Monday, November 28, 2022

Secantik Codiaeum Negeri Siam

Rekomendasi

Decak kagum kembali terulang waktu foto lain disodorkan. Kali ini Lastini Chandra-kolektor puring di Jakarta Timur-yang terpesona melihat croton berdaun lebar bertumpuk seperti mahkota mawar. Warna dasar hijau dengan totol-totol kuning-mirip jenis pertama-tapi ukuran totol-totol kecil.

Pemilik nurseri Ladika Flora itu juga terkagum-kagum waktu melihat sosok anggota famili Euphorbiaceae yang berdaun lancet dengan paduan warna hijau gelap di dekat tulang utama dan kuning cerah di tepi daun. Bentuknya kompak dan warnanya berpadu teratur. Dari kejauhan sosoknya laksana bintang. Melihat penampilan apik puring-puring itu, Lastini berujar, ‘Ini hasil silangan Thailand ya?’

20 tahun

Tak salah bila Lastini menduga begitu. Hasil pelacakan Trubus ke negeri Siam, banyak croton menarik ditemukan. Mulai dari puring apel berdaun bulat berwarna hijau dan merah, puring dengan motif mirip karapas kura-kura, sampai puring berdaun spiral.

Namun, puring-puring yang Trubus abadikan di Malang bukan asal Thailand. Tanaman berdaun indah itu asli silangan hobiis di negeri Swiss Kecil itu. Pantas waktu Trubus membuka-buka buku jenis-jenis croton Thailand terbitan 2000, tidak ditemukan foto si totol-totol dan laksana bintang. Dari 80 jenis yang ada, hanya 4 jenis yang mirip si totol. Itu pun daunnya bulat. Sementara kembaran si bintang tidak ada.

Si totol-totol dan laksana bintang yang disebut di atas hanyalah 3 jenis di antara 230 silangan koleksi nurseri Karlo. Adalah Lily Fayani-si empunya-bersama-sama Irwan Wulung, almarhum suami, dan Suharto-pegawai senior yang mengawin-ngawinkan kerabat bunga delapan dewa itu sejak 20 tahun silam.

Itu bermula dari kegemaran Irwan membawa oleh-oleh tanaman dari mancanegara sepulang berlayar. Di antaranya puring asal Thailand dan Benua Amerika. Dari hasil perjalanan bertahun-tahun, kapten kapal itu memiliki 50 jenis. Dari sana mulailah Irwan, Lili, dan Suharto menyilang-nyilangkan koleksi.

Tunggu dewasa

Tanaman dewasa berumur minimal 2 tahun siap dikawinkan. Bunga majemuk jantan dan betina muncul berbaris pada malai yang berbeda. Saat matang, benangsari pada bunga jantan mekar dan ujungnya lengket. Saat itulah bunga jantan siap dikawinkan. Tinggal cari bunga betina yang siap diserbuki. Tandanya, bunga betina yang semula menguncup akan membuka.

Bunga jantan dipetik dari malai dan dioleskan perlahan pada ujung bunga betina. Agar tak terkena air hujan atau air siraman, bunga betina yang telah diserbuk disungkup plastik. Selang seminggu, 15-25 buah terbentuk dalam satu malai. Buah matang dan rontok setelah satu bulan. Disemailah biji di media pasir malang dan disimpan di tempat teduh. Seminggu kemudian, tanaman setinggi 5 cm dan bisa dipindahkan ke dalam pot kecil. Tunggu 2,5 tahun, puring dengan batang sebesar telunjuk setinggi 20 cm siap dicangkok.

Lastini dan Rosyid salut dengan keuletan Lily dan Suharto menyilangkan puring. Maklum di tanahair mereka mungkin satu-satunya. Menyilang puring jarang dilakukan karena banyak yang tidak tahu caranya. Selain itu dibutuhkan kesabaran menunggu hasilnya selama 2,5 tahun.

Mutasi

Berbeda dengan di Thailand. Di sana banyak orang seperti Lily. Makanya selalu muncul puring-puring baru. Salah satunya Prof Surasak Uamprig atau Keaw. Wartawan Trubus, Rosy Nur Apriyanti, menyaksikan sendiri cara silang ala Thailand sama persis dengan cara Lily. Keaw yang menekuni puring selama 20 tahun menghasilkan ratusan jenis puring cantik yang diperbanyak di kebun seluas 18 rai setara dengan 2,9 ha. Salah satunya adalah pet pinyo berwarna hijau dan kuning dengan bentuk daun melintir membentuk spiral. Yang lain chakri narubate berdaun lebar memanjang dan melintir, ehnao daun berbentuk hati dengan ujung runcing dan corak istimewa, praguy pet, dan lak muang.

Penampilan baru puring sebetulnya tak melulu hasil perkawinan. Abdul Rosyid memiliki croton berbatang kristata. Itu hasil mutasi dari puring berdaun panjang. ‘Puring mudah bermutasi,’ kata Lastini.

Menurut Dr Ir Syarifah Iis Aisyah, MSc.Agr, tanaman yang secara alami relatif mudah mengalami mutasi tergolong dalam khimer group. Tanaman dalam kelompok itu biasanya mengandung sifat-sifat poligen atau satu sifat dikendalikan oleh banyak gen. Jika satu gen berubah, maka variasi sifat itu dengan mudah berubah pula. ‘Ada kemungkinan puring masuk kelompok itu, tapi perlu penelitian lebih mendalam tentang genetikanya,’ kata peneliti dari Institut Pertanian Bogor itu. Dari mutasi dan perkawinan, lahirlah jenis-jenis puring baru berpenampilan istimewa. (Nesia Artdiyasa/ Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img