Trubus.id—Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan model pengolahan sampah organik terpadu berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF), bank sampah, dan ayam petelur di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung. Program bertajuk Dari Sampah Menjadi Gizi itu menjadi salah satu upaya menghadirkan solusi pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Melalui sistem tersebut, sampah organik diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi, S.T., M.T., mengatakan program itu lahir dari inovasi para dosen ITB yang kemudian didukung melalui pendanaan dan pengorganisasian oleh DPMK. Menurut dia, pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama program pengabdian masyarakat ITB pada 2026. Selain di Pasirlayung, pengembangan program serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah lain di Kota Bandung.
Pelaksana program, Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, M.S., mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan sampah di Kota Bandung. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah harus dimulai dari hulu, yakni rumah tangga sebagai sumber utama timbulan sampah. Karena itu, tim mengembangkan sistem yang mampu mengolah sampah organik secara langsung di lingkungan warga.
Salah satu komponen utama sistem itu ialah budidaya maggot BSF. Larva lalat tentara hitam tersebut mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien. Selain itu, maggot yang telah tumbuh dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ayam dan ikan.
Untuk menyesuaikan dengan keterbatasan lahan perkotaan, tim mengembangkan instalasi vertikal berbentuk apartemen empat tingkat. Bagian paling atas digunakan untuk kandang ayam, diikuti biopond maggot, kemudian kandang ayam kembali, dan biopond maggot pada bagian paling bawah. Sistem itu memungkinkan kotoran ayam langsung dimanfaatkan maggot sehingga tidak menimbulkan bau yang mengganggu lingkungan.
“Ketika maggot sudah besar, maggot bisa diberikan kembali sebagai pakan ayam. Hasil akhirnya berupa daging dan telur yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk kegiatan di kampung, pemenuhan gizi, dan pencegahan stunting melalui posyandu-posyandu sekitar,” ujar Linus.
Instalasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan sampah organik hingga sekitar 300 kg per hari. Saat ini pasokan sampah organik dari lingkungan sekitar baru mencapai 50—75 kg per hari. Kondisi itu menunjukkan sebagian besar sampah organik warga telah terserap dan dimanfaatkan oleh sistem pengolahan yang tersedia.
Program yang mulai berjalan sejak April—Mei 2026 itu melibatkan warga secara aktif. Karang taruna dan kelompok warga yang dikenal sebagai Anak Buah Kandang (ABK) turut membantu pemberian pakan serta pengelolaan harian instalasi. Fasilitas tersebut juga telah memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi untuk penerangan dan pompa air.
Menurut Linus, program itu dikembangkan secara multidisiplin dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan. Selain dirinya dari FMIPA ITB, kegiatan tersebut juga melibatkan Dr. Raden Aswin Rahadi, S.T., MBA., dari SBM ITB serta mahasiswa program sarjana dan pascasarjana. Kolaborasi itu memungkinkan pengembangan sistem yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi.
Ke depan, tim berencana mengembangkan hasil budidaya maggot menjadi bahan baku pelet pakan. Dengan cara itu, maggot tidak hanya dimanfaatkan secara langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi. Sementara itu, bank sampah tetap berperan mengelola sampah anorganik, sedangkan sampah organik diproses melalui sistem budidaya maggot.
Ketua RW 02 Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, mengatakan pengelolaan sampah organik di wilayahnya telah dimulai melalui penyediaan drum komposter di setiap RT. Pada 2026, upaya tersebut diperkuat melalui program GASLAH atau Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah dari Pemerintah Kota Bandung. Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan urban farming warga.
Menurut Rahayu, kolaborasi dengan Linus telah berlangsung sejak pengembangan drum komposter. Kerja sama itu kemudian berkembang menjadi budidaya maggot dan ayam petelur yang kini dipusatkan di Bersemi Farm. Ia berharap program tersebut dapat terus berjalan sebagai solusi berkelanjutan untuk mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
Melalui program Dari Sampah Menjadi Gizi, ITB menunjukkan bahwa sampah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Dengan memadukan teknologi sederhana, partisipasi warga, dan prinsip ekonomi sirkular, sistem tersebut mampu mendukung lingkungan yang lebih bersih sekaligus menghasilkan sumber pangan bergizi bagi masyarakat.
