Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi digital watermarking untuk melindungi data tanaman obat. Teknologi tersebut menjadi bagian dari platform komputasi privasi yang dikembangkan Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN untuk mendukung penyaringan virtual dan penemuan obat berbahan alam.
Pengembangan teknologi dilakukan melalui kolaborasi BRIN dengan Shenzhen Institute of Advanced Technology, Chinese Academy of Sciences. Kolaborasi itu memungkinkan pertukaran data bahan alam obat dengan dukungan sistem yang menjaga keamanan, otentikasi, dan hak cipta data.
Peneliti menggunakan digital watermarking dengan metode yang kuat dan adaptif. Watermark berfungsi sebagai penanda yang disisipkan ke dalam data sehingga informasi mengenai data tanaman obat tetap dapat dilindungi dan diverifikasi.
Dalam prosesnya, data teks mengenai bahan alam obat menjadi objek penyisipan watermark. Peneliti melakukan embedding, yaitu memasukkan data watermark ke dalam data teks yang akan dilindungi.
Setelah itu, dilakukan proses ekstraksi untuk mengetahui apakah watermark yang disisipkan masih dapat dikenali. Peneliti mengukur kualitas dan robustness atau ketahanan watermark menggunakan normalized correlation coefficient (NCC).
Pengukuran tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara watermark hasil ekstraksi dan watermark asli. Hasil pengujian menjadi dasar untuk menilai efisiensi metode yang dikembangkan serta kemampuannya mempertahankan informasi penanda pada data.
Teknologi komputasi privasi itu diharapkan dapat diterapkan dalam pertukaran data penting, khususnya data tanaman dan bahan alam obat. Perlindungan tersebut menjadi penting seiring meningkatnya pemanfaatan data digital dalam riset penyaringan virtual dan penemuan kandidat obat.
Melalui teknologi watermarking, BRIN berupaya menjaga keamanan data riset tanpa menghambat pemanfaatannya untuk kolaborasi. Inovasi itu diharapkan mendukung pertukaran data bahan alam obat secara lebih aman dan terpercaya.
