Tuesday, November 29, 2022

Supaya Kecantikan Caladium Terus Bertahan

Rekomendasi

Tiga pot caladium berdaun bulat berwarna merah di halaman depan rumah seorang hobiis di Depok, Jawa Barat, itu tampak merana. Satu per satu daun anggota famili Araceae itu menguning, mengering, dan akhirnya gugur. Tak satu pun daun baru muncul menggantikan yang mati. Penyiraman cuma 2 kali seminggu di musim kemarau diduga jadi musababnya.

Kondisi berbeda pada caladium koleksi Muhammad Munir di Bambuapus, Jakarta Timur. Kerabat aglaonema itu memamerkan keindahan daunnya sepanjang tahun. ‘Kuncinya supaya daun baru selalu muncul, media harus lembap,’ kata ayah satu anak itu. Di musim kemarau, selain menyiram setiap hari Munir memberi tatakan air di bawah pot. Dengan begitu media selalu lembap.

‘Caladium tidak berdaun dan tinggal umbi saja karena mengalami kondisi stres,’ kata Yos Sutiyoso, praktisi tanaman hias di Jakarta. Gunawan Widjaja, pemain tanaman hias di Sentul, Bogor, menyebutnya masa dormansi. Maksudnya, caladium berada dalam kondisi istirahat panjang. Saat itu tak ada pertumbuhan vegetatif sama sekali. Artinya tidak ada daun indah yang dipamerkan. Lazimnya masa dormansi berlangsung selama 4-5 bulan.

Di alam, peristiwa dormansi merupakan cara caladium untuk bertahan hidup dalam kondisi kemarau panjang. Pada musim kemarau, kelembapan lingkungan dan tanah tempat tumbuh berkurang. Menurut Yos kelembapan udara pada penghujan rata-rata 85-95%; kemarau, 40-50%. Berkurangnya kelembapan udara diiringi berkurangnya kelembapan media tumbuh karena air yang ada di media menguap sehingga media kering.

Padahal supaya pertumbuhan vegetatif baik, caladium butuh kelembapan udara di atas 70% dan kondisi tanah lembap. Makanya daun caladium biasanya rimbun di musim hujan. Di tangan hobiis, dormansi terjadi karena kekurangan air, zat hara, atau salah penggunaan media.

Media

Menurut Dr Benny Tjia, praktisi tanaman hias di Bogor, caladium termasuk tanaman aroid yang senang air. Air dibutuhkan untuk pertumbuhan vegetatif. Tak ada rumus pasti untuk mengukur kebutuhan air caladium. Sebagai patokan kelembapan udara di atas 70% dan media selalu dalam kondisi lembap. Bila media kering kerabat aglaonema itu mengalami istirahat panjang.

Jadi, kebutuhan air praktis sepanjang umur hidup caladium. Oleh karena itu pilih media yang bisa menahan banyak air, seperti cocopeat atau kompos yang dicampur dengan arang sekam dengan perbandingan 1:1. ‘Pokoknya yang banyak bahan organiknya,’ kata guru besar University of Florida, Amerika Serikat, itu.

Cocopeat sanggup menahan air 50-75% dari volumenya. Lama penyimpanan tergantung cuaca. Pada musim kering cocopeat mampu menyimpan air selama 1-3 hari. Musim hujan, bisa sampai 4-7 hari. Sedangkan kompos, menyimpan air 50% dari volumenya yang bertahan selama 3 hari tergantung kondisi lingkungan.

Gunawan Widjaja menggunakan media humus andam. Daya serap humus cukup tinggi, 80-90% dari bobotnya. Dengan begitu, media tetap lembap sehingga caladium tak dorman. Ciri media lembap terasa basah jika tangan dimasukkan, tapi air tidak sampai menggenang.

Pada kemarau, kelembapan berkurang karena curah hujan sedikit dan matahari bersinar terang sehingga air di udara menguap. Kekurangan air diatasi dengan menaikkan frekuensi penyiraman. Gunawan menyiram 3-4 kali per hari, pada penghujan cukup 2 kali per hari. Cara lain, meletakkan alas berisi air di bawah pot.

Selain media tunggal, media campuran juga bisa dipakai dengan catatan mampu menahan air. Slamet Giono, staf nurseri Adelia, menggunakan media jadi yang terdiri dari campuran cocopeat, sekam bakar, pakis, dan pupuk kandang. Selain mampu menyimpan air secara baik, media tanam seperti itu juga bersifat gembur. Media tanam yang terlalu keras dan padat bisa memicu caladium dorman.

Kurang hara

Kekurangan hara penyebab lain caladium mengalami dorman. Itu yang terjadi pada salah satu caladium milik Munir. Akibat media asam, pupuk cair yang mengandung unsur NPK seimbang tak bisa diserap tanaman secara optimal. Padahal unsur nitrogen berperan dalam pembentukan sel dan jaringan di dalam tanaman. Fosfor mendorong pertumbuhan akar dan kalium memperkuat jaringan sehingga daun tidak mudah rontok. Akibat kekurangan hara, daun caladium kuning, layu, dan mati. Daun baru pun tak mau keluar.

Menurut Benny pupuk yang bisa digunakan antara lain yang berkadar N tinggi. Unsur N memacu pertumbuhan vegetatif. Jenis anorganik seperti Growmore, Hyponex, Dekastar, atau Osmokot. Kebutuhan hara juga didapat dari bahan organik. Humus andam mengandung N tinggi. Miseliumnya terdiri dari lignin, poliuronida serta unsur C, H, O, S, dan P. Bahan organik itu juga mampu meningkatkan ketersediaan Ca, Mg, dan K yang dibutuhkan tanaman. Akibatnya, caladium koleksi Gunawan yang ditanam dengan media humus andam cepat berakar dan terus mengeluarkan daun.

Dorman vs ukuran umbi

Masa dormansi sebenarnya tak selamanya merugikan. Sebab, saat itu mata-mata tunas sedang memperbanyak diri. Sayangnya, makin besar ukuran umbi masa dorman semakin lama.

Oleh karena itu masa dorman dihindari hobiis. ‘Keindahan caladium ada di daun, begitu daun hilang berarti hilang juga keindahannya,’ kata Dr Surawit Wannakrairoj, asisten profesor bidang bioteknologi di Departemen Hortikultura, Kasetsart University, Bangkok, Thailand.

Untuk mempersingkat waktu tidur, Munir mengatasi dengan cara repotting. Umbi caladium dikeluarkan dari dalam pot, lalu dibersihkan dari media yang menempel. Sebelum ditanam, umbi direndam dulu dalam larutan perangsang akar berdosis 2 ml/l air selama 15 menit. Setelah itu dikeringanginkan sebelum direndam larutan fungisida selama 15 menit. Umbi ditiriskan dan ditanam dalam media tanam baru yang banyak mengandung bahan organik.

Munir menggunakan media campuran arang sekam, cocopeat, dan humus andam masing-masing satu bagian. Dengan begitu, tunas caladium tumbuh 2 minggu kemudian. Caladium pun kembali tampil memikat. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syariefa)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img