Sukun menjadi salah satu tanaman buah yang dapat menghasilkan pendapatan dengan perawatan relatif minim. Di Cilacap, Jawa Tengah, Suharsono mengandalkan pohon sukun warisan keluarga yang telah ditanam ayahnya sejak 1980-an.
Tanaman sukun dikenal cukup bandel dan tidak banyak menghadapi gangguan hama. Kondisi itu membuat Suharsono tidak perlu mengandalkan obat-obatan maupun pupuk kimia untuk mempertahankan produktivitas pohonnya.
Kini, enam pohon sukun yang masih produktif mampu menghasilkan panen sekitar 200 buah setiap pekan. Dari hasil tersebut, potensi omzet yang diperoleh lebih dari Rp1 juta per pekan.
Suharsono mempertahankan tanaman sukun tersebut sebagai sumber penghasilan keluarga. Pohon yang awalnya ditanam sebagai bagian dari warisan keluarga itu kini berkembang menjadi komoditas dengan pasar yang lebih luas.
Perbanyakan tanaman sukun dilakukan menggunakan tunas akar. Teknik tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan tanaman baru dari bagian akar pohon yang sudah ada.
Pemanenan buah dilakukan menggunakan galah. Petani perlu mengenali ciri buah yang telah siap dipanen agar sukun dapat dipetik pada waktu yang tepat.
Pasarnya pun tidak hanya berada di sekitar Cilacap. Sukun hasil panen Suharsono dipasarkan hingga Jakarta dan Bandung, menunjukkan adanya permintaan terhadap komoditas tersebut di luar daerah produksi.
Kisah Suharsono memperlihatkan bahwa pohon sukun yang telah tumbuh puluhan tahun dapat menjadi aset produktif keluarga. Dengan enam pohon produktif, panen mingguan hingga 200 buah dan perawatan minim, sukun berpotensi menjadi sumber pendapatan yang menarik bagi petani.
