakat WWF Riau, Adi Purwoko, misalnya menganjurkan para pemilik pohon sialang untuk menetapkan denda bagi pencuri madu dan penebang sialang.

Di Kabupaten Kuantansengingi, warga menetapkan denda Rp100-juta bagi pencuri. Setahun terakhir pencurian madu sialang memang meningkat. Dengan kebijakan itu Adi berharap kelestarian pohon sialang makin terjaga. Harap mafhum, sialang kini makin terancam. Lutfie dari WWF Riau, mengatakan di Logas Tanah Darat, Kuantansengingi, warga menebang sialang untuk perahu. “Setiap Agustus warga mengadakan pacu jalur (lomba balap perahu, red),” kata Lutfie.

Alih fungsi hutan yang kian marak juga mengancam sialang. Adi Purwoko dari WWF Riau mengatakan, “Dalam 25 tahun hutan di Riau hilang 4-juta ha atau 65% dari total luas hutan.” Pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) memang mempertahankan sialang. Itu tampak dalam perjalanan ke Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. Pemegang HPH membuka hutan untuk budidaya akasia dan memang tetap mempertahankan keberadaan sialang. Namun, lebah hutan enggan bersarang di pohon sialang yang tumbuh sendirian, tanpa pohon di sekelilingnya. Selain itu sialang “bernasib sial” itu juga rentan mati jika tumbuh sendirian. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img