Trubus.id—Bisnis peternakan domba memiliki beberapa segmentasi. Peternakan modern yang terintegrasi dengan konsep wisata edukasi milik Nuur Muhammad Ahkam memiliki kegiatan pembibitan (breeding), penggemukan (fattening), serta jual dan beli (trading) sesuai permintaan.
Peternakan domba di Desa Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat itu memilih domba garut karena unggul secara genetik dan berharga tinggi sehingga mendatangkan keuntungan.
Menurut Ahkam penghasilan rutin berasal dari sektor pembibitan. Saban bulan ia memasarkan 4—5 ekor atau puncaknya 10—20 domba berumur 3—4 bulan. Harga bibit domba Rp800.000—Rp1 juta untuk betina, sedangkan jantan Rp1,3 juta—Rp2 juta.
“Bibit itu pasti terserap karena di sektor hulu. Sementara peternakan di Indonesia rata-rata mengarah ke hilir,” ujar chief executive officer (CEO) Bodogol Edu Farm itu.
Sementara usaha penggemukan untuk pasar kurban. Lazimnya ia menggemukkan domba jantan selama 3 bulan dan panen saat bobot 25—40 kg atau sesuai permintaan.
Harga domba kurban Rp2,5 juta—Rp3,5 juta per ekor sesuai grade. Domba grade A (bobot 35—40 kg) Rp3,5 juta—Rp4 juta per ekor atau Rp100.000—Rp120.000 per kg.
“Saat kurban 2024 terjual sekitar 90 domba jantan,” ujar Ahkam. Pemasaran hewan kurban secara langsung dan daring melalui website.
Ahkam memberikan pakan tinggi protein (16— 19%) untuk penggemukan. Tujuannya agar mencapai pertambahan bobot badan harian (PBBH) 3—7 kg.
Ia memberikan pakan lengkap (complete feed) yang terdiri dari silase fermentasi seperti odot dan pakchong serta pakan berupa konsentrat racikan sendiri.
Konsentrat biasanya terdiri dari 8 bahan seperti bonggol jagung, limbah kulit kopi, dan limbah bungkil kopra. Pemberian pakan complete feed 8—15% dari bobot badan domba pada fase penggemukan.
Bodogol Edu Farm menggunakan kandang sistem terkoleksi—dapat memisahkan serta mengumpulkan urine dan feses ternak—panggung setinggi 2 meter.
Kandang itu mempermudah pembersihan kotoran hewan (kohe). Selain itu meminimalisir amonia yang berpotensi menganggu kesehatan ternak. Kohe domba ia jual kembali dalam bentuk mentah dan fermentasi.
“Sehari dapat menghasilkan 3—3,5 ton kohe basah,” ujar Ahkam.
Harga kohe Rp500—1.500 per kg. Kohe itu juga ia gunakan untuk pupuk di lahan hijauan dan demplot ragam sayuran dan buah, serta untuk biogas. Ia juga menghasilkan dan menjual urine domba fermentasi seharga Rp500—Rp1.500 per liter.
Artinya Bodogol Edu Farm telah menerapkan manajemen pengolahan limbah. Ahkam menjelaskan bahwa Bodogol Edu Farm juga membuka pembelajaran mulai dari kunjungan untuk taman kanak-kanak hingga orang dewasa (wisata edukasi).
Ia aktif membuka pelatihan melalui Sekolah Ternak Muda Indonesia sejak 2021 dengan jargon belajar dulu juragan kemudian. Biaya investasi kegiatan Rp300.000— Rp500.000 untuk kelas secara langsung (offline) dan Rp150.000—Rp250.000 secara daring (online).
“Total sudah sekitar 200 alumni,” ujar Ahkam.
Total jenderal ia meraup omzet Rp500 juta—Rp800 juta per tahun dari semua lini bisnis peternakan modern terintegrasi itu. Ahkam juga mendampingi tujuh kelompok pertanian dan peternakan di Kabupaten Sukabumi.
